Bab Empat Puluh Tujuh: Akan Kupecahkan dengan Sebilah Pedang!
Pedang itu melesat dengan kekuatan dahsyat, auranya membumbung tinggi menembus langit, bahkan lebih hebat dari serangan sebelumnya. Namun, Chen Qianjue tak gentar sedikit pun, meski ia bisa merasakan kekuatan pedang itu jauh melampaui jurus pertamanya, Satu Pedang Menjulang.
Tetapi, Chen Qianjue tetap tenang. Ia masih memiliki jurus Mengendalikan Pedang di Angkasa, serta Satu Pedang Menelan Langit.
Kini, Chen Qianjue telah menguasai tiga jurus Mengendalikan Pedang di Angkasa: Satu Pedang Menjulang, Satu Pedang Menelan Langit, dan Satu Pedang Kembali ke Asal. Namun, dari ketiga jurus itu, ia merasa hanya jurus pertama dan kedua yang dapat ia kendalikan sepenuhnya. Dengan kekuatan yang kini telah menembus tahap akhir kultivasi qi, ia yakin mampu mengeluarkan dua jurus itu dengan maksimal.
Akan tetapi, jurus terakhir, Satu Pedang Kembali ke Asal, baru ia latih sebentar. Meski memiliki Tubuh Pedang Tak Terhingga dan bakat alami dalam memahami ilmu pedang, Chen Qianjue tetap belum benar-benar menguasainya.
Melihat serangan yang datang dari atas, mengaduk angin dan awan dengan kekuatan tajam, Chen Qianjue sadar baik jurus Mengendalikan Pedang di Angkasa maupun jurus makan pedang yang baru ia pelajari, tak akan mampu menangkisnya secara langsung.
Serangan pedang milik Li Kui itu, diperkuat dengan perubahan bentuk pedang lebar, jelas memiliki kekuatan yang lebih besar. Jika dipaksa untuk bertahan, Chen Qianjue pun tidak yakin akan selamat tanpa luka.
“Tidak ada cara lain lagi... Nampaknya... aku harus bertaruh nyawa!” Begitu pikiran itu melintas, Chen Qianjue mengayunkan tangannya, melemparkan pedang panjang berkilauan di tangannya, lalu kedua tangannya membentuk segel, berseru lantang, “Mengendalikan Pedang di Angkasa!”
“Satu Pedang... Kembali... ke Asal!!”
Diiringi sorot mata yang penuh ketegangan, pedang yang dilempar Chen Qianjue melayang diam di depannya. Mata pedang menghadap ke atas, ujung pedang menantang serangan dahsyat yang datang.
Saat itu, energi spiritual dalam tubuh Chen Qianjue mengalir deras ke arah pedang di depannya. Dalam sekejap, ia merasakan kekosongan di pusat tenaganya. “Jurus ini... benar-benar menguras energi...”
Chen Qianjue segera mengambil botol giok putih dari balik bajunya, membuka sumbatnya, lalu menuangkan isinya ke dalam mulut.
Tak lama kemudian, seluruh pil Pemulih Hidup dalam botol itu ditelannya.
Saat merasakan energi spiritual yang meluap-luap di tubuhnya, wajah Chen Qianjue sempat berseri, namun sesaat berikutnya, raut wajahnya berubah meringis kesakitan.
“Aku... merasa tubuhku hampir meledak...” gumam Chen Qianjue dengan susah payah, namun ia tetap bertahan, memaksa diri mempercepat peredaran ilmu Membasahi Kayu Kering.
Dengan berjalannya ilmu itu, daya obat segera diarahkan menuju pusaran energi di pusat tenaganya. Pusaran itu bagaikan lubang hitam, melahap seluruh energi yang mengalir dalam tubuhnya tanpa henti.
Setelah rasa sesak itu sedikit mereda, Chen Qianjue mengganti segel tangannya, menambah pasokan energi pedang ke arah pedang yang mengambang satu depa di hadapannya.
Energi pedang yang dahsyat segera mengalir masuk ke dalam pedang. Seketika, pedang itu bersinar bagai pelangi, memancarkan cahaya tujuh warna yang menandakan batas kekuatan yang bisa ditanggung oleh senjata itu.
Namun Chen Qianjue tak peduli, ia terus menyalurkan energi pedang ke pedangnya.
Tindakan ini membuat sembilan anggota kelompok tentara bayaran Angin Hitam yang menonton, terperangah dan menarik napas panjang.
“Sungguh nekat!! Berani-beraninya memasukkan energi spiritual melebihi daya tahan pedang biasa. Tak takut mati rupanya! Tapi... bukankah itu bisa meledakkan pedang?”
“Benar! Kalau pedangnya meledak, anak itu bakal hancur lebur tak bersisa!!”
“Anak ini! Usianya masih muda, mengapa begitu nekat mencari mati?”
