Dulu, sebesar apa kebenciannya pada perempuan itu, kini sebesar itu pula cintanya padanya.
Kesadaran bertahan hidup Jiang Yunian sangat lemah. Dokter sudah memberinya asam amino, protein, glukosa, bahkan cairan nutrisi, namun ia tetap terbaring dalam keadaan setengah sadar, enggan untuk bangun. Shen Qianze hampir tak pernah meninggalkan sisi ranjangnya, padahal di perusahaannya menumpuk urusan yang harus ia tangani.
Jika benar-benar tak bisa meninggalkan rumah sakit, ia meminta asistennya membawa semua dokumen penting ke sana. Ia pun duduk di sofa, di depannya ada sebuah laptop, di sampingnya bertumpuk-tumpuk berkas yang harus ia selesaikan.
Seminggu kemudian, akhirnya Jiang Yunian terbangun juga. Saat membuka mata, ia merasa langit dan bumi berputar. Ia tertidur cukup lama, dalam mimpinya ia bertemu semua orang yang ingin ia temui, mereka kini telah berkumpul di tempat lain.
Hanya ia sendiri yang tidak memiliki teman di sana.
Saat Shen Qianze melihat matanya terbuka, ia merasa perasaan terpendam yang sulit diungkapkan menyeruak ke permukaan. Dengan nada sedikit menegur, ia berkata, "Akhirnya kamu bangun juga. Tahukah kamu betapa cemasnya aku?"
Jiang Yunian tidak menjawab. Ia hanya menggerakkan bola matanya, menatap kosong ke arah langit-langit, di punggung tangannya masih tertancap jarum infus. Shen Qianze menyingkirkan poni tebal di dahinya, lalu mengecup lembut tempat itu.
Selama belasan menit ia hanya menatap langit-langit dengan mata terbuka, lalu perlahan memejamkan mata kembali, kembali tertidur lelap.
Kali ini ia bermimpi panjang, bermimpi tentang ibunya. Bertahun-tahun lalu, ibunya diperkosa di depan matanya. Ia ingin melangkah membantu, tapi tidak bisa, kakinya seperti terpaku, tak peduli sekeras apa ia berusaha, ia tetap tak bisa bergerak.
Setelah itu, ibunya yang patah semangat membawanya ke Kota Tong untuk mencari ayahnya. Ayahnya ditemukan, namun menderita penyakit jantung parah, tak lama kemudian meninggal dunia. Ibunya yang terlalu sedih akhirnya menyusul ayahnya. Paman dan bibinya pergi ke suatu tempat, mengalami kecelakaan di perjalanan. Ia sempat bertemu mereka untuk terakhir kalinya. Mereka berpesan, “Kamu harus hidup dengan baik.” Ia menolak, merasa hidup seorang diri itu terlalu sepi, ia ingin pergi bersama mereka. Lalu ia benar-benar dibawa oleh malaikat maut. Namun ketika bertemu keluarganya, mereka semua menangis, meminta agar ia menjalani sisa hidupnya dengan baik. Usianya masih muda, tak seharusnya ia mengakhiri hidup. Ibunya bahkan berlutut memohon agar ia tetap hidup.
Ia akhirnya menyerah, malaikat maut mengantarnya kembali, dan ia pun terbangun.
Ia akhirnya berkompromi dengan hidup; ia tidak lagi mencari kematian, tapi juga tidak ingin hidup.
Pada sore hari ketika kembali ke vila, Shen Qianze menempatkannya di samping piano, memainkannya untuknya. Tatapan Jiang Yunian kosong, matanya menatap ke satu titik di udara. Melihat waktu sudah sore, Shen Qianze mengajaknya naik ke atas untuk membersihkan diri.
Setiap hari, setiap bangun tidur, Jiang Yunian akan berlari ke balkon, menatap taman mawar di bawah sambil melamun. Kepalanya benar-benar kosong, tiada satu pun pikiran. Suatu hari, Shen Qianze pulang di tengah hari dan melihatnya duduk di atas pagar balkon, tubuhnya nyaris terjatuh. Saat itu lutut Shen Qianze sampai gemetar, suaranya penuh permohonan, “Yunian, tolong dengarkan aku, turunlah, ya?”
Belum sempat ia berkata lebih banyak, Jiang Yunian sudah terkejut, secara naluriah ia mundur, tubuhnya terjungkal ke belakang, jatuh ke taman mawar.
Kali ini Shen Qianze tak membawanya ke rumah sakit. Sejak terlibat dengannya, Jiang Yunian selalu saja terluka, baik besar maupun kecil, dan ia selalu membawanya ke rumah sakit. Kini ia takut pada rumah sakit.
Dokter hanya memberi perawatan sederhana pada lukanya. Jiang Yunian tidur gelisah, keningnya selalu berkerut, meski Shen Qianze terus-menerus minta maaf, ia tak mendengarnya, hanya meringis menahan sakit.
Shen Qianze membawa sekop ke taman mawar itu. Ia berjongkok, mencabut satu per satu mawar yang pernah ia tanam sendiri di masa lalu. Sambil mencabut, air matanya terus mengalir. Ia merasa dirinya sangat tak berguna. Sebelum mengenal atau jatuh cinta pada Jiang Yunian, hidupnya tak pernah terasa sesak atau menyakitkan. Paling-paling ia hanya marah, seperti saat Chen Hui dulu mengalami hal buruk, ia hanya menjadi brutal dan menghabisi orang yang menyakitinya dengan segala cara. Tapi sekarang, rasanya tak ada satu haripun yang tenang. Setiap hari bagai berjalan di padang pasir, lelah tiada akhir, bahkan bernapas pun rasanya sulit. Namun ia tak bisa melepaskan, sebab jika melepaskan, ia bahkan tak bisa lagi bernapas.
Dari semua bunga, ia paling mencintai mawar. Mawar-mawar ini pun ia tanam sendiri bertahun-tahun lalu. Kini waktu telah berlalu, ia sendiri yang mencabutnya satu per satu. Sama seperti hubungannya dengan Jiang Yunian, dulu ia membencinya sebesar ia mencintainya sekarang.
Taman itu dipenuhi mawar yang telah dicabut. Tempat yang dulu penuh kehidupan dan wangi bunga kini tampak sunyi dan gersang. Shen Qianze mencabut mawar terakhir. Saat senja mulai turun, ia menggulung celananya, menoleh ke balkon kamar utama, dan mendapati Jiang Yunian sedang menatapnya. Ia sedikit panik, buru-buru melempar sekop, hendak memanggilnya, namun Jiang Yunian telah berbalik masuk ke dalam.
Rasa tak berdaya yang menyesakkan kembali membanjiri dadanya.