Bab Tiga Puluh Tujuh: Freddy Telah Tiba
“Semuanya hanya pemakai biasa? Tidak ada satu pun pengedar?!” Gudha meraung pada anak buahnya, berkas pemeriksaan di tangannya dilemparkan begitu saja ke atas meja.
Sepanjang sore mereka sudah memeriksa, namun tetap tak menemukan satu pun petunjuk berguna. Semua barang yang mereka konsumsi ternyata dibeli dari pengedar di kota lain, sama sekali tidak ada hubungannya dengan kota kecil ini.
Kadar yang duduk diam di sudut akhirnya bisa bernapas lega. Mereka memang tidak bermain di lapak eceran; jalur yang mereka ambil adalah grosir. Siapa juga yang mau menyebar barang di sarangnya sendiri? Ini bukan Meksiko, di mana pengedar bisa terang-terangan berbisnis, bahkan ikut mencalonkan diri jadi pemimpin negara.
Namun, situasi sekarang tetap saja tidak menguntungkan bagi Kadar. Kedua kelompok yang datang kali ini sudah menyiapkan mental untuk tidak pulang sebelum menemukan sesuatu. Dalam penggeledahan besar-besaran seperti ini, cepat atau lambat ruang bawah tanah pasti akan terbongkar.
Ada dua hal yang harus segera Kadar selesaikan. Pertama, menyingkirkan stok barang yang menumpuk. Kedua, membereskan semua orang yang tahu sesuatu. Jika kedua masalah itu bisa diatasi, kasus ini akan sulit mengarah kepadanya.
Tapi, bicara memang mudah, Kadar sendiri tidak tahu bagaimana caranya membereskan salah satu masalah. Sejak dibawa orang-orang itu, setidaknya selalu ada satu anggota yang mengawalnya. Bicara saja tak memungkinkan, apalagi mengatur sesuatu.
Ditambah lagi, ada hal yang lebih mendesak menghantui benaknya. Penyelidikan yang sebesar ini, bahkan bayi yang masih menyusu di kota ini pun pasti sudah tahu. Amanda yang bersembunyi di ruang bawah tanah pasti juga sudah mencium gelagat. Dalam situasi seperti ini, jika terlalu lama tidak menghubungi Amanda, Kadar sendiri tak tahu apa yang akan dilakukan perempuan itu.
Jika Amanda sampai terbongkar, semuanya akan benar-benar kacau dan tak terkendali. Setiap kali membayangkan nasib yang mungkin menimpanya, rasa takut seperti ombak di lautan, datang silih berganti tanpa henti.
“Satu, dua, Freddy akan datang menjemputmu…”
Lagu anak-anak yang menyeramkan tiba-tiba bergema di telinga Kadar. Ia langsung menegakkan kepala, tapi tak menemukan seorang pun yang sedang bernyanyi. Kantor itu sunyi, tak ada yang mengobrol, tak ada suara selain detak waktu.
“Tiga, empat, kunci rapat pintumu…”
Lagu itu terus berlanjut. Jantung Kadar berdegup mengikuti irama lagu. Ia memegangi bajunya erat-erat, ketakutan, tapi tak berani berteriak.
“Lima, enam, tutupi wajahmu…”
Sekonyong-konyong, Kadar terbangun dari kursi. Gerakan tiba-tiba itu membuat orang-orang di sekitarnya menoleh ke arahnya.
“Tujuh, delapan, napasmu akan terhenti…”
Kadar menarik napas panjang, lalu mengangkat tangan. “Maaf, saya agak lelah. Bolehkah saya istirahat sebentar?”
Gudha mengerutkan kening menatap orang itu. Tak melakukan apa-apa, kenapa tiba-tiba lelah? Berniat bermalas-malasan lagi? Tapi raut wajahnya memang terlihat aneh. Sepanjang hari, Kadar memang tampak sangat tegang…
“Kamu, antar dia ke ruang istirahat,” kata Gudha menunjuk salah satu anggota secara acak.
Setelah Kadar keluar, Gudha memanggil tangan kanan kepercayaannya. Ia berbisik pelan di telinganya, “Selidiki soal Kadar ini. Jangan terlalu mencolok, jangan sampai orang lain tahu, terutama dari kantor polisi dan orang-orang itu.”
Anak buahnya mengangguk, tanda mengerti.
