Bab Empat Puluh Empat: Mengungkap Dalang di Balik Layar
Ning Yu menggaruk kepalanya dan berkata, “Aku paling tidak pandai mengingat wajah orang. Aku hanya pernah bertemu orang itu sekali, dan aku sangat tidak suka padanya, jadi mana mungkin aku sengaja mengingat wajahnya?”
Mu Lingyue tampak pasrah, “Memang ini sulit. Aku hanya bisa berjanji untuk membantumu semaksimal mungkin. Tapi berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk menemukan orang itu, aku tidak berani jamin.”
Tiba-tiba Ning Yu menepuk dahinya, “Tunggu dulu, lihatlah betapa cerobohnya aku. Kalau orang itu datang menanyakan tentang makam kuno, pasti dia pernah bersentuhan secara langsung atau tidak langsung dengan urusan makam kuno. Menurutku, kau hanya perlu menyelidiki polisi yang terkait dengan kasus makam kuno saja, Mu Polisi.”
“Kalau begitu memang bisa memperkecil lingkupnya. Begini saja, Ning Yu, beri aku waktu tiga hari. Tiga hari lagi, aku akan memberimu jawabannya,” ujar Mu Lingyue setelah berpikir sejenak.
“Kalau begitu kita sepakat, Mu Polisi. Tiga hari lagi aku akan mencarimu. Tapi ingat, menurutku orang itu hanya pion saja, pasti di belakangnya ada dalang yang lebih besar. Jangan sampai kau membuat mereka curiga,” Ning Yu mengingatkan.
“Kau tak perlu khawatir soal itu. Jangan lupa apa pekerjaanku,” jawab Mu Lingyue santai.
“Sialan, Leng Qianluo, bukankah kau bilang semuanya akan berjalan lancar? Sekarang apa ini? Kenapa Ning Yu si brengsek itu masih hidup dan sehat?” Yang Mingyue meraung marah pada Leng Qianluo yang juga tampak muram di dalam sebuah ruang rahasia.
Leng Qianluo pun balas marah, “Ini memang salahku. Aku tak menyangka Ning Yu bisa menembus tahap Pemurnian Qi dan masuk ke tahap Xiantian, bahkan punya fondasi yang begitu kuat. Bahkan murid sekte besar sekelas Gu Siyen ditambah satu formasi pun tidak bisa mengalahkannya.”
Yang Mingyue mengibaskan tangan, “Sudahlah, manusia berencana, langit yang menentukan. Untuk urusan Ning Yu, kita lupakan dulu. Sekarang aku ingin tahu, kegagalan kali ini apakah akan berdampak buruk pada kita? Kudengar orangmu, Liu Chi, sudah tertangkap. Liu Chi itu tahu banyak rahasia, jangan sampai dia tak tahan siksa dan membocorkan kita.”
Leng Qianluo menjawab, “Tenang saja, Saudara Mingyue. Liu Chi itu benar-benar prajurit mati. Seketat apapun siksaan, dia takkan mengucapkan sepatah kata pun, karena dia tahu satu kata saja bisa membuatnya menghadapi nasib seribu kali lebih buruk dari kematian. Selain itu, aku juga sudah menanamkan larangan di jiwanya. Segala teknik pencarian jiwa pasti akan meledakkan jiwanya sendiri.”
Yang Mingyue berkata lagi, “Kalau begitu, Saudara Qianluo, apa langkah kita selanjutnya? Kudengar atasan sangat mendesak kita soal kemajuan perkara ini.”
“Desak saja sesuka mereka! Mereka pikir tugas ini semudah itu? Dasar bodoh, hanya bisa bicara. Jangan hiraukan desakan atasan, biar aku yang urus. Kali ini karena kesalahanku, pihak Sekte Es sangat murka dan sedang mengerahkan segalanya untuk menyelidiki. Kita sebaiknya bersembunyi dulu, tunggu suasana tenang baru bergerak lagi,” kata Leng Qianluo.
“Untuk rencana selanjutnya, kupikir tak usah lagi. Kalian berdua iblis, hari ini tak seorang pun bisa lari!” Tiba-tiba suara menggelegar terdengar, lalu ruang rahasia itu bergetar hebat dan batu-batu raksasa mulai berjatuhan.
