Bab 75: Memotong Kegelapan
Setelah Sun Yu kembali duduk di meja kerjanya, Jiang You pun duduk di hadapannya.
Sun Yu berkata, "Pamannya memang sudah menunjukkan perilaku penelantaran yang jelas."
Jiang You mengerti maksud Sun Yu, "Tapi pamannya juga tidak bisa diandalkan. Lihat saja pakaiannya, sepertinya sudah dipakai berhari-hari, cuaca sepanas ini sampai bau asam segala."
"Kau benar-benar teliti memperhatikan."
"Aku sudah mengurusnya tiga hari, sungguh berat rasanya berpisah. Tidak ada jalan lain kah?"
"Aku ingat pernah ada kasus serupa," Sun Yu mencoba mengingat, "Tak ada kerabat atau teman yang layak menjadi wali, akhirnya hak asuh diberikan ke Panti Asuhan Tangjiang. Tapi kau tahu sendiri bagaimana kondisi panti itu, anak seperti Jiang Mo yang butuh pendampingan dan rehabilitasi jangka panjang jelas tidak cocok," ia mendongak menatap Jiang You, "Andai saja kau benar-benar kerabatnya."
"Kalau ditarik beberapa generasi ke atas, mungkin saja benar."
"Jadi kau ingin mengadopsinya..." Sun Yu mengamati ekspresi Jiang You.
"Ada keinginan, hanya saja aku masih berencana menikah, mencari istri, kalau bawa anak begini, aku pasti hanya bisa cari jodoh janda beranak."
"Tak separah itu, kan?"
"Benar, kau coba saja daftar ke situs perjodohan, kau akan tahu. Sepertiku ini, tak punya ijazah sarjana, kerjaan juga tak jelas, pasti langsung dicoret."
Sun Yu jelas tidak percaya sepatah pun, "Bukankah kau sudah masuk ke sistem, bahkan tak perlu absen di kantor."
"Tapi aku tidak digaji, bahkan biaya satu juta delapan ratus ribu yang pernah kutalangi sampai sekarang pun belum diganti, bung! Simpan di rekening pun bunganya sudah enam puluh ribu."
"Itu kau harus urus ke Tang Butian."
"Aku mana berani cari dia..."
Baru saja ia selesai bicara, pintu ruang kerja terbuka, Tang Butian masuk dengan wajah dingin.
Jiang You hendak berdiri, tapi sebilah pisau kayu melayang, menempel di lehernya.
Tang Butian melangkah maju, pintu di belakangnya menutup otomatis.
Ia berkata, "Sun Yu, tolong keluar sebentar."
"Baik." Sun Yu melirik ekspresinya, cepat-cepat berdiri, membawa berkas kasus keluar.
Pintu tertutup kembali.
Jiang You menggeser pisau kayu itu, "Peringatanku ya, aku juga bisa marah, jangan suka-suka main kekerasan karena wajahmu cantik."
Ia mendengar suara dingin Tang Butian, "Kau ingin hak asuh Jiang Mo, kan?"
"Benar." Jawabnya tanpa ragu.
Untuk pertama kalinya Tang Butian melihat kesungguhan di mata Jiang You.
Pisau kayu itu kembali ke tangannya.
Jiang You memegang lehernya, "Kau bikin aku kaget, kukira ada urusan apa."
"Jiang Yuanhao tidak berbohong."
"Tidak, dia berbohong. Setelah memberinya obat, dia menyarankan Wang Ting duduk di belakang supaya bisa menjaga Jiang Mo. Wang Ting tak mau, mereka bertengkar, dia kalah, akhirnya tak memperhatikan saat Jiang Mo turun dari pintu mobil yang terbuka, lalu dia langsung pergi. Aku tidak berbuat apa-apa."
"Aku tidak percaya."
"Faktanya, aku melindunginya, Tang Butian."
Tatapan Tang Butian tajam menembus matanya, "Apa yang ingin kau lakukan pada Jiang Mo?"
"Memenuhi keinginannya."
"Keinginan apa?"
"Kau akan melihat sendiri."
"Mengapa jiwa hidup Jiang Mo dan Yang Xuan bisa muncul di rumah serangga?"
"Untuk memangsa."
"Jelaskan."
"Saat umpan yang pas memicu benang, maka langsung dikirim ke hadapan pemangsa."
Tang Butian merasa hawa dingin merayap dari tulang ekornya.
