Bab Empat Puluh Tiga: Permohonan Bantuan dari Gu Siyen
“Akhir-akhir ini, kau baik-baik saja?” Dalam perjalanan mengantar Wang Xueling pulang, Wang Xueling lebih dulu memecah keheningan dan bertanya pada Ning Yu.
“Baik-baik saja, kau tahu sendiri kalau aku ini orang yang santai, selain ke kampus, setiap hari cuma makan, minum, dan bersenang-senang, sungguh menyenangkan.” Ning Yu tersenyum saat menjawab.
Setelah beberapa percakapan singkat, suasana di dalam mobil kembali hening. Hingga Ning Yu mengantar Wang Xueling sampai di depan rumahnya, tak satu kata pun lagi yang terucap di antara mereka.
Melihat Ning Yu mengemudikan mobilnya pergi, Wang Xueling menghela napas panjang, entah menyesali atau tidak atas pilihan yang pernah ia buat.
Sejak insiden makhluk purba itu, setelah bermabuk kesenangan selama setengah bulan, Ning Yu akhirnya mulai menahan diri, tak lagi keluar rumah, tiap hari hanya berdiam diri dan menekuni ilmu kultivasi, sekaligus memperbaiki segel di Pedang Pemenggal Roh.
“Ding dong... ding dong... ding dong...” Suatu hari, setelah selesai berlatih, Ning Yu sedang menonton televisi di rumah, tiba-tiba terdengar seseorang mengetuk pintu.
“Kenapa bisa kau?” Saat Ning Yu membuka pintu dan melihat siapa yang datang, ia terpaku sejenak, sama sekali tak menyangka tamunya adalah Gu Siyen yang cantik itu.
Ia dan Gu Siyen baru bertemu sekali, bahkan belum bisa disebut kenalan. Meskipun hari itu perbincangan mereka hangat, dan Gu Siyen sempat bercanda akan main ke rumahnya, Ning Yu pun memberi alamat rumahnya sambil bilang selalu terbuka untuk dikunjungi. Tapi itu semua hanya basa-basi. Ning Yu tak pernah membayangkan Gu Siyen sungguh-sungguh akan datang.
“Tuan Ning, tak sudi menerima tamu seperti saya?” Gu Siyen tersenyum.
“Tidak, tidak, Nona Gu, silakan masuk.” Setelah tersadar sejenak, Ning Yu segera mempersilakannya masuk.
“Rumah Tuan Ning ini benar-benar bagus, kental suasana klasik, ada nuansa negeri Bulan, apa ini desainmu sendiri?” Gu Siyen tertawa setelah berkeliling di ruang tamu.
“Ini cuma tiruan, tak layak membuat Nona Gu tertawa. Ini teh hijau Danau Bintang hasil panen tahun ini, rasanya cukup enak, silakan coba.” Ning Yu tersenyum sambil meletakkan cangkir teh giok putih di hadapan Gu Siyen.
“Aromanya harum, rasanya segar dan lembut, benar-benar teh yang baik.” Gu Siyen menyesap teh itu, lalu tersenyum lagi, “Tuan Ning, kita ini sudah jadi teman, tak usah memanggilku Nona Gu terus, aneh rasanya. Panggil saja aku Siyen, seperti teman-temanku yang lain.”
“Baiklah, kalau begitu aku akan panggil kau Siyen mulai sekarang.” Ning Yu tersenyum lalu berkata, “Siyen, kau pun jangan memanggilku Tuan Ning terus, aku juga tak nyaman mendengarnya, lebih baik panggil saja namaku.”
Gu Siyen sedikit mengernyitkan dahi, “Memanggil langsung nama begitu terasa kurang sopan, Tuan Ning lebih tua dua tahun dariku, bagaimana kalau aku panggil kau Kak Ning saja?”
“Itu cuma panggilan saja, Nona Siyen tak perlu terlalu dipikirkan, panggil saja yang menurutmu enak di lidah, asalkan bukan Tuan Ning, aku pasti bisa menerimanya,” kata Ning Yu sambil tersenyum.
“Kalau begitu, mulai sekarang aku panggil Kak Ning,” ujar Gu Siyen sambil tersenyum manis.
