Bab Lima Puluh: Murid Murahan
Dalam keraguan yang singkat, tujuh atau delapan makhluk air yang tersisa melihat senjata di tangan Lin Zhan Nan begitu buas, dan merasa tidak ada keuntungan jika melawan dia. Maka mereka mengalihkan sasaran kepada diriku. Tubuh-tubuh mereka berbalik, mengerang liar seperti binatang buas, menyerangku dengan keganasan luar biasa. Wajah-wajah mereka menyeringai garang, taring-taring tampak jelas, seolah-olah aku sudah menjadi santapan mereka, atau mungkin saja mereka melampiaskan dendam terhadap Lin Zhan Nan kepadaku.
Aku melirik ke samping, Lin Zhan Nan masih berdiri di tempatnya dengan kedua tangan bersilang di belakang punggung, tampak seperti seorang pemimpin yang tengah menginspeksi bawahannya. Kedua senjata di tangannya sudah menghilang entah ke mana, jelas ia tak berniat turun tangan, sepertinya ingin melihat apakah aku mampu membasmi makhluk-makhluk air ini dengan kekuatanku sendiri.
Sejak menguasai kemampuan dari sembilan hukum rahasia Senjata Leluhur Tiangang, aku hanya pernah menumpas Nenek Chen dan beberapa makhluk jahat di tanah tandus, belum pernah bertemu lawan lagi. Kini berhadapan dengan makhluk air yang ganas dan berjumlah banyak, aku pun tak yakin bisa melenyapkan semuanya.
Namun, harga diri seorang lelaki sudah ada sejak dalam kandungan. Aku tak mau Lin Zhan Nan menganggapku pengecut!
Dalam sekejap, satu makhluk air telah melesat ke hadapanku. Ia mengayunkan kedua cakar tajam ke arah dadaku. Kuku-kuku mereka sepanjang dua hingga tiga sentimeter, jika menembus kulit, mungkin tak mematikan tapi pasti melukai.
Seketika aku menyelipkan pedang Malam Terang di pinggang, kedua tangan menyergap kedua lengan makhluk air itu, menarik ke dadaku lalu lututku langsung menghantam dagunya dengan keras. Begitu tenaga melesak keluar, aku segera melepaskan genggamanku. Makhluk itu terpelanting ke belakang. Saat aku hendak menuntaskan, makhluk-makhluk air lain sudah menyerbu. Karena jumlah mereka banyak, aku terpaksa mundur beberapa meter.
Setelah mundur, aku kembali mencabut Malam Terang. Satu makhluk air telah menyerangku. Tanpa ragu, aku menghunuskan pedang, kilatan dingin menyambar di udara, menancap di dada makhluk air itu. Namun ia tak langsung lenyap, malah mengayunkan tangan hendak menyerangku balik.
Melihat gelagat buruk, aku cepat-cepat menarik pedang dari tubuhnya, tangan kiri menekan kepala makhluk itu, tangan kanan mengarahkan ujung pedang ke atas. Dengan satu tusukan, bilah pedang menembus dari bawah dagu ke kepala. Beberapa detik kemudian, makhluk air itu menghilang bagai asap.
Begitu payahnya membunuh satu makhluk saja, sementara masih ada enam atau tujuh lainnya mengintai ganas di hadapanku. Jika terus begini, tenagaku pasti habis.
Daripada memakai Malam Terang, mungkin lebih baik menggunakan ilmu penakluk roh. Berpikir demikian, aku baru hendak menyarungkan Malam Terang, namun suara Lin Zhan Nan terdengar dari kejauhan, “Anak muda, apa kau sudah lupa nasihatku tadi? Menggambar jimat dengan darah butuh waktu, sedang melumuri bilah pedang dengan darah jauh lebih cepat. Jika bertemu lawan tangguh, jangan-jangan kau sudah tewas sebelum sempat selesai menggambar jimat!”
Mendengar ucapannya, aku langsung sadar. Aku segera mengangkat telunjuk kiri, menggoreskan bilah Malam Terang di ujung jari. Seketika rasa dingin menusuk menelusup dari ujung jari, sebelum rasa sakit terasa, bilah Malam Terang sudah berlumuran darah merah, cahaya kemerahan membalutnya, berputar seperti motif awan di sepanjang bilah pedang.
Melihat pedang Malam Terang berlumuran darah segar, Lin Zhan Nan tersenyum tipis, lalu berkata dengan tenang, “Anak muda, jangan pikirkan jurus. Tebas saja seperti mengiris sayur, makhluk-makhluk itu pasti binasa. Coba saja kalau tak percaya.”
Beberapa makhluk air kembali menyerbu. Aku melangkah maju, mengayunkan Malam Terang sembarangan. Seketika telapak tanganku bergetar hebat, sebelum sempat melihat jelas, cahaya merah melesat dari bilah pedang menembus tubuh makhluk-makhluk air di hadapanku, lalu melaju deras ke arah tanah tandus di kejauhan.
