Bab 73 Membaca Buku
“Sudah mau mengadakan pesta pernikahan?” tanya Yuan Shu dengan nada terkejut.
“Ya, nanti undangannya kukirim ke kalian.”
“Pasti datang, pasti datang,” Jiang You mengambil sebotol cola dingin dan memberikannya pada Yuan Shu, “Kamu juga harus semangat, ya.”
“Lalu kamu sendiri?”
“Aku sudah punya anak, sedang tidur siang di atas,” jawab Jiang You setengah bercanda.
“Hah?” Yuan Shu tampak kaget.
“Nggak percaya, tanya saja sama Zhao Shiqi.”
Yuan Shu melirik ke arah Zhao Shiqi.
“Benar, pagi tadi masih ikut kami ke taman, nakal sekali,” ujar Zhao Shiqi dengan wajah serius.
“Umurnya berapa?”
“Hampir enam tahun.”
“Jadi itu…” Yuan Shu menunjuk Jiang You dengan jarinya, “Kalau dihitung masa kehamilan sepuluh bulan… berarti…”
“Itu anak temanku, sementara dititipkan di sini,” Jiang You tertawa seraya meneguk cola, “Pacarmu dulu pernah tinggal di Tangjiang?”
Zhao Shiqi menggeleng, “Nggak, dia orang Zhuzhou.”
“Lalu temannya itu…” Jiang You mencoba menebak.
“Kenal lewat daring, sepertinya dari klub baca.”
“Klub baca? Wah hebat juga, aku sih cuma baca cerita online, yang isinya perkelahian.”
“Apa hebatnya,” Zhao Shiqi mendesah, lalu menyenggol lengan Yuan Shu, “Kasih aku sebatang rokok.”
“Nanti kalau pacarmu tahu, jangan bilang dari aku ya.” Yuan Shu mengeluarkan kotak rokok dan pemantik, lalu meletakkannya di atas meja.
“Aku sudah nggak bisa ngatur dia,” Zhao Shiqi menyalakan rokoknya, “Klub baca itu tiap hari harus absen dan berbagi pendapat, dia main sendiri sih nggak apa-apa, tapi sampai-sampai maksa aku juga baca katanya biar sama-sama berkembang, seolah-olah aku ini menghambat dia. Padahal aku kerja seharian capek, pulang cuma pengen nonton video pendek buat santai, eh dia bilang aku nggak punya semangat, nggak punya cita-cita. Nggak dipikir juga dia kerja ngapain, aku kerja ngapain. Tiap kali mau bicara baik-baik, dia pakai kata-kata entah belajar dari mana buat menekanku.”
Zhao Shiqi menghembuskan asap rokok, “Dia bilang teman-temannya hebat-hebat, punya jaringan luas, nyuruh aku juga harus begini-begitu, ujung-ujungnya kamu lihat sendiri, undang biksu entah dari mana, tiga puluh ribu lenyap begitu saja, satu meter persegi tuh.”
“Sabar, sabar, kalian sudah bertahun-tahun bersama, lagi pula sebentar lagi pesta pernikahan…”
“Aku cuma bisa curhat sama kalian, kalau bukan karena keluarga mendesak, aku juga nggak ada tenaga buat ulang lagi semuanya, ya sudahlah.”
“Nanti kalau sudah menikah, punya anak, hidupmu bakal berkutat sama anak terus,” Jiang You mengambil sebatang rokok dari kotak, “Dia kerja apa?”
“Guru musik SD.”
“Bagus dong, ada waktu buat urus rumah.”
“Urus rumah? Asal dia nggak bikin ulah aku sudah bersyukur, sungguh. Sekarang aku paham kata orang dulu, perempuan nggak perlu pandai, yang penting berakhlak.”
Jiang You mematikan rokoknya, “Aku ke atas dulu, lihat anak itu sudah bangun atau belum, kalian lanjut ngobrol saja.”
Jiang You masuk ke kamar utama, Jiang Mo sudah terbangun. Seekor laba-laba membuat sarang bening antara sandaran ranjang dan meja samping. Jiang Mo dengan penasaran mengulurkan jarinya, mencolek-coleki jaring laba-laba itu.
Jiang You berjongkok, menarik seutas benang jaring, lalu melepaskannya.
Jiang Mo menoleh memandangnya.
“Mau minum susu?” tanya Jiang You.
Laba-laba itu merayap masuk ke rambut Jiang Mo.
“Kamu kelihatan puas sekali,” ujar Jiang You sambil membantu Jiang Mo mengenakan baju, lalu menggendongnya turun ke bawah. Zhao Shiqi dan Yuan Shu sudah mematikan rokok.