Ning Yu dan Gu Siyen berbincang berbagai hal, waktu hampir menjelang tengah hari. Ning Yu hendak turun tangan sendiri di dapur, menyiapkan hidangan untuk menjamu tamu cantiknya, namun Gu Siyen mencegahnya.
Wajah Gu Siyen memerah, agak malu-malu ia berkata, “Kak Ning, tak usah repot-repot, sebenarnya, aku datang kali ini... ada keperluan yang ingin kumohonkan bantuanmu.”
“Butuh bantuanku?” Mata Ning Yu memancarkan keraguan, ia tak mengerti mengapa Gu Siyen meminta tolong pada orang yang baru ditemuinya dua kali.
Melihat ekspresi Ning Yu, Gu Siyen makin kelihatan malu, dengan suara pelan berkata, “Aku tahu ini sangat mendadak, tapi keadaannya mendesak, kakakku juga sedang tidak ada, jadi aku tak punya pilihan lain selain meminta bantuanmu.”
“Petugas Mu tidak ada?” tanya Ning Yu.
Gu Siyen mengangguk, makin malu, “Kakakku memang sedang tidak ada, kabarnya dapat tugas rahasia, sudah pergi setengah bulan dan belum tahu kapan kembali. Sementara urusan di sini sangat mendesak, aku benar-benar tak ada jalan lain, makanya aku datang padamu.”
Karena urusan Xue Bao waktu itu, Mu Lingyue sudah sangat membantu. Kini adiknya mengalami kesulitan dan datang meminta tolong, baik secara moral maupun etika, Ning Yu merasa harus membantu. Ia pun berkata, “Petugas Mu pernah membantu saat aku dalam kesulitan, sekarang kau punya masalah, tentu aku akan membantu. Tapi sebenarnya apa yang membuatmu begitu kerepotan?”
“Terima kasih banyak, Kak Ning! Aku benar-benar berterima kasih!” Gu Siyen tampak sangat gembira, “Begini, di kampung asalku, di hutan-hutan Nanjing Selatan, entah kenapa muncul kawanan mayat hidup yang meresahkan daerah itu. Departemen urusan supranatural setempat sudah beberapa kali membasmi, tapi karena hutan di sana lebat dan luas, kawanan itu tak pernah bisa dihabisi.”
“Jadi kau dikirim untuk membantu di sana?” tanya Ning Yu sambil tersenyum.
“Betul, aku ditugaskan ke Nanjing Selatan, agar segera menemukan asal-usul kawanan mayat itu dan bisa memusnahkannya secepat mungkin.” Gu Siyen mengangguk.
“Kalau memang atas perintah atasan, kenapa kau tak meminta bantuan mereka, malah meminta tolong padaku, yang bahkan bukan bagian dari institusi?” tanya Ning Yu lagi.
Gu Siyen tersenyum pahit, “Jujur saja, Kak Ning, sekarang sejak energi spiritual kembali, insiden supranatural makin sering terjadi, tapi tenaga kerja kami sangat kurang. Untuk kasus Nanjing Selatan ini, kantor pusat cuma bisa mengirim aku seorang saja, itu sudah batas kemampuan mereka.”
“Aku pikir kakakku baru-baru ini tak ada urusan apa-apa, jadi aku ingin mengajaknya ikut. Tak disangka, kakakku juga sedang bertugas keluar. Karena aku pernah dengar pujian kakakku tentangmu, makanya aku datang meminta bantuan padamu.”
“Tak kusangka ternyata kalian yang bekerja di ranah publik juga tak mudah hidupnya. Memang benar, kalau tak jadi kepala rumah tangga, tak tahu susahnya beli beras,” ujar Ning Yu sambil tersenyum.
Tiga hari kemudian, di Kota Tianling, Nanjing Selatan, Ning Yu dan Gu Siyen baru saja turun dari pesawat, langsung dikerumuni beberapa orang yang sudah menunggu dengan cemas.
“Anda pasti Gu Siyen, Petugas Gu?” Seorang pria paruh baya di depan menatap Ning Yu dan Gu Siyen, lalu bertanya dengan sopan pada Gu Siyen.
Melihat pria itu, Gu Siyen tampak sedikit bingung, ia tak mengenalnya, tapi tetap membalas sopan, “Saya memang Gu Siyen, tapi maaf, saya tidak kenal anda. Siapa anda?”
