Bab Delapan: Sebuah Pedang yang Melukai Hati (Bagian Akhir)
Xie Xiaodi segera melangkah masuk, belum sempat berbicara ia sudah membungkuk memberi hormat, “Salam hormat dari junior kepada Sesepuh Zhou.”
Zhou Ketiga menggeleng pelan dan berkata, “Di sini tidak ada Sesepuh Zhou, hanya ada Zhou Ketiga si penjual tahu. Jangan terlalu banyak memberi hormat, nanti pembeli tahu pada lari semua.” Selesai berkata, ia duduk di kursi tua di dalam rumah.
Xie Xiaodi berdiri tegak dan berkata, “Saya sudah lama mendengar nama besar ‘Dewa Pedang Rindu’ Zhou Ketiga. Hari ini sangat beruntung bisa bertemu. Guru saya sering menyebut nama Anda, bahkan menyuruh saya menyampaikan salam.”
Zhou Kaishan menjawab dengan datar, “‘Dewa Pedang Rindu’ Zhou Kaishan sudah mati sepuluh tahun lalu, yang hidup hanya Zhou Ketiga.” Ia terdiam sejenak, lalu bertanya, “Gurumu bermarga Xie atau Yuchi?”
“Guru saya bernama Xie Mengde.”
Zhou Kaishan mengangguk, kemudian bertanya lagi, “Siapa namamu?”
“Xie Xiaodi.”
“Jika kau sudah datang mencariku, pasti ada urusan. Katakan saja.”
Xie Xiaodi tersenyum, lalu mengeluarkan batu mata kucing dari saku dan meletakkannya di meja. “Hadiah kecil, tak seberapa, semoga Sesepuh sudi menerimanya.”
Zhou Kaishan memandangi batu mata kucing itu, tersenyum tipis, dan berkata, “Anak muda zaman sekarang memang pandai membawa diri. Katakan, apa yang ingin kau tanyakan?”
Xie Xiaodi lantas mengeluarkan sebuah benda lagi dari saku dan meletakkannya di atas meja, yakni lencana tembaga yang tertinggal setelah ia bertarung dengan Ouyang Tianshi. Lencana itu berwarna kekuningan, diukir banyak motif, dan di tengahnya tertulis “Tanpa Batas”.
Melihat lencana itu, Zhou Kaishan tampak terkejut. Ia mengambil lencana, mengamatinya sebentar, lalu membalikkan. Di balik lencana itu tergambar seekor burung bangau abu-abu dengan sangat hidup. Melihat gambar tersebut, pupil mata Zhou Kaishan menyempit tajam. Ia menarik napas dalam-dalam, perlahan mengangkat kepala, menatap Xie Xiaodi dengan tajam, “Dari mana kau dapat benda ini?”
Xie Xiaodi agak heran, namun tetap menceritakan semua kejadian sebelumnya.
Setelah mendengar cerita Xie Xiaodi, Zhou Kaishan menghela napas panjang dan memasukkan lencana itu ke sakunya. Setelah menunduk dan merenung cukup lama, ia akhirnya mengangkat kepala dan bertanya, “Pernahkah kau mendengar tentang ‘Gerbang Tanpa Batas’ di dunia persilatan?”
Xie Xiaodi memang baru saja turun ke dunia persilatan, tapi ia sudah sering mendengar gurunya Xie Mengde dan Puyi menceritakan berbagai perguruan dan perkumpulan besar, hanya saja belum pernah mendengar tentang “Gerbang Tanpa Batas”. Ia merasa heran, lalu menggeleng dan berkata, “Sesepuh lebih berpengalaman, kedatangan saya kali ini memang ingin meminta penjelasan tentang hal itu.”
Zhou Kaishan menghela napas, “Baru saja masuk dunia persilatan, kenapa harus bermasalah dengan Gerbang Tanpa Batas?”
Xie Xiaodi bertanya, “Setahu saya Ouyang Tianshi itu murid Tiga Pedang Kegelapan. Setelah keluar dari perguruan, tak terdengar ia bergabung dengan perkumpulan lain?”
Zhou Kaishan berkata, “Aku juga baru tahu setelah melihat lencana ini, ternyata ia sudah bergabung dengan Gerbang Tanpa Batas. Organisasi ini baru muncul beberapa tahun terakhir, sangat rahasia, namun strukturnya besar dan rumit. Katanya mereka sangat sulit dihadapi, kau harus berhati-hati. Lencana ini tidak membawa manfaat bagimu, biar aku simpan saja.”
Xie Xiaodi mengangguk, “Jika Gerbang Tanpa Batas mau menerima orang seperti Ouyang Tianshi, sepertinya memang bukan kelompok yang lurus. Kalau sudah kadung berurusan, menghindar pun sia-sia. Walaupun ilmu saya masih dangkal, saya ingin menghadapinya. Namun saya berharap Sesepuh dapat memberitahu lebih banyak tentang Gerbang Tanpa Batas.”
Zhou Kaishan berpikir sejenak lalu berkata, “Aku pun tak tahu banyak. Katanya Gerbang Tanpa Batas punya enam puluh cabang di dunia persilatan, setiap cabang dipimpin tokoh terkenal. Di dalamnya ada ‘Empat Penjaga Utama’...”
