Bab 121: Zodiak
Setelah berjalan-jalan di Jalan Budaya bersama Xue Bei, mereka kemudian menyusuri Alun-alun Jumei. Saat melewati sebuah toko emas, Jiang You memilih sebuah liontin shio dari emas murni sebagai hadiah ulang tahun untuk Xue Bei.
Ketika pelayan toko bertanya apakah perlu dibungkus, Xue Bei menatap Jiang You dan berkata, "Pasangkan untukku."
Jiang You mengambil kalung itu, berdiri di belakang Xue Bei, lalu melingkarkannya ke lehernya. Ia menyibak rambut Xue Bei. Jemarinya menyentuh kulit gadis itu. Di bawah lampu hangat pusat perbelanjaan, rambut halus di tengkuknya tampak dilapisi cahaya keemasan yang redup.
Xue Bei menunggu dengan tenang sampai ia mendengar Jiang You berucap, "Sudah selesai."
Pelayan itu meletakkan cermin di depan Xue Bei. "Aura Anda sangat bagus, sangat cocok dengan warna emas ini."
Xue Bei menoleh ke arah Jiang You. Jiang You tersenyum, "Sangat cantik."
Ia mengulurkan tangan untuk menyentuh liontin emas tersebut. "Ayo pergi."
"Mau menonton film?"
"Film apa yang sedang tayang?"
Mereka berjalan menuju eskalator. Jiang You mengeluarkan ponselnya dan mencari, "Pada jam ini, ada film aksi dengan efek khusus, dan ada juga film romantis yang ulasannya cukup bagus."
"Film romantis saja."
"Baik, aku yang beli tiketnya."
Selama dua jam film berlangsung, Jiang You tertidur selama satu setengah jam, sementara Xue Bei akhirnya meneteskan air mata menjelang akhir film.
Ia menolak ajakan Jiang You untuk makan malam bersama. Mereka berdiri di pintu masuk Jalan Budaya saat taksi yang dipesan tiba.
"Aku pergi dulu," ujarnya.
Tiba-tiba, ia memeluk Jiang You sebentar, lalu bergegas menuju taksi, membuka pintu, masuk, dan menutupnya. Taksi kuning itu dengan cepat membaur ke dalam arus lalu lintas.
Jiang You mendongak, menghela napas panjang, lalu berbalik dan berjalan kembali ke Rumah Serangga.
Ia naik ke atas dan mendorong pintu kamar tidur tamu. Jiang Mo telah menenun sebuah tempat tidur gantung dari jaring laba-laba. Anak itu berbaring di sana sambil mengayun-ayunkan tubuhnya sembari menonton video pendek. Jiang You berjalan ke sisi tempat tidur, melepas sepatunya, dan ikut berbaring.
Jiang Mo menoleh menatapnya.
"Kau kan sudah punya tempat tidur, pinjamkan yang ini padaku sebentar saja."
Sebuah stik permainan dilemparkan ke dada Jiang You.
Jiang You mengambil stik itu, "Bagaimana kalau kita bertanding main *game* mencocokkan gambar?"
Jiang You menggeser posisinya agar lebih nyaman. "Main gomoku juga boleh, bukankah dulu kau sangat menyukainya?"
Jaring laba-laba dilemparkan ke wajah Jiang You.
"Iya, iya, terserah kau mau main apa. Tapi aku harus jelaskan dulu, aku ini sudah tua, aku takut darah, dan jantungku juga tidak terlalu kuat. Aku tidak bisa main *game* tembak-tembakan yang berdarah-darah."
Lebih banyak jaring laba-laba menempel di wajahnya. Akhirnya, ia menemani Jiang Mo bermain *game* semalaman suntuk. Setelah pola tidurnya kacau, ia butuh waktu cukup lama untuk mengaturnya kembali.
Hari ketika tim konstruksi datang, ia akhirnya berhasil bangun pada pukul 10 pagi dengan susah payah. Kepala tukangnya bernama Lu Bin. Wajahnya berwarna kuning kecokelatan dengan tubuh yang agak tambun.
Ia memegang denah konstruksi, membandingkannya sambil berkeliling halaman, lalu berkata, "Jadi, kita kerjakan sesuai dengan denah ini?"
"Boleh. Kira-kira butuh berapa hari?"
"Pengerjaannya cukup rumit, diperkirakan butuh setidaknya setengah bulan lebih."
Jiang You berpikir sejenak, "Di kontrak tertulis 13 hari, tapi kalau molor beberapa hari tidak masalah, mengingat kita harus mempertimbangkan cuaca hujan dan sebagainya."
"Kalau begitu, saya mulai bekerja sekarang?"
"Kau lihat pohon itu?" Jiang You menunjuk ke arah pohon.
Lu Bin mengikuti arah pandangan Jiang You.
"Aku secara khusus menuliskan pohon ini di dalam kontrak. Kalau sampai daunnya rontok atau kulitnya rusak, kalian harus memberi ganti rugi padaku."
"Masalahnya, ini sudah mau musim dingin, daunnya pasti akan gugur."
