Bab 2: Payung
Xiao Chen mundur selangkah, menjaga jarak dengan Jiang You. Nada bicaranya terdengar waspada, “Tidak ada hubungan apa-apa.”
“Oh, begitu?”
“Maksudmu apa?”
“Aku hanya penasaran saja,” Jiang You mengambil gelas di atas meja, berbalik, dan berjalan ke dispenser air. Suaranya tenang, santai, “Kukira kau pacar Liang Hao. Ternyata aku salah.”
Jiang You menuangkan air ke empat gelas yang ada.
Tubuh Xiao Chen sedikit mengendur, “Aku lihat soal ini di Weibo, netizen memintaku...”
“Netizen? Kau selebgram?” Jiang You menoleh menatap Xiao Chen.
Xiao Chen tersenyum tipis, “Tidak juga, cuma punya beberapa puluh ribu pengikut. Omong-omong, apa kau sudah berdonasi?”
“Donasi?”
“Iya, untuk Ayah dan Ibu Liang. Mereka datang jauh-jauh dari desa Xinlong. Liang Hao anak tunggal mereka. Setelah ini, bagaimana mereka bisa hidup?” Xiao Chen menarik napas panjang, kesedihan tergambar di wajahnya. “Susah payah membesarkan anak, jadi lulusan terbaik UN, pintar, kerja baru tahun kedua sudah pimpin proyek, eh, akhirnya...” Xiao Chen menggeleng pelan, lalu mengeluarkan ponsel. “Kau mau aku kirimkan tautannya?”
“Boleh.” Jiang You mengeluarkan ponselnya dari saku.
Setelah menambah Xiao Chen sebagai teman di WeChat, Xiao Chen mengirimkan tautan itu padanya.
“Penggalangan dana, bantuan hukum...” Jiang You membuka tautan itu dan membacakan kata kunci yang tertera di laman itu dengan lirih. “Mau gugat perusahaan?”
“Teknologi Xiao Zha cuma mau ganti rugi enam bulan gaji. Mana cukup untuk hidup orang tuanya.”
Jiang You menutup laman itu.
“Ah...” Xiao Chen melihat Jiang You membuka pintu dapur, satu tangan membawa gelas, lalu keluar dan menghampiri Ayah dan Ibu Liang.
Ayah dan Ibu Liang menerima gelas yang disodorkan. Mereka menatap Jiang You.
Jiang You duduk di depan mereka, “Waktu Maret, Liang Hao membayar uang sewa tiga bulan. Masih ada satu bulan deposit di tempatku,” ia mengeluarkan amplop dari saku celananya dan menyerahkannya ke tangan Ayah Liang. “Tinggal saja dengan tenang di sini. Kamar di sebelah, Xiao Zou, tadi pagi sudah kuomongkan, dia pindah ke tempatku yang satunya.”
“Haizi, haizi...” Bibir Ayah Liang bergetar, “Anak itu... dia tidak mungkin bunuh diri...”
Ibu Liang menangis, “Waktu Imlek, dia janji padaku, tahun depan pasti bawa menantu pulang...”
Xiao Chen keluar membawa dua gelas air lagi, meletakkannya di meja, lalu mengeluarkan tisu dari tas.
Ibu Liang menerima tisu, menyeka air mata, “Dia itu sejak kecil baik hati, tidak pernah marah sama orang...”
“Menjelang tahun baru, dia tahu aku sendirian, mengajakku makan pangsit,” Jiang You berdiri. “Ada urusan di tokoku, aku pulang dulu. Nomor ponselku tertulis di belakang amplop. Kalau ada apa-apa, hubungi aku.”
“Baik, baik...”
“Oh iya, kalian lihat payung biru gelap? Waktu itu aku lupa bawa pulang.”
Ayah dan Ibu Liang saling pandang, lalu menggeleng.
“Boleh aku cari di balkon?”
Ayah Liang refleks mengangguk.
“Aku cuma lihat sebentar, kalau tak ketemu ya sudah,” kata Jiang You sambil membuka pintu dan masuk ke kamar Liang Hao.
Kamar itu sederhana: sebuah ranjang, meja komputer, dan sebuah lemari. Dua koper terbuka tergeletak di lantai.
Di atas meja komputer ada foto hitam putih Liang Hao, di belakang bingkai itu ada sebuah guci abu.
Jiang You melangkahi tumpukan barang di lantai dan menuju balkon.
Pandangan matanya menyapu cepat lantai balkon dan jemuran.
Dia melihat sehelai rambut terbelit pada gantungan baju.
“Sudah ketemu?” Jiang You berbalik. Xiao Chen berdiri di ambang pintu, menatapnya dengan pandangan aneh.
“Sudah.” Ia menuju sisi kiri balkon, mengambil sebuah payung lipat biru gelap di bawah rak bunga. Ia mendorong baju yang tergantung di gantungan, kembali ke depan pintu balkon, menunduk menatap Xiao Chen, “Ada apa?”