“Petugas Gu, kami dari Grup Farmasi Nanjing. Ketua kami, Pak Pei Tianming, adalah sahabat ayah anda. Begitu mendengar anda datang ke Nanjing untuk menjalankan tugas, beliau khusus meminta kami mengundang anda makan malam.” Pria paruh baya itu makin sopan dan penuh hormat setelah yakin tidak salah orang.
Gu Siyen mengernyitkan dahi, lalu berbisik pada Ning Yu, “Pei Tianming memang teman ayahku. Sebenarnya aku tidak ingin merepotkannya, tapi tak kusangka ia tetap tahu. Kak Ning, bagaimana menurutmu...?”
“Kalau Pei Tianming memang teman ayahmu, sebaiknya kita datang saja. Tak enak juga kalau mengecewakan teman ayahmu,” jawab Ning Yu dengan suara pelan.
Gu Siyen berkata, “Karena ini undangan Paman Pei, aku akan datang. Tapi aku tak sendiri, kali ini aku ditemani seorang teman baik. Apakah...?”
Pria paruh baya itu sangat tanggap, segera berkata, “Kalau teman Nona Gu adalah teman kami juga di Grup Farmasi Nanjing. Silakan Tuan ikut makan malam bersama.”
Pei Tianming berusia sekitar lima puluhan, tampak sangat ramah. Istrinya, seumuran dengannya, juga tampak bersahaja. Selain itu, Pei Tianming punya dua putra dan satu putri, semuanya jika dilihat sekilas, layak disebut pemuda-pemudi unggul.
Keluarga Pei Tianming menyambut Gu Siyen dengan sangat hangat. Di meja makan, mereka selalu menanyai Gu Siyen dengan perhatian, sementara Ning Yu lebih banyak diabaikan. Namun Ning Yu justru menikmati situasi itu, menyantap berbagai hidangan lezat di meja tanpa sungkan, sama sekali tak merasa sebagai tamu.
Setelah makan malam usai, dalam perjalanan mengantar Ning Yu ke tempat menginap, Gu Siyen tampak sungguh tak enak hati. Ia berkata, “Kak Ning, maaf sekali. Barusan keluarga Paman Pei begitu dingin padamu. Aku mewakili mereka meminta maaf.”
Ning Yu menahan Gu Siyen, “Kau terlalu khawatir, keluarga Paman Pei memang belum kenal aku, ini juga pertemuan pertama kami. Ini saja sudah cukup baik. Kalau mereka terlalu ramah padaku, justru aku yang tak nyaman.”
Setelah Ning Yu dan Gu Siyen pergi, suasana hangat di keluarga Pei Tianming langsung berubah. Wajah Pei Tianming yang tadinya cerah, seketika memucat dan tampak suram, lalu ia berpamitan untuk beristirahat di lantai atas. Setelah Pei Tianming pergi, istrinya pun segera masuk ke ruang sembahyang untuk berdoa.
Setelah kedua orang tua pergi, putri sulung mereka juga meninggalkan ruangan seorang diri, menyisakan dua putra Pei Tianming di ruang keluarga.
Anak sulungnya mengangkat segelas anggur, menggoyang-goyangkan gelasnya, lalu berkata, “Adik, dengarkan saran kakak, jangan bermimpi soal Gu Siyen. Ia sudah jadi milik kakak. Jangan sampai karena seorang perempuan, hubungan kita sebagai saudara jadi rusak.”
“Milikmu?” sang adik tertawa dingin, “Kenapa? Hanya karena kau kakakku?”
Mata si kakak memancarkan kilatan dingin, suaranya pun menjadi seram, “Adikku yang baik, kata orang bijak, dengarkan nasihat maka hidupmu akan baik. Kakak masih mau memperingatkan, jangan berani-berani mengincar Gu Yanan. Kalau kau nekat, kau akan menyesal.”
Ancaman itu sama sekali tak membuat si adik gentar. Ia bahkan balas menantang, “Baik, aku tunggu. Aku ingin lihat nanti, siapa yang akhirnya menyesal sampai ingin menabrakkan kepala ke dinding.” Setelah berkata itu, ia mengibaskan lengan bajunya dan pergi tanpa menoleh lagi.
“Tak tahu diri!” Melihat adiknya pergi begitu saja, si kakak menggenggam gelas anggur di tangannya hingga pecah.