Bab Empat Puluh Lima: Baik, Tuan Tang
Ketika Jiang Lianlu keluar dari dapur, di tangannya sudah ada panci bekas merebus mi.
Jiang Yue memandang Jiang Lianlu yang melangkah perlahan ke arahnya. Sebenarnya ia ingin menghindar, namun ketika melihat tatapan mengancam dari Tang Huaizhe, ia memilih untuk menyerah.
Hati Jiang Lianlu sedang sangat gembira. Ia merasa, saat dirinya melangkah menuju Jiang Yue, ekspresi Jiang Yue benar-benar seperti seekor tikus yang sedang dikerjai kucing. Meski tahu apa yang akan terjadi, ia tak punya jalan untuk mundur, hanya bisa tetap di tempat, kebingungan dan tak tahu harus berbuat apa. Pemandangan itu membuat Jiang Lianlu semakin senang.
Air rebusan mi disiramkan mulai dari kepala, mengalir ke wajah, lalu merembes masuk lewat kerah baju membasahi seluruh tubuh. Sensasinya sungguh tak nyaman; air rebusan mi yang baru matang terasa lengket, seperti makhluk lunak yang menjijikkan merayap ke seluruh tubuh. Dari lubuk hati, Jiang Yue merasa mual dan merinding.
Jiang Lianlu menikmati pemandangan Jiang Yue yang kini basah kuyup seperti ayam kehujanan, lalu melirik ke lantai yang berantakan, pura-pura terkejut, “Aduh, kenapa lantainya jadi kotor begini? Pembantu belum pulang, terus bagaimana ini?”
Jiang Yue menunduk melihat lantai; mi yang tadi direbusnya tercampur kuah berserakan ke mana-mana. Pertanyaan Jiang Lianlu yang terdengar seperti kepedulian itu sejatinya adalah awal dari siksaan. Jiang Lianlu adalah putri keluarga Jiang, mana mungkin Tang Huaizhe membiarkannya mengerjakan pekerjaan kasar seperti ini, apalagi dirinya sendiri, jelas lebih tidak mungkin. Jadi...
“Tak apa, biar dia saja yang bersihkan. Bukankah itu memang tugasnya?” Seperti yang sudah diduga Jiang Yue, Tang Huaizhe pun akhirnya buka suara. Meskipun Jiang Yue sudah menduga apa yang akan dikatakannya, tetap saja hatinya bergetar ketika mendengar kata-kata itu keluar begitu gamblang.
Jiang Yue berbalik hendak menuju kamar mandi, bermaksud membersihkan diri dulu sebelum bersih-bersih, namun baru saja melangkah satu kaki, suara Tang Huaizhe menghentikannya.
“Mau ke mana?”
“Mau bersihkan diri dulu, baru balik untuk bersih-bersih.”
“Siapa yang mengizinkan? Tidak dengar tadi? Ini hukuman. Sebelum ini bersih, tidak boleh mandi!”
Jiang Yue menundukkan kepala, tampak sangat patuh dan tak melawan, namun hal itu sama sekali tidak mengubah keputusan Tang Huaizhe. Ucapan kejam sang iblis itu terus terngiang di telinganya. Hati Jiang Yue kini benar-benar datar; apa yang ia alami dalam beberapa hari belakangan sudah cukup untuk menghapus segala kebaikan yang tersisa di relung hatinya.
“Baik, Tuan Tang.”
Permadani Persia yang membentang di lantai itu terbuat dari bulu hewan paling lembut, sekilas saja sudah tampak begitu indah dan menawan. Namun kini, air rebusan mi membasahi permadani itu hingga merata, bercampur dengan mi dan saus berwarna gelap, membuat lantai menjadi berantakan dan bikin sakit kepala siapa pun yang melihatnya.
“Oh ya, kalau tidak bisa bersihkan dengan baik, ganti saja,” ucap Tang Huaizhe pelan sebelum naik ke lantai atas.
Kata-kata itu terasa seperti petir yang menggelegar di telinga Jiang Yue. Ganti saja, ganti saja, ganti saja...
Jiang Lianlu menutup mulut sambil tertawa kecil, melirik ke arah Jiang Yue, lalu berlari mengejar Tang Huaizhe yang sudah setengah menaiki tangga. “Huaizhe, aku mau cerita, mama bilang ingin mengajakku ke Paris nonton peragaan busana...”
Jiang Yue berjongkok, perutnya terasa semakin mual dan tegang. Ucapan Tang Huaizhe dan Jiang Lianlu sekali lagi menyadarkannya bahwa ia dan mereka berasal dari dua dunia yang berbeda. Ibunya saja meminta uang satu juta darinya, ia tak sanggup memberikannya, sedangkan Jiang Lianlu bisa melakukan apa pun yang ia inginkan dengan mudah.
Jiang Yue mulai memunguti satu per satu mi yang lengket dan menempel di permadani dengan tangan. Namun tangannya terasa semakin lemah, pandangannya pun makin kabur, suara dengungan terus berdenging di telinganya. Dunia serasa berputar, dan akhirnya semuanya menjadi gelap.