Bab Satu: Sang Penuntut Balas Sejati
Tii... tii... tii...
Suara sirene ambulans menggema di seluruh jalanan. Para pengemudi lain di jalan dengan rasa ingin tahu menoleh pada ambulans-ambulans yang melaju tergesa-gesa itu. Melihat satu atau dua ambulans memang bukan hal aneh, namun tak banyak yang pernah menyaksikan iring-iringan ambulans seperti ini.
Jangan-jangan, telah terjadi serangan teroris atau ada bom manusia lagi?
Saat para penonton di pinggir jalan mulai berandai-andai, para dokter gawat darurat di rumah sakit sudah bersiap melakukan tindakan penyelamatan.
“Gangguan jiwa akut, total sembilan belas orang. Seluruhnya telah disuntik satu dosis obat penenang, namun sama sekali tidak berefek, persis seperti kejadian-kejadian sebelumnya.”
Seorang petugas medis berkata cepat-cepat sembari menurunkan pasien dari ambulans.
Di sisi dokter-dokter yang sibuk, dokter spesialis saraf berdiri dengan dahi berkerut, menatap satu per satu pasien yang menutupi kepala mereka, mulut ternganga, pupil membesar, tubuh meringkuk—tampak seolah-olah mengalami ketakutan luar biasa.
Ini sudah merupakan gelombang ketiga pasien gangguan jiwa mendadak dalam sebulan terakhir. Gejala klinis mereka sangat aneh, keanehan utamanya adalah: kecuali rasa takut yang muncul tanpa sebab, tubuh mereka sama sekali tidak bermasalah. Baik tes darah maupun pemeriksaan lain tak bisa menemukan elemen abnormal apa pun yang bisa memicu gejala semacam itu.
Pihak rumah sakit benar-benar angkat tangan. Obat penenang yang lazim digunakan sama sekali tak mempan pada mereka. Yang bisa dilakukan hanyalah menjaga mereka tetap hidup dengan alat bantu sambil menyaksikan mereka sewaktu-waktu mengalami gejala gila dan histeris.
Memikirkan hal itu, dokter spesialis saraf menekan pelipisnya. Ia sendiri yang meminta agar pasien-pasien ini diterima. Jika ia bisa menemukan penyebab patologis atau faktor tersembunyi di balik penyakit aneh ini, namanya pasti akan melambung di dunia kedokteran—bahkan mungkin akan terangkat dari posisi dokter utama dan naik jabatan.
Namun, jika tak ada kemajuan, para pesaing yang mengincar posisinya di rumah sakit ini sewaktu-waktu bisa menjatuhkannya.
“Dokter Adam, Phil Coulson, agen FBI. Saya datang untuk mengambil alih para pasien ini.”
Tiba-tiba, seorang pria bersetelan jas mendekat dengan membawa dokumen di tangan.
Adam menengadah dan menerima dokumen itu. Begitu melihat sejumlah tanda tangan di sana, pikirannya langsung berputar cepat—ini momen yang tepat untuk melepaskan tanggung jawab.
“Pasien-pasien ini sangat penting bagi penelitian medis yang sedang saya lakukan. Penelitian tersebut diperkirakan akan membantu jutaan penderita gangguan jiwa di masa depan...”
Adam secara refleks melontarkan basa-basi resmi, sembari mengamati agen FBI di hadapannya dari atas ke bawah.
Phil Coulson merasa kecewa. Ia sudah menduga, demi nama dan keuntungan, para dokter jelas tak akan mudah diajak bekerja sama.
“Tuan Adam, saya sedang menjalankan tugas. Tolong Anda bekerja sama. Jika ada keberatan, silakan bicarakan dengan direktur rumah sakit Anda dan biar dia yang berkoordinasi dengan pihak kami...”
“Oh?” Adam terdiam sejenak sebelum tiba-tiba bersikap berlebihan. “Sebagai warga negara yang taat hukum, mana mungkin saya menghalangi Anda menjalankan tugas? Grey! Antar tuan ini dan rekan-rekannya menerima para pasien!”
Adam berteriak ke belakang, dan segera seorang dokter magang di bawahnya berlari menghampiri. Dahi Coulson sedikit berkerut—reaksi orang ini kenapa aneh sekali?
“Terima kasih atas kerja samanya.”
Meski merasa ada yang janggal, Coulson tetap mempercepat proses pemindahan pasien ke kendaraan khusus milik mereka. Para peneliti di Markas SHIELD sudah menanti-nanti sampel hidup terbaik ini.