Mendengar ini, hati Xie Xiaodi terguncang, ia tanpa sadar berkata, “Penjaga Shang?”
Wajah Zhou Kaishan berubah, ia heran, “Kau… kau mengenal Empat Penjaga Utama Gerbang Tanpa Batas?”
Xie Xiaodi menggeleng, “Aku hanya mendengar dari Empat Suci Pulau Hulu, katanya Penjaga Shang akan membalaskan dendam mereka.”
Wajah Zhou Kaishan baru kembali tenang, berkata, “Siapa sebenarnya Empat Penjaga Utama, aku juga tidak tahu pasti, hanya saja…”
Xie Xiaodi melihat Zhou Kaishan ragu, lalu berkata, “Sesepuh, silakan bicara saja.”
Zhou Kaishan terdiam, seolah mengambil keputusan besar, kemudian berdiri dan membuka pintu belakang rumah. Ternyata di belakang rumah ada sebuah halaman, yang tampaknya digunakan untuk pembuatan tahu. Di tengah halaman ada sebuah meja kayu, di atasnya terdapat sekotak tahu yang baru saja dibuat.
Zhou Kaishan melangkah ke tengah halaman, mengambil sebilah bambu pemotong tahu, lalu berkata pelan pada Xie Xiaodi, “Jika kau memang ingin jadi musuh Gerbang Tanpa Batas, aku ingin lebih dulu melihat kemampuanmu. Keluarkan pedangmu.”
Xie Xiaodi menggeleng, “Mana mungkin junior berani berhadapan dengan Dewa Pedang Rindu.”
Zhou Kaishan berkata, “Di sini tidak ada Dewa Pedang Rindu, hanya ada penjual tahu tua. Ini bukan pertarungan, hanya ingin melihat kemampuanmu. Silakan mulai.”
Dewa Pedang Rindu Zhou Kaishan sejak kecil sudah menjadi pendeta Taois dari aliran Quanzhen, namun kemudian berpindah ke aliran Zhengyi.
Alasannya sederhana: karena ia jatuh cinta.
Zhou Kaishan, yang awalnya pendeta, terpikat pada seorang wanita yang datang berdoa di kuil. Namun aturan Quanzhen melarang pendeta menikah. Karena itu, ia pindah ke Zhengyi, sebab di Zhengyi pendeta boleh menikah.
Walau sama-sama aliran Tao, Quanzhen dan Zhengyi berbeda, dan kepindahan Zhou Kaishan menimbulkan kehebohan besar, kedua pihak bertarung lebih dari sepuluh kali. Dalam pertarungan terakhir, Zhou Kaishan terluka parah, namun mampu mengalahkan tiga pendekar utama Quanzhen dan melukai ketua mereka, Qingyun Sanren. Setelah itu, Quanzhen meredup selama lebih dari sepuluh tahun.
Atas jasanya, Zhou Kaishan malah diusir dari Zhengyi.
Kenapa? Karena ada yang iri.
Orang berkata, meski Zhengyi menang, kerugian mereka besar, dan semua hanya karena Zhou Kaishan ingin menikah. Jika demi kepentingan pribadi ia bisa mengkhianati Quanzhen, kelak bisa juga melawan Zhengyi demi kepentingan sendiri.
Tentu saja Zhengyi tidak mau menerima orang seperti itu.
Tapi mereka juga tak berani mencari masalah dengannya.
Maka, ketika ketua Zhengyi, Yun Sigua, dengan sopan mengantar Zhou Kaishan pergi, ia berkata, “Kuil kecil tak mampu menampung Buddha sebesar ini.”
Zhou Kaishan hanya bisa tersenyum pahit, sejak kapan kuil Taois memelihara Buddha? Tapi ia tak bisa berbuat apa-apa, akhirnya meninggalkan kepercayaan dan mengejar cinta.
Hasilnya sudah jelas: ia gagal.
Karena cintanya bertepuk sebelah tangan.
Cinta harus diwujudkan dengan tindakan, tidak cukup hanya dirindukan. Begitu juga dengan ilmu bela diri.
Namun Zhou Kaishan berbeda.
Ia menyalurkan rindunya dalam latihan pedang, hingga kemampuannya makin tinggi, dan nama “Dewa Pedang Rindu” pun menyebar di dunia persilatan.
Namun jalan cintanya tetap tak mulus, karena ia jelek, sudah tua, tak punya perguruan, tak punya kekuasaan atau jabatan.
Hanya jago silat, bisa jadi pendekar, pengawal, atau perampok, tapi bukan jaminan jadi suami yang baik.
Ketika Zhou Kaishan sadar akan hal ini, ia sudah menjadi orang tua.
Karena itu, ia memilih untuk mengundurkan diri.
Zhou Kaishan memang pensiun, tapi ilmunya tidak pernah padam.
Hari ini, Zhou Kaishan kembali mengangkat pisau, sebilah bambu pemotong tahu, untuk menguji kemampuan Xie Xiaodi.
***