“Sialan, siapa kalian sebenarnya?” Leng Qianluo dan Yang Mingyue berlari keluar dengan susah payah dan memandang marah pada sepasang pria dan wanita yang berdiri tak jauh dari mereka.
“Siapa kami? Aku inilah orang yang kalian cari-cari!” Ning Yu berkata sambil mengayunkan palunya ke arah Yang Mingyue yang paling dekat dengannya.
Dalam kepanikan, Yang Mingyue mengeluarkan pentung kecil yang memancarkan cahaya hitam samar untuk menangkis. Namun dengan sekali hantam, Ning Yu berhasil membuatnya terjatuh. Saat Ning Yu hendak menghabisinya, tubuh Yang Mingyue berkelebat, berubah menjadi bayangan-bayangan samar dan berhasil lolos dari maut.
“Bocah laknat! Berani-beraninya kau menyerangku diam-diam! Hari ini akan kutunjukkan kehebatan Kakekmu ini! Pentung Penghisap Jiwa, bunuh dia!” Yang Mingyue mengayunkan pentung hitamnya. Dari ujung pentung berwujud tengkorak, bertiup badai hitam ke arah Ning Yu. Badai ini bukan badai biasa, melainkan Angin Pemecah Jiwa dari perut bumi. Tanpa pertahanan sihir, roh siapa pun akan tercerai-berai dalam waktu singkat.
“Hanya Angin Pemecah Jiwa saja berani kau pamerkan? Sungguh tidak tahu diri.” Lima Simbol Lima Kaisar keluar sendiri, memancarkan cahaya warna-warni, melindungi Ning Yu sepenuhnya hingga angin hitam itu tak bisa melukainya. Ning Yu pun mengerahkan kekuatan palunya, menghantam ke arah Yang Mingyue.
“Celaka, itu kekuatan palu! Saudara Mingyue, biar aku bantu!” Melihat Ning Yu mengerahkan kekuatan palu, Leng Qianluo sadar Yang Mingyue bukan tandingannya, dan segera hendak membantu.
“Jangan pergi, lawanmu adalah aku!” Pedang Es di tangan Mu Lingyue terhunus, diiringi suara Phoenix yang nyaring. Seekor Phoenix Es terbang keluar, mengepakkan sayapnya dan ribuan pecahan es menembus ke arah Leng Qianluo.
“Minggir!” Leng Qianluo membentak, mengayunkan kipas bulu putih di tangannya. Ribuan pecahan es langsung dihancurkan.
“Jadi kau dari Keluarga Leng, Balairung Seribu Iblis? Hari ini kau takkan bisa lolos hidup-hidup!” Melihat kipas putih di tangan Leng Qianluo, Mu Lingyue membelalak marah. Diiringi aura pembunuhan dingin yang nyata, burung Phoenix Es kembali mengeluarkan suara keras. Ribuan cahaya pedang es langsung menelan Leng Qianluo.
“Kirain siapa, ternyata perempuan hina dari Keluarga Mu! Hari ini kau pun jangan bermimpi lolos hidup-hidup!” Leng Qianluo mengayunkan Kipas Salju Es, dinding es tebal langsung terbentuk menahan serangan Mu Lingyue. Sekali lagi kipas diayunkan, dinding es itu pecah dan berubah menjadi naga es raksasa yang menyerang Mu Lingyue.
Sudah banyak orang bilang, sesama profesi adalah musuh. Keluarga Leng dari Balairung Seribu Iblis dan Keluarga Mu dari Sekte Es saling bermusuhan ribuan tahun lamanya. Setiap kali bertemu, pasti bertarung sampai mati.
Tak usah bicara soal pertarungan hidup-mati antara Leng Qianluo dan Mu Lingyue, di sisi lain, Ning Yu akhirnya merasakan apa itu musuh yang licin seperti belut. Yang Mingyue laksana tikus besar yang bermain di kuali minyak, tak sedikit pun terkena minyak. Walau Ning Yu sudah mengerahkan kekuatan palunya, tetap sulit mengenainya. Tanpa bisa mengenai langsung, sehebat apapun kekuatan palu Ning Yu, tetap sia-sia.
