Bab Tujuh Puluh Satu: Percakapan
Jiang Yue mengikuti di belakang Tang Huaizhe dengan menjaga jarak kecil di antara mereka. Ia tidak tahu sikap seperti apa yang akan ditunjukkan Tang Huaizhe padanya setelah mereka kembali. Saat ini ia masih kekurangan dua ratus ribu, dan kejadian semalam ketika Tang Huaizhe mabuk, ia pun tak punya keberanian untuk memintanya uang.
Setelah kembali ke hotel, Tang Huaizhe tak menggubris Jiang Yue. Ia hanya mengantarnya ke dalam kamar, lalu langsung keluar menuju kamar Gao Yunli di sebelah.
Jiang Yue menghela napas lega. Para pekerja toko bertindak sangat cekatan, pakaian-pakaian itu kini sudah menumpuk di ruang tamu. Jiang Yue memandang belasan tas itu, lalu menghela napas. Barang-barang yang tak mampu ia beli, jika dipaksakan dipakai, hanya akan menjadi bahan tertawaan, persis seperti yang terjadi hari ini.
“Huaizhe, bukan maksud ibu menegurmu, Lianlu itu anak yang begitu pengertian, apa yang membuatmu tidak puas?” Di kamar suite presiden lain, Gao Yunli menatap putranya dan menghela napas.
Ia sungguh tak memahami apa baiknya Jiang Yue itu. Lima tahun lalu, Tang Huaizhe begitu tergila-gila padanya, tapi akhirnya kisah mereka tetap kandas. Setelahnya, Tang Huaizhe terpuruk untuk beberapa waktu lalu sama sekali tak pernah menyebut nama Jiang Yue. Gao Yunli mengira putranya sudah melupakan dan benar-benar melepaskan wanita itu.
Namun baru berlalu lima tahun, wanita itu kembali muncul di keluarganya. Entah apa yang telah ia lakukan hingga membuat putranya kembali terpesona, bahkan sampai menikahinya.
Bertahun-tahun ia memilih-milih keluarga terpandang, selain Mo Qianyu dari keluarga Mo pada waktu itu, Jiang Lianlu juga sudah termasuk yang terbaik. Dari segi keluarga, penampilan, semuanya menjadi rebutan para pria. Tapi putranya yang bodoh ini entah berpikir apa, malah melepaskan batu permata untuk memungut batu yang sudah retak.
Dulu, Tang Qi menikah dengannya juga karena pertimbangan yang setara. Memang tak ada cinta mendalam di antara mereka, tapi saling menghargai sebagai pasangan masih bisa dijalani.
“Ibu, aku punya rencana sendiri,” ujar Tang Huaizhe, kedua tangannya bersedekap, duduk di sofa berhadapan dengan Gao Yunli.
“Rencana? Rencanamu itu membawa pembawa sial itu ke rumah kita?” Gao Yunli benar-benar kehabisan kata. Sejak kecil, putranya memang punya pendirian sendiri—hal yang dulu membuatnya bangga—namun justru itulah masalahnya sekarang. Setelah dewasa, hampir tak ada lagi perkataannya yang bisa memengaruhi Tang Huaizhe. Ia hanya menghormatinya karena ia adalah ibunya.
“Ibu, urusan ini biarkan saja aku yang menangani.” Tang Huaizhe mengusap pelipisnya, merasa lelah dengan ibunya yang terus ikut campur urusan pribadinya.
“Huaizhe, ibu melakukan ini demi kebaikanmu juga. Lianlu itu gadis yang sangat baik.” Mendengar nada suara putranya yang dingin, Gao Yunli pun melunak dan berusaha membujuknya.
“Aku tak pernah bilang Lianlu itu tidak baik.” Mengapa wanita selalu bisa menafsirkan kata-katanya dengan cara yang berbeda? Apakah ia yang salah dalam menyampaikan maksud? Tang Huaizhe sadar, setiap kali ia bicara, baik pada Jiang Yue maupun ibunya, selalu saja akan muncul penafsiran lain.
“Kalau begitu, kenapa kau malah menikahi pembawa sial itu, bukan Lianlu?” Begitu nama Jiang Yue disebut, Gao Yunli langsung merasa kesal. Bagaimana mungkin ada orang seperti itu? Dulu sudah mengambil uang dan pergi, tapi lima tahun kemudian kembali lagi?
“Ibu, ini dua hal yang berbeda. Tolong jangan terus-menerus menyebut Jiang Yue sebagai pembawa sial.” Ketika mendengar ibunya menyebut Jiang Yue begitu, Tang Huaizhe merasa tidak nyaman.
“Kenapa? Apa aku salah? Huaizhe, dengarkan ibu, kalau kau terus bersama wanita itu, kau pasti akan menyesal suatu saat nanti.”
“Aku tahu apa yang kulakukan, ibu tak perlu mengkhawatirkannya.” Setelah membahas ini, Tang Huaizhe tak ingin melanjutkan lagi. Ia merasa dirinya dan ibunya tak pernah berada di satu pemikiran. “Ibu, tidurlah lebih awal. Aku kembali dulu.”
“Kau ini...” Gao Yunli belum sempat berkata apa-apa lagi, Tang Huaizhe sudah berdiri dan melangkah keluar.