Bab 8: Hidangan Disajikan
Setelah naik ke atas, Jiang You meletakkan bir di atas meja, lalu ia duduk. “Aku ingat tahun lalu di sini, usahanya belum seramai ini.”
“Sekarang bisnis makanan memang untung. Kudengar, si Hu Gendut sudah membelikan rumah untuk anaknya di dalam lingkar kota,” kata Li Ronggao sambil mengeluarkan pembuka botol dari gantungan kunci, satu per satu membuka tutup botol bir.
“Uang yang didapat dari kerja keras.”
“Benar, jam tiga dini hari sudah harus bangun ke pasar beli sayur. Aku tetap kagum padamu, pandanganmu tajam, bertindak cepat. Hanya dalam beberapa tahun, satu rumah jadi empat,” Li Ronggao melirik Zhou Liang, “Kamu harus belajar dari Jiang.”
“Hanya soal peruntungan.”
Di sela perbincangan, dua porsi udang rebon dibawa ke meja mereka.
Jiang You mengenakan sarung tangan, mengambil seekor udang, memisahkan kepala dan ekor, lalu mengupas dagingnya.
Dagingnya kenyal dan penuh, bumbunya meresap sempurna.
Jiang You langsung memakan tiga ekor. “Di Jalan Budaya juga ada yang jual udang rebon, tapi kurang bersih, tidak dibersihkan ususnya seperti di tempatnya si Hu Gendut ini.”
“Pelayan, mengapa pesanan kami belum juga dihidangkan?”
Suara tajam seorang wanita menarik perhatian semua orang.
Jiang You menoleh ke arah suara itu. Ternyata Xiao Chen.
Nyonya pemilik restoran buru-buru naik tangga, berjalan ke meja Xiao Chen, dan meminta maaf, “Maaf, hari ini memang ramai, saya akan ke dapur untuk mempercepatkan pesanan Anda.”
“Meja sebelah saja sudah mendapat dua hidangan, meja saya satu pun belum—”
“Mereka datang lebih awal, dan yang dihidangkan baru makanan dingin—”
“Kami sudah hampir setengah jam di sini!”
“Baik, saya akan segera cek pesanan Anda, maaf ya, sebentar lagi pasti dihidangkan, sebentar lagi!”
Zhou Liang mengunyah daging udang, lalu setelah menelannya, berkata, “Kita bahkan belum setengah jam di sini.”
Suara Xiao Chen terus mengganggu telinga mereka. “Kalau makanannya belum datang, setidaknya beri kami air minum...”
Saat itu, Hu Gendut naik ke atas, bertanya, “Ada apa ini?”
“Hidangan sedikit lambat,” jawab nyonya pemilik.
“Maaf, benar-benar ramai tahun ini. Bagaimana kalau saya traktir satu botol minuman, setuju?”
Xiao Chen menatap tiga rekannya, “Siapa juga yang mau minuman, lebih baik traktir satu hidangan, kukira ikan kakap kukus saja.”
Nyonya pemilik tampak ragu dan melirik Hu Gendut.
Jiang You berdiri, berjalan ke meja mereka, menatap Xiao Chen, “Xiao Chen?”
Hu Gendut memberi isyarat pada nyonya pemilik, lalu ia turun.
Xiao Chen tertegun, lalu mengenali Jiang You. Suaranya mengecil, “Kamu juga makan di sini?”
“Tadi waktu aku turun ambil bir, sepertinya sempat melihatmu masuk, tapi kurang jelas, jadi tidak berani menyapa, ternyata benar kamu.”
Xiao Chen tersenyum canggung.
“Mau aku bagi dua kati udang rebon untukmu? Di mejaku baru saja dihidangkan, masih panas.” Jiang You menunjuk ke arahnya.
Xiao Chen melirik ke arah yang ditunjuk Jiang You, pandangannya terhenti pada rantai emas di leher Li Ronggao.
Sadar akan tatapannya, Li Ronggao tersenyum kepadanya.
Xiao Chen segera mengalihkan pandangan, auranya langsung turun, “Tidak perlu, aku cuma agak tidak sabar saja.”
Nyonya pemilik datang membawa nampan berisi tumis telur daun bawang dan daging kentang. Ia meletakkan hidangan di meja, “Hidangan berikutnya sedang dimasak.”
“Kalau begitu aku kembali ke meja ya,” kata Jiang You.
“Ya, silakan.”
Jiang You kembali ke tempat duduknya.
Hidangan demi hidangan terus datang.
Jiang You berkata pada Li Ronggao, “Untung hari ini ada Bos Li.”
