Bab Delapan Belas: Memandikan Sang Tuan
Magyuna seolah kembali ke masa lalu, ke masa kecilnya ketika kedua orang tuanya masih ada. Ia melihat kembali kenangan langka bersama keluarganya sebelum orang tuanya pergi untuk selamanya. Saat itu, mereka pernah pergi bertamasya ke hamparan ladang bunga. Kedua orang tuanya tertawa riang membawanya menikmati keindahan alam, sementara ia sendiri jatuh terjerembab karena berlari terlalu cepat. Wajah ibunya yang penuh kekhawatiran masih terbayang jelas di benaknya; sambil menenangkan dirinya yang menangis, sang ibu menggunakan sihir penyembuhan untuk mengobati lututnya yang terluka. Ayahnya pun hanya tertawa dan berkata bahwa ia nakal seperti anak laki-laki.
“Bisa menjebak seorang dewa sihir seperti aku, menarik juga,” gumam Magyuna.
Ia baru saja menyaksikan seluruh fragmen kenangan itu, lalu mematahkan ilusi di hadapannya dengan sihir. Barusan, ia masih bercakap santai dengan Ruby, namun tiba-tiba mencium aroma harum yang menusuk indera, dan kesadarannya terseret kembali ke masa lalu. Ia yakin orang yang melakukannya tidak bermaksud jahat. Berkat kejadian itu, Magyuna bisa kembali melihat wajah kedua orang tuanya yang sudah lama terlupa.
Dalam sekejap, kesadaran Magyuna kembali ke dunia nyata. Ia langsung menyadari bahwa seseorang telah mencampuri udara di sekitarnya. Ia segera menciptakan sihir bantu bernama “Gelembung Udara” untuk dirinya dan Ruby. Sihir ini membentuk bola tak kasatmata di sekitar mereka, menyaring dan memurnikan udara sebelum mengizinkannya masuk ke dalam bola—sebuah sihir pemurnian tingkat lanjut yang sederhana.
“Kalau kau tak kunjung sadar, aku sudah mau mengambil penawar racun,” kata Ruby lega setelah melihat Magyuna siuman. Di wajahnya kini terpasang topeng aneh yang menutupi seluruh muka, dengan bagian bawah yang menonjol ke depan, mirip hidung babi—sungguh bentuk yang tak sedap dipandang.
“Apa yang kau pakai itu?” tanya Magyuna spontan, karena topeng itu mengingatkannya pada serangga sihir bernama Lalat Kepala Besar, salah satu hama yang paling dibenci manusia.
“Ini masker anti racun,” jawab Ruby.
“Seekor naga... naga ungu?!”
Belum sempat Magyuna memikirkan arti masker itu, ia sudah terpana oleh sosok raksasa di belakang Ruby. Tubuh makhluk itu jauh lebih besar dari Mels, setidaknya dua kali lipat, benar-benar berukuran naga dewasa. Namun, itu bukan yang paling mengejutkannya. Yang membuatnya betul-betul terperangah adalah warna kulit naga itu: ungu.
Naga adalah makhluk yang paling mudah dikenali atributnya. Naga api berwarna merah, naga air berwarna biru. Bukan berarti mereka hanya bisa memakai sihir sesuai warna mereka—hanya saja, ketika menggunakan sihir unsur mereka sendiri, kekuatan mereka bertambah besar. Naga hitam seperti Mels, misalnya, tidak punya keahlian khusus selain tubuhnya yang jauh lebih kokoh daripada naga lain—singkatnya, tahan banting.
Makna warna naga sudah lama tak jadi rahasia dalam sejarah manusia. Tapi, tak pernah ada catatan tentang naga berwarna ungu. Jenis ini baru muncul ribuan tahun lalu, tanpa ada yang tahu asal-usulnya atau sebab warna mencolok itu. Namun, naga ini segera jadi simbol bagi atributnya sendiri.
Naga racun—makhluk yang lebih menakutkan dari naga hitam. Naga hitam ditakuti karena bisa menghancurkan setengah kerajaan hanya karena tersinggung. Namun, naga racun sudah masuk daftar buronan ratusan tahun sebelum Douglas terkenal. Hingga kini, ia masih jadi target utama Serikat Penyihir. Siapa pun yang berhasil membunuh naga racun, akan mendapatkan seluruh tubuhnya beserta hadiah besar dari serikat.
Semua itu terjadi karena kejahatan naga racun yang tak terhitung. Jika dibandingkan dengannya, kejahatan naga lain bagaikan kenakalan anak kecil. Ia gemar merusak sumber air. Meski manusia di dunia ini bisa menciptakan air sendiri untuk minum, mereka tahu betapa pentingnya danau alami—setidaknya, kalau ingin makan ikan, harus menangkapnya di danau, bukan?