Xiao Chen melirik payung di tangannya, “Tidak, tidak ada apa-apa.”
Jiang You berjalan melewati Xiao Chen, keluar dari kamar, dan mengangguk pada Ayah dan Ibu Liang, “Saya pamit dulu.”
Jiang You keluar rumah.
Pintu tertutup dengan suara keras.
Xiao Chen juga keluar kamar, pandangannya tertuju pada amplop di tangan Ayah Liang.
“Jiang juga orang baik...” Ayah Liang melihat nomor ponsel di belakang amplop. “Setelah kejadian ini, entah rumahnya masih bisa disewakan atau tidak.”
Jiang You menuruni tangga.
Awan sebentar menutupi sinar matahari. Angin berhembus, dedaunan bergoyang, menimbulkan suara berdesir.
Jiang You mengeluarkan ponsel, berjalan ke arah gerbang perumahan sambil membuka aplikasi transportasi online dan memesan mobil.
Saat hampir tiba di gerbang, seorang gadis berambut panjang hitam, mengenakan kemeja dan rok overall, memasuki kompleks.
Rok itu menutupi lututnya, jatuh indah di betisnya yang ramping.
Nada dering ponsel berbunyi. Jiang You mengalihkan pandangan, menekan tombol panggil, dan menempelkan ponsel ke telinga.
“Ya, aku juga hampir sampai di gerbang, benar, pintu timur.”
Mereka berpapasan.
Selembar rambut panjang seperti menyapu bahunya.
Gadis itu berhenti, berbalik, pandangannya menatap payung lipat biru gelap yang dibawa Jiang You.
Ia melihat sebuah taksi kuning berhenti di depan gerbang.
Jiang You membuka pintu, duduk di bangku belakang. Setelah pintu tertutup, taksi itu melaju dan segera menghilang dari pandangan sang gadis.
Gadis itu menggenggam erat pedang kayu di tangannya.
Dua puluh menit kemudian, taksi berhenti di depan pintu masuk Jalan Budaya.
Jiang You membayar lewat aplikasi dan turun dari mobil.
Hari kerja membuat jalanan agak lengang.
Jiang You berjalan santai. Toko Rumah Serangga miliknya ada di tikungan, dengan halaman kecil tersendiri. Ia melangkah masuk, berjalan sekitar sepuluh meter ke depan, mengeluarkan kunci dan membuka pintu besar.
“Kok hari ini buka telat?” Suara wanita malas terdengar dari belakangnya.
Jiang You menoleh. Seorang wanita mengenakan gaun panjang abu-abu berleher V, rambut disanggul longgar di belakang kepala, masuk ke halaman.
Itu Chen Nan, pemilik kedai kopi di Jalan Budaya.
Melihat itu, Jiang You tersenyum, “Kak Nan, hari ini cantik sekali, baru beli baju ya?”
“Ah, ini, sudah lama kubeli, cuma sekarang modelnya lagi tren lagi, jadi kupakai.”
“Baju yang kubeli tahun lalu sudah tak muat, perut makin besar saja.”
Chen Nan mendekat, memandang Jiang You dari atas ke bawah, “Kamu memang harus olahraga. Dulu pas baru datang kurus banget. Sekarang anak muda suka yang six-pack.”
“Iya, benar, harus mulai diet.” Jiang You menimpali.
Chen Nan memalingkan wajah, mengipas dengan tangan, “Panas banget, mau kubawakan secangkir latte es?”
“Kasih gula satu sachet, nanti aku ambil. Pagi tadi aku ke kantor polisi buat bikin laporan.”
“Kamu bikin apa?”
“Apa sih yang bisa kubikin, pekerja Xiao Zha yang bunuh diri itu penyewa kamarku.”
“Yang programmer itu? Aku lihat beritanya di media sosial.”
Jiang You mengangguk, “Orang tuanya datang jauh-jauh, anak tunggal pula, kasihan sekali.”
“Iya, perusahaan teknologi itu kedengarannya keren, padahal cuma kapitalis, kerja rodi. Aku tidak mau anakku nanti nikah sama programmer, terlalu berat. Setelah kejadian itu, kamarmu bakal susah disewakan.”
“Ah, tidak masalah, turunkan harga sedikit, dua tiga tahun juga orang lupa.”
“Benar juga sih.”
Setelah mengobrol sebentar, Chen Nan pun pergi.
Jiang You masuk ke tokonya, menyalakan lampu, meletakkan payung di meja panjang. Ia melihat ke kiri dan kanan, membungkuk, mengambil plastik zip dari rak barang. Ia kembali ke meja, membuka payung, dan mencabut sehelai rambut hitam panjang dari gagang payung.
Rambut itu dimasukkan ke plastik zip, lalu ditutup rapat. Setelah itu, payung dan rambut ia simpan di laci di meja kasir.
Ia duduk di kursi empuk di balik kasir, bersandar berat. Ia menghela napas panjang.