Bab Tujuh: Dia Memang Pandai Melayani Orang
Awalnya sang mertua yang khawatir pada putranya pun kini tak sempat memikirkannya lagi. Ia segera menoleh dan memandang ibu Jiang Yue yang tiba-tiba berubah haluan.
“Ibu besan, suami istri itu seharusnya didamaikan, bukan dipisahkan. Jangan lupa, Jiang Yue yang lebih dulu menyakiti hati Yuanping. Apa sebenarnya yang sedang Ibu lakukan sekarang?”
Jiang Yue merasa campur tangan ibunya kali ini pasti membuat keluarga Xu takkan membiarkan mereka pergi begitu saja.
“Bu, jangan ikut campur. Masalah ini akan aku selesaikan sendiri.”
“Aku lihat kau memang sudah terlalu biasa ditindas keluarga Xu. Hari ini perceraian ini harus terjadi!” kata ibunya dengan tegas.
Ibunya tak rela kehilangan calon menantu kaya, ia pun mendorong Jiang Yue ke arah Tang Huaizhe.
Melihat itu, Xu Yuanping langsung memaki keluarga Jiang Yue.
“Kalian semua mata duitan! Sudah lupa dulu bagaimana kalian memohon-mohon aku menikahi Jiang Yue? Sekarang dia baru saja dapat pria kaya tak jelas asal-usul, kalian mau menendangku begitu saja? Tak semudah itu! Aku tak mau bercerai. Meski harus dimaki orang, aku takkan membiarkan kalian berdua yang tak tahu malu itu bersatu!”
“Benar! Perceraian ini tidak bisa semudah itu!” sahut sang mertua, matanya masih mengincar uang di tangan Jiang Yue, bahkan kini semakin serakah.
Ia melanjutkan, “Kalau mau cerai, bisa saja, asalkan kembalikan dulu uang mahar beberapa puluh juta yang dulu kami berikan, juga uang Yuanping yang selama ini dipakai menafkahi keluarga. Dengan bunga sekaligus, dua ratus juta, kurang serupiah pun tak akan ada perceraian.”
Hati Jiang Yue terasa dingin. Selama ini justru ia yang membantu keluarga mertua. Uang mahar sudah lama dihambur-hamburkan Xu Yuanping, dari mana lagi bisa dikembalikan beserta bunga?
Ibunya kini tak lagi bersikap rendah hati seperti sebelumnya, malah penuh percaya diri.
“Anak kami Jiang Yue sebentar lagi akan menikah dengan pengusaha besar, mana mungkin kami kekurangan dua ratus juta?”
Begitu ucapan ibunya selesai, wajah Jiang Yue langsung membeku.
“Bu, uang Tang Huaizhe itu bukan milik kita, bagaimana bisa Ibu sembarangan memutuskan?” protes Jiang Yue. Lagi pula, dua ratus juta bukan jumlah sedikit!
“Siapa bilang Ibu tak bisa memutuskan? Dua ratus juta saja, tak banyak kok.”
Tang Huaizhe membungkuk, bibirnya menyentuh lembut daun telinga Jiang Yue.
Dengan suara penuh makna, ia berkata, “Uang itu akan aku tagih kembali darimu, beserta bunganya.”
Seluruh tubuh Jiang Yue bergetar. Ditagih dari dirinya... Mungkin nanti tidak akan sesederhana dua ratus juta.
Ibunya sama sekali tak peduli, malah dengan riang memamerkan pada keluarga Xu.
“Lihat kan? Bos besar sudah bilang akan memberi uang. Mana mungkin kalian kekurangan dua ratus juta? Cepat pulang dan bereskan urusan perceraian. Jangan halangi Jiang Yue mengecap hidup bahagia.”
Xu Yuanping yang merasa tak puas melihat kekompakan mereka, membentak, “Aku bilang, aku tak mau cerai!”
Mertuanya menahan Xu Yuanping, memberi isyarat agar diam, lalu berkata serakah, “Jangan cuma omong kosong. Tunjukkan dulu uangnya.”
Jiang Yue mengabaikan ibunya, yang akhirnya terpaksa tersenyum menjilat pada Tang Huaizhe.
“Bos besar, bagaimana menurutmu?”
Sudut bibir Tang Huaizhe semakin melengkung, “Wei Yi, transfer uang pada mereka.”
Begitu uang diterima, sang mertua langsung menyeret Xu Yuanping yang masih enggan pergi, sementara ibunya Jiang Yue terus mengejar di belakang sambil mengajak keluarga besan sering-sering bertandang.
Saat Jiang Yue mengira semuanya telah selesai, ternyata ibunya masih belum rela melepaskannya.
“Jiang Yue, hari ini semua berkat bos besar. Kau harus benar-benar berterima kasih padanya. Malam ini perlakukan dia dengan baik, jangan sampai dia merasa rugi.”
Kalimat terakhir diucapkan ibunya dengan suara lirih, membuat Jiang Yue merasa sangat malu.
Dengan suara tertahan ia berbisik, “Bu, bagaimana bisa mengatakan hal seperti itu? Aku bahkan belum bercerai dengan Xu Yuanping, aku masih istrinya!”
“Jangan bicara sembarangan. Bos besar sudah mengeluarkan dua ratus juta untuk keluarga kita, masa uang itu sia-sia?”
Lalu, ibunya kembali menyanjung Jiang Yue di depan Tang Huaizhe.
“Bos besar, kalau Jiang Yue ada salah kata, jangan diambil hati. Anak ini bisa melakukan apa saja, pandai melayani orang, menikahinya pasti tak rugi.”
“Dia memang sangat pandai melayani orang,” ujar Tang Huaizhe, tatapan matanya berhenti sejenak pada bibir Jiang Yue yang merah dan sedikit bengkak, dalam sorot matanya tersirat hasrat yang membara.
Bibir itu benar-benar membuatnya selalu teringat.