Naga racun yang muncul secara misterius itu memang selalu mengincar sumber air bersih. Racun yang dikeluarkan dari tubuhnya sanggup mengubah danau jernih menjadi neraka dalam sekejab. Sumber air yang pernah disentuhnya selalu memancarkan bau busuk yang memuakkan, dan hutan di sekitarnya pun tercemar, penuh tumbuhan dan pohon beracun yang bermunculan. Jika dibiarkan, seluruh benua bisa hancur. Karena itu, para penyihir pemberani membentuk kelompok-kelompok kecil, berjaga di sekitar sumber air, memburu naga racun dengan gigih. Serangan manusia membuat naga racun sedikit menahan diri, dan terakhir kali ia muncul pun sudah puluhan tahun silam.
“Salam kenal, aku Naga Racun Veloxis,” ucap sang naga dengan suara lembut dan halus, seolah tak tahu betapa banyak pikiran melewati benak Magyuna.
“Kenal-kenal apa! Bersiaplah mati!” bentak Magyuna.
“Kenapa tiba-tiba mau bertarung segala?” tanya Ruby sambil menahan tangan Magyuna agar tak melepaskan sihir penghancur, penuh kebingungan.
“Lepaskan aku! Itu naga racun! Membunuhnya adalah kewajiban setiap penyihir!”
“Tenanglah, meskipun aku tahu reputasinya buruk, tapi kenyataannya tak seperti yang kau tahu.”
“Coba jelaskan, aku ingin dengar ceritamu,” kata Magyuna setelah berpikir sejenak. Entah sejak kapan, hubungan aneh di antara mereka membuatnya tak sedikit pun ragu mempercayai Ruby.
Dari penuturan Ruby, Magyuna akhirnya tahu satu hal: tak ada satu pun naga yang waras. Alasan Naga Racun Veloxis selalu merusak sumber air ternyata hanya satu: ia suka mandi.
Ya, alasan itu terdengar konyol. Kalau alasan ini disampaikan ke Serikat Penyihir, mungkin sang ketua tua akan marah besar dan melempar Ruby keluar. Tapi kenyataannya memang tak selalu masuk akal.
Menurut Veloxis, ia pun putus asa. Ia tak pernah ingin terlahir sebagai naga racun. Orang tuanya sendiri bukan naga racun, hanya naga biasa. Ia jadi seperti itu karena saat masih dalam telur, ibunya tak sengaja memakan tanaman beracun yang mematikan. Betapa mengerikannya tumbuhan yang bisa meracuni naga, tak perlu dijelaskan lagi. Namun, sang ibu bertahan hidup, dan melahirkan satu-satunya naga racun dalam sejarah naga.
Dewa Naga seperti sedang bercanda. Ia memberi Veloxis racun yang sanggup membunuh sesama naga, tapi kepribadiannya justru seperti anak gadis yang suka mandi. Ia tak tahan jika tubuhnya kotor. Saat kecil, ia masih bisa meminta naga air membantu membuat air untuk mandi. Namun, seiring bertambah usia, air mandinya pun menjadi sangat beracun. Membersihkan sisa mandinya saja butuh upaya besar, sampai akhirnya tak ada naga yang mau menolongnya lagi. Terpaksa, ia pun meninggalkan sarang naga dan meresahkan manusia.
“Kau juga perempuan, kalau tak boleh mandi, apa yang akan kau lakukan?”
Mata Veloxis memancarkan kesedihan. Suaranya selalu berat dan dewasa, membuat Magyuna akhirnya sadar bahwa naga racun yang jadi momok benua selama ribuan tahun ternyata seekor naga betina.
“Mungkin aku akan gila...” jawab Magyuna jujur. Bagi perempuan, hal yang paling tak tertahankan adalah tubuh yang kotor. Mandi bukan sekadar membersihkan diri, melainkan juga kenikmatan hidup setelah lelah bekerja, dibalut kehangatan air. Jika suatu hari ia tak bisa mandi lagi, mungkin ia akan jadi musuh seluruh dunia.
“Pantas kau tahu banyak tentang naga. Rupanya Mels bukan naga pertama yang pernah kau lihat,” ujar Magyuna, baru sekarang ia paham kenapa Ruby yang tinggal di pegunungan tahu begitu banyak soal naga. Semula ia kira Dragun yang memberi tahu, ternyata Ruby punya rahasia sendiri dengan naga racun.
“Aku berbeda dari penyihir. Aku tak bisa membuat air sendiri. Danau itu adalah sumber air terpenting bagiku, tak boleh sampai rusak. Jadi, sebelum dia masuk untuk mandi, aku membuat perjanjian dengannya,” kata Ruby sambil mengangguk. Tak ada yang tahu betapa berat perjuangannya saat itu—demi bertahan hidup, ia harus berhadapan dengan makhluk terkuat di dunia. Setelah bersusah payah membujuk Veloxis, ia bahkan hampir mati keracunan bau tubuh naga itu.
“Tunggu, isi perjanjiannya...”
“Ya, aku yang harus membantunya mandi.”