Bab Delapan Puluh Dua: Sudah Menjadi Pengetahuan Umum, Niat Berbuat Jahat Pasti Akan Digagalkan
"Mengapa, kenapa sih!" Pertanyaan Mayuna yang tak henti-hentinya terus mengejar Lubi hingga ke asrama guru. Padahal sudah sepakat untuk belajar di kelas yang sama, tapi bukankah sekarang Lubi berdiri di atas podium sementara dia di bawah? Bukankah itu artinya dia satu tingkat lebih rendah?
"Mungkin mereka salah orang saja."
Akademi Sihir Rhine memang pantas disebut akademi terbaik di Kekaisaran Suci. Bahkan asrama gurunya pun sesuai dengan rumor, bangunannya bertingkat tiga, tak berbeda jauh dengan rumah Mayuna di ibu kota. Dari luar, jumlah ruangannya tak lebih dari belasan, namun karena sedikit penghuni, suasananya terasa lengang. Karpet merah membentang di sepanjang lorong, vas bunga hias berdiri di atas pilar batu, dan bunga segar di dalamnya jelas dirangkai dengan penuh perhatian.
Kartu pengenal guru milik Lubi adalah kunci untuk membuka pintu utama asrama. Meski tampak terbuat dari emas, sebenarnya bukan, dan Lubi pun belum tahu pasti terbuat dari apa. Benda itu didesain seperti kartu kamar hotel di bumi: cukup diarahkan ke kristal di pintu, maka pintu pun terbuka.
Begitu masuk, tampak ruang tamu yang luas dengan segala perlengkapan untuk menjamu tamu. Ada dua kamar tidur, satu utama dan satu tamu. Setelah berkeliling, Lubi terkejut menemukan ada kamar mandi—lengkap dengan bak mandi untuk berendam! Hanya saja, menurut Lubi, tanpa saluran pembuangan, membersihkan air mandinya nanti pasti merepotkan. Satu-satunya kekurangan, tak tersedia dapur; mungkin pihak akademi tak pernah mengira ada guru yang ingin masak sendiri ketimbang menikmati masakan mewah kantin.
"Kau tak berniat meluruskan soal nama itu?" Mayuna sama sekali tak berminat melihat-lihat asrama. Menatap nama pada kartu guru Lubi, ia tampak sangat kesal. Apa-apaan nama Lubi Edel Xingye! Dari namanya saja dia tak bisa terima!
"Aku sudah bilang, mereka juga takkan percaya. Lagi pula, aku tak punya kekuatan sihir, mungkin juga tak mudah berbaur dengan murid lain."
Lubi memang selalu berprinsip 'di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung'. Toh posisi guru pengawas di kelas studi mandiri itu memang dibuat khusus untuk santai; cukup berdiri dan mengawasi saja.
"Hmph! Sepertinya kau cukup puas dengan nama itu, ya? Bukankah ini artinya kau seperti menumpang di keluarga Xingye! Lagi pula, waktu itu kau juga cukup sopan pada si gadis berambut merah muda itu."
Nada suara Mayuna mengandung sedikit rasa cemburu. Ia teringat pertemuan Lubi pertama kali dengan Eve. Dengan sifat Lubi yang seperti itu, siapa tahu suatu hari benar-benar jadi menantu keluarga Xingye!
"Jangan bercanda."
"Aku bercanda? Mana ada aku bercanda... ah!"
Sikap Lubi yang datar justru makin memanaskan hati Mayuna. Gadis bertitel Dewa Sihir itu tiba-tiba melangkah maju, mendekati Lubi hingga wajahnya nyaris menempel di bibir Lubi. Demi menghindari kontak yang terlalu intim, Lubi pun perlahan mundur. Namun karena belum akrab dengan lingkungan baru, tumitnya tersandung sesuatu dan ia pun jatuh ke atas karpet empuk di ruang tamu. Mayuna yang tak menyangka juga ikut terjatuh. Untung saja ia tanggap dan sempat menahan tubuhnya dengan kedua tangan di bahu Lubi—jika tidak, mungkin akan mengulang insiden yang pernah dialami seorang putri kerajaan.
"...Bangunlah."
Lubi bisa merasakan berat tubuh di pundaknya. Meski sering menggoda Mayuna soal kegemarannya makan manis dan berat badan, nyatanya gadis itu tetap ringan. Rambut panjang putih Mayuna menyapu wajahnya lalu jatuh ke telinga Lubi, seperti tirai perak yang menutupi ekspresi keduanya. Dalam jarak sedekat itu, mereka bisa merasakan napas satu sama lain. Menatap mata indah Mayuna yang berkilauan, napas Lubi pun terasa berat. Agar bisa menghirup oksigen cukup, akhirnya ia bicara juga.