“Guru Adam, mereka membawa semua pasien jenis ini. Lalu bagaimana dengan penelitian kita?” tanya Grey dengan suara pelan di sisi Adam.
“Mau tak mau kita hentikan dulu. Tapi aku akan melaporkan penyalahgunaan wewenang mereka, agar mereka tak menghambat perkembangan medis yang sehat.”
Sambil berkata begitu, Adam berbalik masuk ke rumah sakit, tubuh dan langkahnya tampak enteng—buah simalakama baru saja lepas dari tangannya.
Grey hanya bisa melongo. Jelas-jelas kabar buruk, kenapa Adam malah terlihat senang?
Yang merasa bingung bukan hanya Grey. Di pojok ruangan, seekor kucing hitam kecil menjilat-jilat cakarnya, lalu dalam hati membatin, manusia sungguh sulit dimengerti.
...
FBI? Phil Coulson?
Hmph, SHIELD lagi-lagi beraksi memakai kedok orang lain untuk melakukan hal-hal tak berperikemanusiaan.
Yang Qiu membuka mata. Melalui penglihatan bersama dengan kucing hitam itu, ia menelusuri memori tentang pria yang mengaku agen FBI tadi—dan langsung menemukan kecocokan dengan ingatan tentang direktur terakhir SHIELD, Phil Coulson.
“An, pulanglah.” Yang Qiu berpikir sejenak sebelum berkata.
Begitu suaranya terdengar, seekor kucing muncul dari bayang-bayang di kamar, berlari ke arah tangannya, lalu menyodokkan kepala ke telapak tangan Yang Qiu.
Sambil mengelus bulu kucing yang lembut, Yang Qiu merenungkan langkah selanjutnya. Ia merasa sedikit heran—apakah orang SHIELD sekarang sedang menganggur? Ataukah ia telah meninggalkan jejak? Mengapa setiap bergerak, selalu saja bertemu agen SHIELD?
Tak ada ambisi khusus di benaknya. Ia hanya ingin membalas dendam. Puluhan tahun kehidupan di dunia sebelumnya telah menanamkan prinsip “balas dendam setimpal” dalam-nya. Jadi, bagi para anggota geng yang menyebabkan ayah-ibu angkatnya tewas, ia tak akan menunjukkan belas kasihan sedikit pun.
Sebelum menyeberang dunia, Yang Qiu hanyalah pekerja kantoran biasa yang terjebak kerja rodi 996. Setelah wafat karena kelelahan usai lembur lebih dari sebulan, ia terbangun dalam tubuh yang baru.
Menjalani hidup kedua, Yang Qiu tak muluk-muluk. Begitu tahu dunia barunya ada perusahaan Stark Industries, yang ia pikirkan cuma satu: bagaimana caranya membawa orang tua angkatnya bermukim di Tiongkok, lalu mengajak mereka menjelajah dan mencicipi segala kuliner di sana.
Sayang, takdir berkata lain. Orang tua angkatnya meninggal karena terlibat baku tembak antar geng. Para bandit gila itu berani saling tembak dengan senapan mesin di jalanan. Sebutir peluru nyasar mengenai ban mobil orang tua angkatnya yang sedang berusaha menghindar, mobil pun kehilangan kendali, menabrak dinding, dan seluruh penumpang akhirnya tewas.
Meskipun mendapat uang asuransi yang cukup besar, Yang Qiu tak merasa bahagia. Sehari penuh mengurung diri, ia membuang rencana perjalanan yang telah disusun. Para anggota geng yang terlibat pasti akan membayar mahal atas tindakan mereka!
Ledakan emosi yang kuat membuat Yang Qiu berhasil membangkitkan kekuatannya—sebuah kemampuan yang berakar dari profesi lamanya sebagai penulis naskah, dan inilah sandaran utama dalam aksi balas dendamnya!
Hingga kini, kemajuan balas dendamnya cukup baik. Dua pemimpin geng yang terlibat dalam insiden malam itu telah tewas di rumah masing-masing, penyebab kematian: lidah terpotong, kehabisan darah akibat patah tulang, dan luka-luka lainnya.
Salah satu anggota utama geng kini sudah dibawa oleh SHIELD, dijadikan kelinci percobaan. Nasib mereka mungkin akan lebih tragis ketimbang dua pemimpin itu. Soal kemungkinan mereka selamat setelah jadi bahan eksperimen, sayang sekali, selama ada Yang Qiu, kemungkinan itu sama sekali tidak ada.