“Maksudmu aku kelihatan seperti orang jahat, ya?” balas Li Ronggao.
“Tidak, tidak, Bos Li jelas orang baik, kan, Xiao Zhou?” Jiang You duduk, tersenyum, mengangkat botol bir dan bersulang dengan Li Ronggao. Xiao Zhou juga mengangkat botolnya dan bersulang bersama. Mereka menenggak hampir setengah botol sekaligus.
“Kamu kenal dia?” tanya Zhou Liang.
“Pernah bertemu sekali, tahu namanya Chen, sepertinya juga seleb medsos,” Jiang You meletakkan botol bir, “Hari itu aku mengembalikan uang ke orang tua Liang Hao, dia tiba-tiba datang, tak bicara banyak, langsung kasih aku tautan penggalangan dana,” Jiang You menggeleng, “Penggalangan dana seperti itu, platform-nya pasti ambil biaya administrasi. Kedua orang tua itu kelihatannya baik.”
“Jangan-jangan kamu ditipu sama perempuan itu?” kata Xiao Zhou.
“Siapa yang tahu?” Jiang You mengambil sepotong babat, mengunyah beberapa kali, dan menelannya. “Sekarang apa saja, baik buruk, asal jadi topik hangat, pasti ada yang numpang tenar. Soal kebenaran, malah tak ada yang peduli.”
“Itu memang benar.”
“Oh iya, Xiao Zhou, kamu bilang soal pengaduan anonim itu, di mana kamu lihat?”
“Oh, itu ya, di Weibo, bentar aku cari...” Zhou Liang meletakkan sumpit, bersiap melepas sarung tangan untuk mengambil ponsel.
“Makan saja dulu, sekarang dicari pun aku tak bisa lihat,” Jiang You menghentikannya, “Nanti kirim saja ke aku.”
“Oke.”
Mereka makan selama lebih dari satu jam.
Selesai makan, Jiang You turun ke bawah untuk membayar. Hu Gendut menekan beberapa tombol di kalkulator, “Seratus delapan puluh lima.”
Jiang You menatap Hu Gendut, “Ngapain basa-basi sama aku? Berapa pun bilang saja.”
“Untung kamu di sini tadi, perempuan itu...” Hu Gendut menurunkan suara, melirik ke luar, “Sudah tahu kami pasti tak akan ribut, makanya berani pesan ikan kakap kukus, empat orang, total cuma pesan tiga lauk sama satu nasi goreng.”
“Kulihat tas yang dibawanya bermerek, lho,” Jiang You mengeluarkan ponsel, memindai kode pembayaran, lalu memasukkan nominalnya.
Hu Gendut mendengus, “Siapa tahu? Orang yang mampu beli tas bermerek, mana mau makan di tempat seperti ini?”
“Hei, aku pergi dulu.”
“Baik, lain kali aku traktir makan.”
Jiang You keluar dari restoran, Li Ronggao dan Zhou Liang sudah menunggu di luar sambil merokok.
Jiang You mendekat, Li Ronggao melemparkan sebatang rokok padanya. Jiang You mengambilnya, melihat jam, “Aku pulang dulu, sudah malam, tadi sore hujan deras, aku mesti cek beberapa pot bunga di rumah, jangan sampai rusak.”
Sambil berbicara, ia membuka aplikasi untuk memesan mobil.
“Nanti ajari aku tanam tanaman, ya. Kemarin aku pindah beberapa pot sirih gading ke toko, tak sampai dua bulan sudah mati semua,” kata Li Ronggao sambil menyerahkan pemantik api ke Jiang You.
Jiang You menerimanya, menyalakan rokok, mengisap dalam-dalam, lalu menghembuskan asap pelan-pelan. “Soal menanam bunga, aku memang agak paham. Kalau ada waktu senggang, aku ingin benahi lagi kebun kecilku, luasnya hampir dua puluh meter persegi. Mau buat jalan batu, tanam semak-semak, bikin kolam kecil, di dekat tembok buat area santai, pasang rak kaktus di belakang...”
“Mau sekalian pelihara burung, pelihara kura-kura? Kamu betul-betul hidup seperti pensiunan.”
“Burung tak bisa dipelihara.”
Di sela obrolan, sebuah taksi berhenti di pinggir jalan.
Jiang You membuang rokoknya ke tanah dan menginjaknya, lalu melambaikan tangan pada Li Ronggao dan Zhou Liang, “Bos Li, aku pergi dulu. Xiao Zhou, tautan Weibo itu jangan lupa kirim ke aku ya.”
Li Ronggao dan Zhou Liang juga melambaikan tangan ke Jiang You.