Bab Ketujuh Puluh: Kebangkitan Gila Barkley
Baik itu ketika Kobe mencetak angka tinggi, ataupun saat He Xinghui saling beradu kata dengan jurnalis seusai pertandingan, semua itu hanyalah hidangan pembuka sebelum sajian utama. Meski ada yang membicarakannya, mayoritas penggemar tetap menantikan laga esok hari saat Clippers menjadi tuan rumah menghadapi Lakers.
Saat laga ini benar-benar menjadi perbincangan hangat, Sterling yang tak punya rasa malu langsung menaikkan harga tiket secara drastis. Posisi di sudut yang semula seharga dua puluh dolar, kini melonjak menjadi empat puluh dolar. Tempat duduk di barisan belakang dan tengah juga naik dua kali lipat. Namun, kenaikan terbesar terjadi pada kursi barisan depan. Tempat yang tadinya bisa didapatkan dengan beberapa ribu hingga sepuluh ribu dolar, kini dibanderol lima puluh ribu dolar.
Bagi beberapa selebritas kecil, jumlah ini tentu merupakan pengeluaran yang besar. Perlu diketahui, honor Charlize Theron saat ini saja hanya sekitar sepuluh juta dolar Amerika, itu pun sebelum dipotong pajak. Di seluruh Hollywood, aktris yang setara dengannya pun tak sampai lima orang. Lima puluh ribu dolar, jika dipakai sekadar bersenang-senang, jelas jumlah yang sangat besar. Namun, sebagai anggaran promosi, ini justru terbilang murah.
Laga ini disiarkan langsung secara nasional, bahkan di Tiongkok pun akan ditayangkan, dengan jumlah penonton yang bisa mencapai puluhan juta orang. Muncul di barisan depan, menampilkan wajah di layar kaca, lima puluh ribu dolar itu pun jadi terasa sepadan. Apalagi jika bisa duduk di samping Charlize dan beberapa kali tertangkap kamera—itu akan jauh lebih sempurna.
Setelah aksi Sterling itu, harga rata-rata tiket pertandingan ini mencapai seratus dua puluh dolar per lembar. Padahal, saat itu, rata-rata tiket liga hanya empat puluh tujuh dolar. Itu pun berkat kontribusi Knicks dan Lakers; jika kedua tim itu diabaikan, rata-rata harga tiket tim lain tak sampai empat puluh dolar.
Tindakan Sterling ini jelas membuat reputasinya kian buruk. Tapi meski banyak yang mengeluh, tetap saja yang ingin merasakan atmosfer laga tetap rela merogoh kocek lebih dalam. Bahkan, tak lama kemudian sebagian penggemar justru menyadari bahwa punya uang pun belum tentu bisa mendapatkan tiket. Semua tiket sudah habis diserbu, hanya tersisa di pasar gelap.
Mendengar kabar ini, Stern, Silver, dan yang lain pun tersenyum puas. Bagi penggemar, NBA adalah pertarungan penuh gairah; bagi Stern dan koleganya, NBA adalah mesin uang. Mereka terus-menerus memanaskan isu perseteruan O’Neal-Kobe, empat shooting guard utama, sang Pangeran Muda, Derby Los Angeles, dan lainnya—semua demi menciptakan topik dan menarik lebih banyak penggemar.
Kini, tanpa perlu bersusah payah, He Xinghui sendiri yang menjadi magnet popularitas. Andaikan seluruh pemain di liga seperti He Xinghui, Stern cs bisa santai menghitung uang.
“Ingatkan wasit, bintang utama pertandingan kali ini adalah He Xinghui dan Kobe,” ujar Stern secara khusus pada Silver, yang langsung paham maksudnya. Dengan pengingat itu, wasit pun tidak akan sembarangan meniup peluit untuk dua pemain tersebut. Tak mungkin memancing penonton datang lalu menyuguhkan pertandingan yang membosankan.
“Aku cuma khawatir kemampuan He tak cukup, nanti malah dijadikan bulan-bulanan Kobe sendiri,” ungkap Silver, cemas kalau perbedaan kekuatan keduanya terlalu besar sehingga duel tak jadi seru. “Aku rasa kau terlalu khawatir. Meski He kadang suka bicara besar yang terkesan bodoh, di lapangan dia selalu cerdas. Kalau dia berani memanaskan suasana seperti ini, pasti dia punya bekal,” jawab Stern.
Malam tanggal tujuh, siaran TNT.
Barkley dan Smith.