Mendengar bisik-bisik di sekitarnya, Qingniang yang ikut menyaksikan pun mengerutkan kening, bukan karena khawatir pada Chen Qianjue, melainkan takut Li Kui akan terluka akibat ledakan pedang.
Namun kini, kedua pedang itu sudah saling beradu ujung. Ia pun tak bisa mencegahnya, sebab jika memaksa, bukan hanya dirinya yang berisiko terkena energi pedang, bahkan bisa kehilangan nyawa.
Jadi, bagi Qingniang, mengamati pertarungan dengan serius adalah hal terpenting saat ini. Urusan dengan pemuda berjubah putih itu bukan untuk sekarang, bukan pada detik ini.
Hal itu juga disadari dengan baik oleh anggota kelompok tentara bayaran Angin Hitam lainnya yang ikut menonton.
Dua pedang bertemu, dua arus energi pedang saling berbenturan dan beradu sangat sengit. Tak hanya debu tebal berhamburan, bahkan dinding dan fasad toko di sepanjang jalan pun penuh goresan akibat amukan energi pedang.
Debu tebal menyapu kerumunan, memaksa semua orang menjauh dan mengamati dari kejauhan. Sementara itu, duel kedua orang itu masih berlangsung sengit.
Di tengah pusaran debu itu...
“Anak muda!! Harus diakui, kau memang kuat. Kalau bukan karena pertempuran sebelumnya membuatku sadar dan menyempurnakan Ilmu Pedang Penguasa, aku takkan berani bertarung mati-matian seperti ini!” ujar Li Kui dengan suara lantang, akhirnya menunjukkan pikirannya yang sebenarnya setelah sadar hanya mereka berdua yang tersisa di tengah arena.
Pertarungan sebelumnya benar-benar mengguncang hati Li Kui.
Namun Chen Qianjue yang kini telah belajar dari pengalaman buruk itu, tak ingin banyak bicara. Dengan bibir terkatup rapat, ia hanya mendengus dingin, “Hmph!”
Kemudian, kedua tangan Chen Qianjue kembali membentuk segel, menambah suplai energi spiritual. Li Kui yang merasakan perubahan itu pun segera mengambil sebuah pil dan menelannya.
Begitu pil Pemulih Hidup meleleh dan memberi kekuatan pada tubuhnya, Li Kui tersenyum puas. Setelah menyerap energi pil itu, ia pun menambah pasokan energi spiritual ke pedangnya.
Kini, keduanya berada dalam posisi saling bertahan dan tak ada yang mau mengalah.
“Menyerahlah, anak muda!! Kau tak mungkin menang melawanku. Ilmu Pedang Penguasa yang kulatih adalah kekuatan mutlak, apalagi dipadu dengan Tubuh Pedang Baja milikku. Tak ada yang bisa menandingiku! Ilmu pedangmu itu tak ada apa-apanya!” teriak Li Kui dengan percaya diri dari angkasa.
Namun, ejekan itu tak menggoyahkan Chen Qianjue. Ia tetap tenang, nada bicaranya pun tetap datar dan santai, “Sejujurnya... seranganmu kali ini tak seindah jurusmu sebelumnya!”
Nada bicaranya lalu berubah tajam, “Tak peduli seberapa kuat kau, aku akan menembusnya dengan satu tebasan!”
Mendengar keyakinan Chen Qianjue, Li Kui justru tertawa lebar, “Bagus! Bagus sekali!!”
“Kalau begitu, saksikanlah aku mengalahkanmu dengan satu jurus... lalu menebas kepalamu, sebagai persembahan untuk Saudara Chen!!”
Tatapan Li Kui pun menyipit, senyumnya berubah buas.
Saat itu, ia merasa pedang Penguasa Bajanya bagaikan tombak yang menusuk tanpa hambatan, perlahan-lahan membelah pedang panjang bercahaya di depan Chen Qianjue.
Memang benar, pedang tujuh warna di depan Chen Qianjue kini mulai retak seperti sarang laba-laba.
Melihat pedangnya hampir hancur, Chen Qianjue sadar tekanan yang ia hadapi makin berat. Ia tahu masalahnya bukan pada kekuatan diri, tetapi pada kualitas pedang yang ia gunakan.
“Pedang ini hanya pedang biasa tingkat rendah, tak mampu menahan derasnya energi pedangku. Kalau begini, aku pasti kalah!” Wajah Chen Qianjue terlihat cemas, tapi ia tak patah semangat.
Tiba-tiba, suara malas dari Wuji terngiang di benaknya, “Qianjue!! Kau takkan bisa mengalahkannya. Dia bukan hanya punya Tubuh Pedang Baja, tapi juga seorang petarung qi yang telah berlatih puluhan tahun. Bagaimana mungkin kau bisa menang?”
Suara Wuji kemudian berubah licik penuh muslihat, “Bagaimana kalau... kau menggunakan satu kesempatan lagi agar aku membantumu tahun ini?”