Ia mendadak sadar, seperti apa sebenarnya keberadaan Jiang You.
Jiang You berkata tanpa beban, "Aku akan membuat kesepakatan dengan mereka, saling memenuhi kebutuhan. Kadang, kalau aku sedang baik hati, aku juga beri layanan gratis. Itulah inti bisnis rumah serangga."
Jiang You menyimpulkan, "Adil dan jujur, tanpa tipu muslihat."
"Kau tak takut aku..."
"Jujur saja, tidak terlalu, cuma agak malas ribut. Halamanku baru saja selesai direnovasi, usahaku juga mulai berjalan."
"Bagaimana dengan Jiang Mo?"
"Bukan harus dia, keputusan ada di tanganmu."
Tang Butian menundukkan kepala.
Jiang You berdiri, berjalan mendekatinya, mengangkat sehelai rambut panjangnya, "Dua tahun menempa hati di dunia, negosiasi dengan orang saja masih kaku."
Mata Tang Butian membelalak.
Ia mendengar Jiang You berkata, "Untung saja aku orangnya tulus."
Selepas keluar dari kantor polisi, Jiang You naik taksi kembali ke Jalan Budaya, mampir sebentar di Toko Buku Cahaya Harmoni milik Chen Nan, minum kopi dan ngobrol, menolak ajakan Chen Nan ke gym, lalu pulang ke rumah serangga.
Ia membenamkan diri di kursi belakang meja kasir.
Menarik napas panjang.
Membuka Weibo, mendapati fans dua girl group semalam baru saja istirahat, kini mulai bertengkar lagi.
Setelah membuka beberapa halaman di forum, ia melihat utas dari seorang “ketua kelas”, akhirnya paham kronologinya.
Setelah kabar persiapan album digital grup 123 beredar, grup Kecil Nakal juga mengumumkan akan merilis album.
Fans 123 menuduh Kecil Nakal numpang tenar, cari perhatian.
Fans Kecil Nakal membalas, kalau grup kalian bisa rilis album, kenapa kami tidak boleh.
Fans 123 merasa Kecil Nakal baru saja selesai seleksi, baru pertama kali tampil minggu ini, mana mungkin sudah punya banyak fans, pasti fans bayaran. Pada akhirnya, kedua fanbase itu saling bersaing, membuat penggalangan dana di aplikasi yang sama, masing-masing menargetkan satu juta, siapa yang lebih dulu mencapai.
123 Maju Bersama beranggota 12 orang, berarti tiap anggota butuh 84 ribu. Kecil Nakal 24 orang, rata-rata tiap anggota 42 ribu.
"Saatnya menguji kekuatan ginjal para fans," gumamnya.
Ia kembali ke beranda Weibo, melihat Hu La Xiaopeng membagikan tautan berita yang dulu diberikan Tang Butian, lalu menambahkan: Dengar-dengar keluarga ini memang aneh, paman bisa menelantarkan anak dengan kerusakan otak di rest area, pamannya sendiri umur tiga puluhan belum kerja, utang judi pula.
Akun Hu La Xiaopeng baru saja mendapat banyak pengikut, postingan ini langsung dibagikan ribuan kali, setengah jam kemudian sudah puluhan ribu.
Seekor laba-laba melintas di hadapannya.
Ponselnya bergetar, panggilan dari Zhou Liang.
Jiang You mengangkatnya.
"Kak Jiang, kau ingat unit apartemen yang kau sewakan akhir Juni lalu?"
"Ingat, kenapa?"
"Pagi ini aku mengantar klien lihat unit lantai enam nomor 56, pas di lantai lima aku cium bau aneh. Aku ingat itu apartemenmu, jadi setelah selesai, aku naik lagi, ketuk pintu, tak ada yang buka. Hari ini Senin, kemungkinan semua kerja, tapi aku rasa tetap harus kasih tahu kau."
"Aku akan cek sendiri," Jiang You berpikir sejenak, "Bau anehnya seperti apa? Makanan gosong atau sampah busuk?"
"Susah dijelaskan, pokoknya bikin pusing, menurutmu perlu lapor polisi?"
"Aku cek dulu, terima kasih ya."
"Sama-sama, sudah sewajarnya."
Setelah menutup telepon, Jiang You berdiri, meregangkan badan, "Kenapa ya, makin lama pensiun hidupku malah makin sibuk?"