“Ayo, Kenny, pikirkan, ini kan seru,” ujar Barkley, mengajak Smith bertaruh sebelum pertandingan dimulai. Barkley berusaha membujuk Smith agar mau bertaruh siapa yang mencetak poin lebih banyak, Kobe atau He Xinghui, dan yang kalah harus memakai pakaian wanita di siaran berikutnya.
Sayang, Smith tidak terpancing. Meski di acara dia berperan sebagai penggemar He, dalam hati ia juga tidak yakin He Xinghui bisa memenangkan taruhan ini. Berdasarkan rekor sejarah, Kobe jelas jauh lebih meyakinkan.
“Aku tak seaneh seleramu, lebih baik kau tantang He saja. Bukankah dia pernah bilang suka bertaruh denganmu saat wawancara? Kurasa dia takkan menolak,” ujar Smith, cepat-cepat melempar masalah ini ke He Xinghui.
Mata Barkley langsung berbinar, senyum nakal menghiasi wajahnya. Jika bisa membuat He Xinghui mengenakan pakaian wanita, tentu jauh lebih menarik daripada Smith. Maka, tanpa basa-basi, ia langsung mengeluarkan ponsel dan menelepon He Xinghui.
...
“Charles, kau kecanduan pakai baju wanita, ya?” Setelah mendengar ajakan Barkley, He Xinghui tak bisa menahan diri untuk bercanda. Di kehidupan sebelumnya, ia belum pernah dengar Barkley punya kegemaran aneh seperti ini. Bisa jadi, pengalaman sebelumnya telah membuka dunia baru bagi Barkley, hingga ia sulit melepaskannya.
“Jangan banyak omong, kalau kau laki-laki terimalah tantanganku,” kata Barkley.
He Xinghui sampai terheran-heran, masa kalau tidak saling ‘menyakiti’ dengan Barkley berarti bukan pria sejati?
“Baiklah, kalau kau suka, aku akan tanya pada rekan timku, mereka ingin kau berpakaian seperti apa,” jawab He Xinghui sambil tersenyum. Satu karakter ‘mulut besar’ saja sudah menarik, apalagi jika bisa menambahkan Barkley sebagai ‘bos pakaian wanita’—itu pasti lebih seru.
“Hei, teman-teman, Barkley mau bertaruh lagi tentang pakaian wanita. Kalian ingin lihat dia pakai apa, seragam perawat atau pakaian profesional?” teriak He Xinghui pada rekan-rekannya.
Hahaha...
Begitu mendengar ada hal seru seperti ini, Kaman dan yang lain langsung bereaksi. “Gaun pengantin!” sahut Kaman. “Seragam pembantu!” timpal Cassell. Yang paling ekstrim adalah Mobley, “Bagaimana kalau bikini?”
Mendengar usulan itu, semua orang menahan napas, lalu ruang ganti pun dipenuhi gelak tawa. He Xinghui membayangkan Barkley memakai bikini, buru-buru menggeleng, berusaha mengusir bayangan mengerikan itu.
“Seragam pembantu saja, Charles,” ucap He Xinghui, demi mengurangi beban kerja dokter mata di Amerika, ia putuskan untuk tidak terlalu ekstrem. Bikini jelas terlalu berlebihan, bisa merusak moral.
“Baik, sudah sepakat, aku sedang live sekarang, jangan coba-coba mengelak!” tawa Barkley pecah. Akhirnya bisa membalas kekalahan, ia sangat senang.
“Charles, bukankah kau terlalu cepat senang?” sindir Smith. “Tidak, kali ini aku pasti menang!” jawab Barkley penuh keyakinan. Tapi Smith merasa pemandangan ini seperti déjà vu. Ia ingat, dulu waktu Barkley yakin Yao Ming tidak akan mencetak sembilan belas poin, ekspresinya juga seperti ini. Akankah keajaiban terulang?
Smith mengaku sangat menantikan. Para penggemar yang menyaksikan siaran langsung TNT juga tak sabar. Kali ini taruhan berubah menjadi seragam pembantu, yang lebih ‘berani’ daripada gaun wanita biasa. Selain itu, mereka kini punya peluang besar untuk melihat He Xinghui memakai seragam pembantu. Dibandingkan Barkley yang sudah pernah tampil berbusana wanita, para penggemar sebenarnya lebih ingin melihat He Xinghui dalam seragam pembantu. Bahkan para penggemar berat sekalipun tak bisa menahan rasa penasaran.
Ayo mulai saja pertandingannya, kami sudah tak sabar lagi. Begitulah suara hati para penggemar.