"Maksudku jangan sampai terbentur," tegas Jiang You.
"Saya mengerti. Sebelum mulai bekerja, saya akan pasang pagar di sekelilingnya, bagaimana?"
"Bagus."
Setelah melihat Pak Lu dan timnya selesai memagari pohon kamper tersebut, Jiang You memanggil Jiang Mo turun, lalu mengunci pintu dan membawanya ke Taman Wenfeng untuk memberi makan merpati.
Di pintu masuk area hijau, ia membeli dua kantong pakan burung. Ia bersandar di pagar sambil melemparkan pakan ke kejauhan. Beberapa merpati putih terbang turun mematuk makanan itu. Setelah kenyang, mereka mengepakkan sayap dan terbang kembali ke atap naungan. Selain bau kotoran burung yang menyengat, semuanya terasa indah.
Dua kantong pakan habis dalam waktu singkat. Setelah menonton sebentar, Jiang You menggendong Jiang Mo keluar dan berpapasan dengan sepasang lansia. Mereka mengenali Jiang You.
Jiang You mempercepat langkahnya, "Paman Han, Bibi Zhang, sedang jalan-jalan di taman?"
"Iya," jawab Han Guoli.
Zhang Li melihat ke arah Jiang You, "Ini anak yang kau adopsi? Terlihat dirawat dengan sangat baik."
"Iya. Jiang Mo, ini Kakek Han dan Nenek Zhang."
Jiang Mo menatap mereka sambil mengedipkan matanya.
"Dia terlihat agak mirip denganmu."
Jiang You tertawa, "Bagian alis dan matanya sangat mirip, kan?"
"Betul, terutama matanya. Berapa usianya?"
"Bulan depan genap enam tahun."
"Berarti sudah bisa masuk sekolah dasar."
Mereka berjalan perlahan menyusuri jalan setapak yang rindang.
"Soal rumah kami itu, kalau harganya 2,8 juta, apakah kau masih berminat?"
"Belum terjual ya?"
Zhang Li menghela napas, "Kau kan teman Xiao Nan, jadi aku tidak akan menyembunyikannya darimu. Aku tidak mau menjual rumah itu kepada kedua kakak laki-lakiku."
"Kenapa?"
"Awalnya kami belum memutuskan apakah akan menghabiskan masa tua di Amerika atau kembali ke sini. Kakak sulungku bilang, kalau aku menetap di dalam negeri, biarkan keponakanku yang merawat kami, dan setelah kami meninggal, rumah itu akan menjadi milik keponakanku. Aku merasa itu masuk akal, tapi Pak Han tidak setuju." Zhang Li melirik Han Guoli.
"Bagaimanapun, keponakan tidak bisa diandalkan seperti anak sendiri," sahut Jiang You menanggapi.
"Pak Han juga bilang begitu. Tahun lalu ibuku meninggal, aku tidak sempat melihatnya untuk terakhir kali. Kartu gaji aku dan Pak Han semuanya ada di tangan kakak sulungku. Saat kami kembali, uang di dalamnya ternyata sudah habis. Padahal biaya pengobatan ibuku hampir semuanya ditanggung asuransi. Aku bertanya pada kakakku bagaimana uang itu digunakan, katanya untuk membayar dua perawat dan suplemen nutrisi."
Mereka sampai di dekat bangku taman dan duduk di sana.
"Dulu dia selalu bilang kakak laki-lakinya sangat baik," ujar Han Guoli dengan suara berat. "Sekarang kami masih bisa berjalan, keponakannya memang masih bersikap baik pada kami. Tapi nanti setelah surat wasiat dibuat dan kami tidak sanggup lagi bergerak, kalau mereka memasukkan kami ke panti jompo, bukankah kami akan berada dalam situasi yang serba salah?"
Zhang Li menyeka matanya, "Aku punya teman yang tinggal di panti jompo. Makanan yang sampai ke tangannya selalu dingin. Kamarnya pun jauh, satu kamar diisi beberapa lansia, tapi hanya ada satu perawat..."
Jiang You menurunkan Jiang Mo. Anak itu berjalan beberapa langkah ke arah semak-semak dan menarik-narik daun.
"Kalau harganya 2,8 juta, saya setuju."
Han Guoli membuka mulutnya, lalu menutupnya kembali.
Zhang Li angkat bicara, "Xiao Jiang, setelah prosedurnya selesai, bisakah kau membantu kami mengirimkan sejumlah dolar ke rekening putriku?"
"Bisa saja. Tapi kapan kalian akan kembali? Prosedur pembelian rumah tidak bisa secepat itu."
Han Guoli dan Zhang Li saling berpandangan, "Tanggal 5 Desember."
"Apakah kalian punya agen properti yang bisa dipercaya? Kalau kita urus sendiri, prosedurnya pasti tidak akan selesai sebelum tanggal 5."
Han Guoli menggeleng.
"Kalau begitu, akan kupanggilkan agen yang sudah biasa bekerja sama denganku. Biaya agen akan kutanggung, kalian tidak perlu khawatir."
Zhang Li menatap Jiang You, "Terima kasih banyak, Nak."