Mayuna tak menggubris ucapan Lubi, malah menundukkan kepala lebih dekat, hingga akhirnya hidung mereka bersentuhan. Inilah jarak terdekat Mayuna dan Lubi sepanjang sejarah.
"Maaf mengganggu, aku Baiyu Venn dari lantai dua... Yah! Aku tidak sengaja, soalnya pintunya tak tertutup dan aku cuma mau menyapa..."
Suara orang asing tiba-tiba terdengar dari pintu masuk. Dua orang di dalam ruangan buru-buru duduk lalu menoleh ke arah tamu tak diundang itu. Perempuan dewasa berwajah cantik itu menampakkan senyum canggung; meski tak jelas, ia tetap bisa melihat dua orang yang saling bertindihan tadi.
"Tidak apa-apa, namaku Lubi, guru baru di sini."
Karena sudah jadi tetangga sekaligus tamu, Lubi pun memulai percakapan sebagai tuan rumah. Sementara itu, gadis Dewa Sihir memilih diam, melangkah ke dekat jendela untuk menenangkan degup jantungnya yang kencang.
"Halo, Guru Lubi, panggil saja aku Baiyu. Dengar dari bagian kepegawaian ada guru baru, jadi aku segera ke sini."
Tamu bernama Baiyu adalah perempuan dewasa bertubuh semampai, nyaris seperti Feiloksis. Meski parasnya kalah sedikit, pipi bulat dan mata cokelatnya memberi kesan matang sekaligus imut. Rambut hitam panjangnya bergelombang alami hingga punggung, seperti ombak. Ia pun dengan ramah mengulurkan tangan pada Lubi.
Mayuna sempat melirik orang yang mengganggunya itu dari atas ke bawah, dan dalam hati ia pun kesal: "Lagi-lagi seseorang dengan dada tak bersahabat!"
"Terima kasih."
Lubi berniat menyambut uluran tangan, namun jarak yang diambil Baiyu agak janggal—umumnya, jabat tangan dilakukan dalam jarak yang sama, tapi dia malah meletakkan tangan di perut Lubi, membuatnya merasa aneh.
"Ah, maaf! Aku memang sering dibilang ceroboh, sudah kebiasaan."
Baiyu pun menyadari kekeliruannya, mundur selangkah, dan akhirnya Lubi bisa menjabat tangannya dengan benar.
"Guru Lubi, mungkin ini agak mencampuri urusan orang, tapi sebaiknya jaga jarak dengan murid perempuan. Baru masuk sudah mengajak ke asrama, itu..."
Setelah melepaskan jabatan tangan, Baiyu tetap menasihati. Guru baru di akademi cuma satu, jadi Mayuna pasti murid. Ia jelas menentang hubungan yang tak pantas antara murid dan guru.
"Kau salah paham, kami tak ada hubungan seperti itu. Tadi hanya sedang mencari sesuatu."
Lubi menggeleng, menjelaskan hubungan mereka. Saat mengucapkan itu, ia sempat melihat Mayuna mengangkat tangan dan menggerakkan jari di lehernya—sebuah isyarat ancaman yang jelas.
"Oh, aku sudah setahun di sini. Kalau ada apa-apa, silakan tanya pada seniormu ini."
"Kebetulan memang ada banyak pertanyaan."
Lubi memang belum terlalu paham tentang akademi ini. Dengan adanya pemandu, segalanya jadi lebih mudah. Saat ia bertanya, Baiyu pun menjawab tanpa menutupi informasi apa pun. Akademi ini memang besar, tapi jumlah murid tak sampai seribu orang—semua adalah para elit yang terpilih. Para elit itu pun bisa memilih kelas sesuai kebutuhan masing-masing.
Sekarang ada kelas sihir serang, sihir pendukung, sihir penyembuhan, dan kelas pengumpulan informasi. Masing-masing kelas dibagi lagi menjadi tiga tingkat sesuai jenjang siswa. Baiyu sendiri adalah guru untuk siswa baru di kelas sihir serang.
Sedangkan jabatan Lubi sungguh menarik. Jadwal pelajaran di Akademi Sihir Rhine adalah dua hari libur dalam seminggu. Empat hari pertama, para siswa belajar dengan sungguh-sungguh. Hari kelima, Jumat, adalah hari studi mandiri seluruh sekolah. Siswa bebas melakukan apa saja: berlatih, mempraktikkan pelajaran selama seminggu, dan sebagainya. Tugas Lubi adalah duduk di kelasnya, mengawasi agar tak terjadi hal-hal yang tak diinginkan.
"Ini benar-benar pekerjaan yang santai."