Satu per satu naskah yang dahulu hanya khayalan kini menjelma menjadi kenyataan, sehingga dunia ini semakin berbeda dari yang lain. Boneka Annabelle menyeringai menyeramkan di dalam ruang gelap, menat
Tii... tii... tii...
Suara sirene ambulans menggema di seluruh jalanan. Para pengemudi lain di jalan dengan rasa ingin tahu menoleh pada ambulans-ambulans yang melaju tergesa-gesa itu. Melihat satu atau dua ambulans memang bukan hal aneh, namun tak banyak yang pernah menyaksikan iring-iringan ambulans seperti ini.
Jangan-jangan, telah terjadi serangan teroris atau ada bom manusia lagi?
Saat para penonton di pinggir jalan mulai berandai-andai, para dokter gawat darurat di rumah sakit sudah bersiap melakukan tindakan penyelamatan.
“Gangguan jiwa akut, total sembilan belas orang. Seluruhnya telah disuntik satu dosis obat penenang, namun sama sekali tidak berefek, persis seperti kejadian-kejadian sebelumnya.”
Seorang petugas medis berkata cepat-cepat sembari menurunkan pasien dari ambulans.
Di sisi dokter-dokter yang sibuk, dokter spesialis saraf berdiri dengan dahi berkerut, menatap satu per satu pasien yang menutupi kepala mereka, mulut ternganga, pupil membesar, tubuh meringkuk—tampak seolah-olah mengalami ketakutan luar biasa.
Ini sudah merupakan gelombang ketiga pasien gangguan jiwa mendadak dalam sebulan terakhir. Gejala klinis mereka sangat aneh, keanehan utamanya adalah: kecuali rasa takut yang muncul tanpa sebab, tubuh mereka sama sekali tidak bermasalah. Baik tes darah maupun pemeriksaan lain tak bisa menemukan elemen abnormal apa pun yang bisa memicu gejala semacam itu.
Pihak rumah sakit benar-benar angkat tangan. Obat penenang yang lazim digunakan sama sekali tak mempan pada mereka. Yang bisa dilakukan hanyalah menjaga mere