Beberapa makhluk air itu membatu di tempat, sementara aku yang memegang Malam Terang jadi terpaku, tak tahu apa yang baru saja terjadi.
Ketika aku masih bingung, terdengar beberapa ledakan keras di depan. Seluruh makhluk air yang tersisa berubah menjadi kabut putih, lalu lenyap ditiup angin dingin, tak berbekas sedikit pun.
Melihat semua itu, aku benar-benar terperangah. Tak pernah kusangka, Malam Terang yang tampak biasa-biasa saja ini berubah jadi sangat dahsyat setelah terkena darah segar dari ujung jariku. Hanya satu ayunan pedang, para makhluk air langsung lenyap. Malam Terang ini jelas bukan belati sembarangan, melainkan pusaka luar biasa!
“Anak muda, pemahamanmu lumayan juga. Sekali ayun saja, pedangmu mengeluarkan hawa sakti dan melenyapkan tujuh makhluk air. Mirip sekali dengan diriku semasa muda. Sepertinya kau jadi muridku tidak merugikan aku sedikit pun.” Lin Zhan Nan berkata sambil berjalan mendekat.
Mendengar kata “murid” dari mulutnya, aku sempat tertegun. Tanpa aba-aba, bagaimana bisa tiba-tiba aku jadi muridnya? Bukankah mestinya aku yang memutuskan, bukan dia yang langsung mengambil keputusan?
“Guru, saya belum pernah bilang mau jadi—”
Belum selesai bicara, Lin Zhan Nan mengangkat tangan, “Kau bilang atau tidak itu urusanmu, tapi jadi muridku atau bukan itu urusanku. Apa kau memandang rendah pada kakek tua miskin seperti aku?”
Kepalanya menengadah, matanya menatapku tajam seolah siap mematahkan leherku jika aku berani menolak. Ini bukan sekadar perasaanku, tapi memang dia punya kemampuan itu. Meski usianya enam atau tujuh puluh tahun lebih tua dariku, dalam hal ilmu penakluk roh, aku tak ada apa-apanya, bahkan dalam kekuatan fisik pun belum tentu bisa mengalahkannya.
“Guru, bukan maksud saya begitu. Anda sangat menguasai ilmu penakluk roh, jadi sangat pantas jadi guru saya. Hanya saja, saya merasa kemampuan saya masih jauh, takut saya terlalu bodoh untuk mempelajari ilmu sehebat itu.”
Meskipun kata-kataku merendah, tapi memang itu yang kurasakan. Ilmu Lin Zhan Nan jauh lebih dalam dan dahsyat daripada Sembilan Hukum Rahasia Senjata Leluhur Tiangang. Jika aku bisa mempelajarinya, maka melanglang buana di dunia persilatan bukanlah omong kosong.
Lin Zhan Nan mendengar penjelasanku, lalu membalikkan badan, menyilangkan tangan di belakang punggung. “Tak masalah kalau kau tak mau. Tapi rahasia Sembilan Hukum Rahasia Senjata Leluhur Tiangang itu, mungkin tak ada lagi yang bisa memberitahumu. Sungguh sayang sekali.”
Begitu ucapannya selesai, aku langsung berlutut dengan suara gedebuk, menghantamkan dahiku tiga kali ke tanah menghadap punggungnya. “Guru, murid Qin Shao An menghaturkan sembah. Mulai hari ini, Anda adalah guru saya!”
Tadinya aku masih ragu soal menjadi murid. Tapi begitu Lin Zhan Nan menyebut rahasia naskah kuno, aku langsung luluh. Naskah kuno itu peninggalan kakekku, mungkin saja rahasianya berkaitan erat dengan hilangnya beliau. Jika aku bisa menguak rahasianya, mungkin aku bisa menemukannya.
“Bagus, muridku. Tak kusangka sebelum ajal menjemput, aku masih bisa menerima murid sepertimu. Benar-benar berkah dari langit. Cepat bangun!” Lin Zhan Nan memang tak berbalik, namun kulihat jelas tangan kanannya mengusap matanya, tampaknya ia sedikit terharu.
Begitu berdiri, aku menyerahkan Malam Terang dengan kedua tangan. “Guru, makhluk air sudah lenyap. Pedang Malam Terang saya kembalikan kepada Anda.”
“Tak perlu. Anggap saja Malam Terang itu hadiah pertemuan dari gurumu. Bawalah selalu, kelak jika aku sudah tiada, melihat pedang itu seolah melihat diriku.” Lin Zhan Nan berbalik perlahan, di bawah cahaya bulan matanya tampak memerah.
Mengungkit kelemahan guru sendiri bukanlah sifat orang beradab, maka aku tak membahas hal itu. Sebagai gantinya, aku menanyakan perihal makhluk-makhluk air itu. Secara logika, makhluk-makhluk air yang bisa merasuki tubuh manusia seharusnya berwujud roh. Namun saat bertarung, aku jelas merasakan mereka memiliki daging dan kulit. Hal ini benar-benar membingungkanku.