“Sialan, kau ini keturunan tikus ya? Berani hadapi aku satu lawan satu secara jantan, jangan hanya bersembunyi terus!” seru Ning Yu kesal.
“Memang, aku ini titisan Tikus Roh. Kalau kau mampu, tangkap aku! Aku berdiri di sini, ayo tangkap kalau bisa!” balas Yang Mingyue mengejek.
“Sombong dan bodoh! Lihat jurusku! Gunung dan Sungai Berpindah, Langit dan Bumi Terbalik, Mantra Kekacauan Tanah Tebal, turunlah!” Dengan teriakan Ning Yu, ribuan simbol kuning masuk ke tanah.
Begitu Ning Yu mengaktifkan sihirnya, Yang Mingyue langsung merasakan bahaya besar yang menakutkan. Bahkan saat berhadapan dengan hantaman palu Ning Yu, ia tak pernah setakut ini.
Didorong rasa takut itu, tanpa ragu Yang Mingyue mengaktifkan bakat alaminya, Seratus Perubahan Ilusi, tubuhnya berubah menjadi bayangan-bayangan dan melarikan diri sejauh mungkin.
Yang Mingyue berlari ratusan li jauhnya, merasa sudah aman, baru menghela napas lega, menurunkan kecepatannya perlahan.
“Bukankah kau jago lari? Kenapa berhenti? Apa kelelahan, perlu istirahat sebentar, baru lanjut lari lagi?” Saat Yang Mingyue hendak beristirahat, suara mengejek Ning Yu tiba-tiba terdengar di belakangnya.
Yang Mingyue terkejut setengah mati, melompat tinggi seperti kucing yang ekornya terinjak, menjerit dan seketika menghilang, muncul ratusan meter jauhnya.
“Sialan, mana mungkin kau bisa muncul di sini? Tak masuk akal! Mustahil kau bisa menyusul kecepatanku!” Yang Mingyue memandang Ning Yu dengan ekspresi seolah melihat hantu, benar-benar tak percaya.
Ning Yu tertawa, “Harus kuakui kecepatamu luar biasa, aku memang tak bisa mengejarmu. Tapi sayang, sekarang kau terjebak dalam sihirku. Secepat apapun larinya, percuma saja. Kau takkan bisa lari lebih dari seratus meter dariku.”
“Mana mungkin ada sihir seperti ini? Bocah, jangan menakutiku. Sekarang juga akan kubuktikan!” Yang Mingyue mengaktifkan lagi Seratus Perubahan Ilusi, berlari sekencang mungkin.
Namun segera ia sadar, apa yang dikatakan Ning Yu benar. Secepat apapun ia berlari, setiap kali melewati seratus meter, tanah di bawah kakinya berubah arah. Ia seperti tikus yang terjebak dalam roda, berlari sekencang apapun tetap tak bisa kabur.
“Waktumu sudah habis, iblis! Akan kukirim kau ke akhirat sekarang juga!” Melihat Mantra Kekacauan Tanah Tebal hampir habis waktunya, Ning Yu tak ingin membuang waktu lagi. Dalam sekejap ia muncul di depan Yang Mingyue, palu hijau di tangannya menghantam tanpa ragu.
Yang Mingyue ingin sekali menghindar, sudah mengerahkan seluruh kekuatan untuk melarikan diri, namun dalam perubahan ruang dan waktu itu, semuanya di luar kendalinya. Ia hanya bisa menatap palu bulat di tangan Ning Yu yang makin mendekat ke matanya.
“Braaak!” Dengan suara berat, tubuh Yang Mingyue terbang seperti karung lusuh. Dalam sekali pukulan, hampir semua tulangnya remuk.
Pukulan itu langsung mengembalikan wujud asli Yang Mingyue: seekor tikus raksasa berwarna kuning sepanjang dua meter. Ia tergeletak di tanah, darah mengalir dari mulutnya, mata tikus itu penuh kebencian dan dendam, memandang tajam ke arah Ning Yu, mulutnya terus berkomat-kamit seolah mengutuk.
“Sudah di ambang kematian masih saja berani mengutuk! Rasakan ini!” Ning Yu mengayunkan palunya sekali lagi, langsung menghancurkan tubuh tikus setan Yang Mingyue menjadi serpihan.