Jiang You mengangkat Jiang Mo ke hadapan Yuan Shu, “Bagaimana? Lucu kan?”
Yuan Shu langsung menyadari ada yang aneh pada Jiang Mo, ia bertanya, “Dia kenapa?”
“Fungsi otaknya terganggu, rawat beberapa tahun lagi juga akan membaik.”
Setelah Jiang Mo duduk baik-baik, Jiang You mengambil gelas dari dapur, lalu membongkar beberapa bungkus kuaci, kacang dan biji pinus, semua ditaruh di atas meja. Ia menuangkan setengah gelas cola ke dalam gelas, lalu memberikannya ke Jiang Mo. Jiang Mo menatap gelas itu, lalu melihat ke arah Jiang You, kemudian meneguknya.
Jiang You membantu memegangi gelas agar tidak tumpah.
“Anak kecil jangan dikasih minum cola,” kata Yuan Shu.
“Nggak apa-apa, sedikit saja, anak kecil gemuk sedikit juga lucu,” jawab Jiang You.
Setelah cola dalam gelas habis, Jiang You mengambil kembali gelas dari tangan Jiang Mo dan meletakkannya di meja.
Saat itu, seorang perempuan masuk, mengenakan sandal jepit hitam dengan hak tebal, gaun pendek biru dongker berlengan kelelawar dan berpotongan ramping di pinggang.
Itu adalah Lei Yao.
Melihat banyak orang di toko, ekspresi Lei Yao tampak heran, ia bertanya, “Sekarang lagi buka?”
Jiang You menatapnya, “Silakan lihat-lihat saja.”
Lei Yao berkeliling di dalam toko, lalu memilih dua kartu pos bergambar pemandangan, “Aku ambil dua ini saja.”
“Di meja ada pena,” ujar Jiang You sambil mendorong kotak alat tulis ke arahnya.
“Nggak usah, aku bawa saja langsung.”
“Baik,” Jiang You berdiri dan berjalan ke belakang meja, “Tiga puluh enam, tunai atau pakai Alipay?”
“Pakai WeChat saja.”
Jiang You menunjuk kode QR yang menempel di depan meja kasir, “Silakan scan, aku kasih dua perangko bonus.”
Jiang You mengeluarkan kantong kecil, memasukkan perangko dan kartu pos ke dalamnya, lalu menyerahkannya pada Lei Yao.
“Terima kasih,” Lei Yao menerimanya.
“Halaman di luar itu cukup cantik.”
“Butuh usaha juga buat menatanya,” balas Lei Yao sambil tersenyum, lalu berbalik keluar dari Rumah Serangga.
Kakinya yang jenjang berjalan bergantian di bawah sinar matahari.
Zhao Shiqi berkomentar, “Toko kamu ini sepi juga ya, dari tadi cuma laku satu barang.”
“Akhir-akhir ini lumayan, pelan-pelan saja,” kata Jiang You sambil mengambil dua permen susu dari toples, satu ia makan sendiri, satu lagi ia buka bungkusnya dan memasukkan ke mulut Jiang Mo, “Hisap saja, jangan ditelan, paham?”
“Dia ngerti?” tanya Yuan Shu tak tahan.
“Mungkin bisa.”
Setelah mengobrol sebentar, Zhang Qingsu kembali mengirim pesan.
“Pergi saja, pergi saja,” Jiang You membujuk Zhao Shiqi, “Nanti kalau aku ke Zhuzhou, giliran kamu ajak aku jalan-jalan ya.”
Yuan Shu juga ikut membujuk, “Orang sudah mau menikah sama kamu, turuti sedikit keinginannya.”
“Oke,” Zhao Shiqi berdiri, “Nanti kalau kalian ke Zhuzhou, aku ajak jalan-jalan beberapa hari.”
Setelah Zhao Shiqi pergi, Yuan Shu juga duduk sebentar lalu pamit.
Jiang You mengambil selembar kertas dari kotak alat tulis, lalu mulai menggambar pola warna biru di dahi Zhang Qingsu yang tadi ia lihat.
Coraknya terdiri dari lima kelopak yang melengkung, membentuk sebuah pentagon di tengahnya.
Setelah selesai, ia memotret gambarnya, lalu mengirimkannya pada Tang Butian.
Tang Butian: Ini apa?
Jiang You: Sepertinya ada hubungannya dengan klub baca itu, menurutku mirip dengan tato itu.
Ia menceritakan secara singkat kejadian hari ini.
Tang Butian: Oke, sudah tahu.
Jiang You: Ada hadiahnya nggak, bos?
Tang Butian: Nggak ada.