Jari-jari Gudha mengetuk-ngetuk sendi jarinya. Ia merasa, Kadar mungkin adalah kunci penting untuk serangan balik kali ini. Justru di saat seperti ini, ia harus ekstra hati-hati. Jika informasi bocor, pasti orang-orang itu akan langsung datang merebut Kadar. Toh sekarang orang itu sudah di tangannya, tak bisa lari, ia bisa menyelidiki dengan perlahan.
Di ruang istirahat, Kadar membenamkan tubuhnya di bawah selimut. Ia benar-benar ketakutan, tak sanggup lagi berada di depan Gudha.
Ia makin meringkuk seperti burung unta, seolah-olah dengan tidak melihat sekeliling, tak ada siapa pun yang mengawasi. Apalagi, sejak keluar dari kantor, lagu itu tak lagi terdengar di telinganya. Ia merasa keputusannya tepat.
Beberapa menit berlalu, setelah suasana hatinya mulai tenang, Kadar merasa sedikit mengantuk. Setelah sehari penuh tegang, tubuhnya sudah tidak kuat lagi.
Kantuk datang, bantal pun sudah di bawah kepala. Lebih baik tidur sebentar saja…
Kadar membatin, lalu memejamkan mata. Napasnya perlahan-lahan berubah menjadi panjang dan teratur. Ia pun tertidur.
Dari sudut pandang Tuhan, setelah memastikan target yang dipilih sudah terlelap, Yang Qiu menjentikkan jarinya pelan. Skenario Tujuh mulai dimainkan. Tidurlah dengan nyenyak, Freddy sang Hantu Mengerikan datang menjemputmu!
Tik… tik… tik… Kadar mengerutkan dahi. Beberapa detik kemudian, ia membuka matanya dengan kesal. Baru saja tidur, kenapa sudah ada suara bising?
Saat hendak mencari sumber suara, Kadar baru menyadari dirinya tak lagi berada di ruang istirahat. Ia kini berada di sebuah ruang bawah tanah yang gelap. Di atas kepalanya, pipa-pipa air aneh melintang, dan tetesan air dari celah-celah pipa jatuh ke lantai, menimbulkan suara di telinganya.
Di mana ini?
Kadar turun dari ranjang. Tempat tidur itu sangat tidak cocok dengan kondisi sekeliling, benar-benar terasa janggal.
Apa aku sedang bermimpi?
Kadar menginjak lantai, rasanya tubuhnya melayang, tidak seperti di dunia nyata.
Terdengar suara sepatu kulit berdetak di lantai, gema langkahnya sampai ke telinga Kadar.
Ia menoleh ke arah gelap. Samar-samar, ada bayangan orang berlalu-lalang. Saat mereka mendekat ke cahaya, jantung Kadar berdegup kencang, lalu perlahan mereda.
“Bahkan dalam mimpi aku masih bertemu kalian. Seharusnya dulu kusarankan dia menunda membunuh kalian,” ujar Kadar.
Benar, di hadapannya berdiri tiga orang yang pernah dihabisi Amanda.
Orang pertama tersenyum ke arahnya, lalu meraih dan melepas kepalanya sendiri, meletakkannya di dada. Wajahnya tanpa ekspresi, mulut perlahan terbuka, “Satu, dua, Freddy akan datang menjemputmu…”
Suara yang keluar dari mulut itu sama sekali tidak cocok dengan wajahnya, suara anak kecil menyanyikan lagu.
Krak! Orang kedua melepas kepalanya, “Tiga, empat, kunci rapat pintumu…”
Orang ketiga juga demikian, “Lima, enam, tutupi wajahmu…”
Kadar sudah tak sanggup berpikir. Bahkan di dalam mimpi, pemandangan seperti ini sudah cukup untuk membuatnya gemetar ketakutan.
Tanpa sadar ia mundur, hingga betisnya membentur tempat tidur. Ia pun terduduk, sementara tiga sosok tanpa kepala itu terus mendekat.
“Jangan… jangan dekati aku…” Kadar memohon dengan suara lemah.
Saat itu juga, ia merasakan ada wajah seseorang muncul di samping bahunya. Ia memang tidak melihat, tapi bisa merasakan dengan jelas keberadaan wajah itu, bahkan ia tahu wajah itu hangus terbakar api, menyeramkan dan mengerikan.
Saat Kadar berusaha kabur, sebuah cakar besi dari belakang mencengkeramnya, menekannya kuat-kuat di tempat. Lalu, kepala di samping bahu itu melantunkan lagu dengan suara parau, setiap kata terdengar jelas, “Tujuh, delapan, napasmu akan terhenti…”