Bab Empat Puluh Enam: Tak Bisa Kembali
Saat Jiang Yue terbangun, yang terlihat olehnya hanyalah warna putih di sekelilingnya. Bau menyengat cairan disinfektan segera menyadarkannya akan tempat ia berada sekarang. Perlahan-lahan, kesadarannya kembali, bersamaan dengan rasa nyeri ganda: perutnya terasa mengerut sementara kepalanya seperti baru saja turun dari wahana roller coaster.
“Jangan bergerak!” Sepasang tangan menggenggam pergelangan tangan kirinya.
Jiang Yue menoleh. Wajah tampan yang seolah diprotes oleh para dewa itu terpantul di matanya. Tang Huaizhe memegang tangan kirinya, di mana jarum infus menancap, dan glukosa mengalir perlahan ke tubuhnya melalui selang infus.
Sesaat itu, sosok Tang Huaizhe dalam ingatannya dan Tang Huaizhe yang nyata kini bertumpang tindih.
Saat di universitas, gara-gara mandi air dingin dan tidur tanpa selimut, keesokan harinya Jiang Yue terbangun dengan kepala pening, seluruh tubuhnya panas seperti dipanggang di atas tungku. Ia berusaha bangun, namun tidak punya tenaga. Semua teman sekamarnya sedang keluar dan ponselnya tertinggal di bawah, sedang diisi daya.
Dengan susah payah ia meraba dahinya, suhunya jauh lebih tinggi dari telapak tangannya. Ia hanya bisa berbaring, berharap dalam hati agar teman-temannya segera pulang.
Namun nasib memang aneh. Sampai sore hari, teman-temannya belum juga kembali. Jiang Yue terbangun dan tertidur berulang kali, dalam setengah sadar ia seperti mendengar ponsel di bawah terus berdering, namun ia benar-benar sudah tak berdaya, bahkan membuka kelopak mata saja terasa berat.
Setelahnya, ia mendengar cerita dari temannya, bahwa hari itu ia sedang berkencan dengan pacar, lalu tiba-tiba Tang Huaizhe menelepon menanyakan di mana Jiang Yue. Saat itulah temannya sadar ada sesuatu yang tidak beres, buru-buru kembali ke asrama, dan mendapati Jiang Yue terbaring di ranjang dengan wajah merah, mengerang tak nyaman.
Ia sempat terkejut dan belum sempat bereaksi saat ponselnya kembali berdering, kali ini dari Tang Huaizhe. Ia lalu dengan tergagap menggambarkan kondisi Jiang Yue di tempat tidur. Begitu selesai, Tang Huaizhe langsung menutup telepon.
Tak sampai dua menit, pintu kamar mereka didobrak, Tang Huaizhe masuk dari luar, meraba dahi Jiang Yue, lalu menggendongnya dan bergegas pergi.
Jiang Yue pun harus menjalani infus semalaman karena demam tinggi, dan Tang Huaizhe setia berjaga di sisinya sepanjang malam, memberinya minum, mengukur suhu, bahkan lebih perhatian daripada dokter kampus yang bertugas.
Jiang Yue masih samar-samar ingat, waktu itu dalam kondisi setengah sadar, ada seseorang yang terus-menerus berbisik di telinganya, berjanji akan mengajaknya makan enak setelah sembuh, pergi ke pantai, dan melihat aurora.
Setelah Jiang Yue sadar, dokter kampus bahkan sempat bercanda, “Putri sudah bangun, kini sang ksatria boleh tenang.”
“Jangan bergerak.” Ia ingat betul, waktu itu saat ia sadar Tang Huaizhe juga berkata seperti ini, memegang tangan yang sedang diinfus agar ia tidak bergerak sehingga posisi infus tidak berubah.
Dulu, Tang Huaizhe memang benar-benar memanjakannya, menempatkannya di posisi paling istimewa. Sayangnya, ia memang tak cukup beruntung. Jiang Yue menutup mata, memaksa dirinya keluar dari kenangan itu. Mengingat semua itu sekarang pun tiada gunanya, toh semuanya sudah tak mungkin kembali.
Jiang Yue terpaku menatap Tang Huaizhe. Di matanya terlihat garis-garis merah, seluruh sosoknya tampak lesu, sepertinya memang sudah lama tidak tidur.
Dia menemaniku semalaman... Pikiran yang tiba-tiba muncul itu membuat Jiang Yue sendiri terkejut, lalu buru-buru ditepisnya sendiri, dengan sedikit keputusasaan. Kini, bagi Tang Huaizhe, dirinya mungkin hanya layak disebut mainan, itulah sebutan paling tepat.
“Apa yang kau pikirkan?” Suara Tang Huaizhe terdengar serak, mungkin karena semalaman tak minum setetes air pun.