Bab 28 Tang Huaizhe Membawakan Sup
Setelah Gao Yunli pergi dengan wajah sumringah, barulah ia menelpon asistennya dan bertanya, "Apakah dokter sudah diatur semuanya?"
Setelah mendapat jawaban pasti, Tang Huaizhe memejamkan mata dengan kuat, bahkan ia tak kuasa menahan tawa getir untuk dirinya sendiri.
Perempuan itu tidak pantas kau kasihi seperti ini! Dia tidak layak!
Rumah sakit memang bukan tempat yang menyenangkan.
Selalu penuh dengan perpisahan antara hidup dan mati, rintihan pasien yang tak ada habisnya, serta bau cairan disinfektan yang sulit untuk dibiasakan.
Saat operasi, ia dibius. Segalanya sudah menjadi keputusan yang tidak bisa diubah. Jiang Yue tak ingin menghadapi semuanya dengan histeris, ia pun memaksa dirinya untuk terlelap. Ketika terbangun, operasinya sudah selesai, dan ia telah terbaring di ranjang rumah sakit.
Itu adalah operasi keguguran sekaligus pengangkatan rahim.
Matanya kosong, menatap langit-langit tanpa tujuan.
Baru kemarin, ia kehilangan anak pertamanya, sekaligus anak terakhirnya.
Ayah dari anak itu sendiri yang mengantarnya masuk ke ruang operasi, mengucapkan kata demi kata—bahwa ia tidak layak!
Anak seperti ini, meski lahir ke dunia pun mungkin hanya akan menjadi beban, bukan harapan. Di mata Tang Huaizhe, mungkinkah hanya Jiang Lianlu yang pantas melahirkan anaknya?
Maka, anak ini yang tidak jadi lahir ke dunia dan tidak harus menjalani penderitaan bersama ibunya, betapa itu sebuah keberuntungan.
Air mata mengalir deras tanpa suara di kedua pipinya, terasa asin dan pahit di bibirnya. Ia membalikkan badan, tak peduli rasa nyeri di perut, memeluk selimut dan menangis sejadi-jadinya.
Isak tangisnya yang memilukan tertahan di balik selimut, hanya terdengar pelan dan tersendat, cukup untuk membuat hati siapa pun yang mendengarnya terasa pedih.
Betapa sedihnya ia.
Namun, bahkan satu orang pun tak ia temukan untuk tempat bercerita.
Ia tidak pernah dilindungi, bahkan tidak dicintai. Mungkin karena merasakan pilu akibat luka yang begitu dalam, ia pun tak berani menangis keras-keras, hanya berani menenggelamkan wajahnya di selimut, membiarkan kapas menyerap air matanya.
Setelah cukup lama, terdengar suara ketukan pintu.
Sebuah suara yang agak asing bertanya, "Nona, bolehkah saya masuk?"
Ia mengangkat kepala, jejak air mata masih jelas di wajahnya.
Tak ingin sisi rapuhnya terlihat orang lain, ia berusaha menata diri, menghapus sisa air mata, lalu ragu berkata, "Silakan masuk."
Ia sedikit bingung.
Tang Huaizhe tak mungkin mengetuk pintu, pria itu terlalu otoriter, pasti akan langsung masuk tanpa peduli, bahkan bisa saja mencelanya karena menutup pintu. Adapun Jiang Lianlu dan Gao Yunli, dua orang itu jelas tidak akan pernah mengetuk pintu.
Bagi mereka, bersikap sopan padanya adalah hal yang tidak perlu.
Yang masuk adalah asisten Tang Huaizhe, Wei Yi.
Dulu, di rumahnya, Tang Huaizhe juga menyuruh asisten inilah untuk membawa keluarganya pergi...
Meski tahu tak seharusnya, Jiang Yue tetap menyimpan amarah, mengerutkan kening dan berkata, "Untuk apa Tang Huaizhe menyuruhmu ke sini?"
Mereka tidak saling kenal, satu-satunya alasan Wei Yi mendatanginya tentu karena perintah Tang Huaizhe.
Apa lagi yang ingin dilakukan pria itu padanya?
Wei Yi tetap tersenyum, tak berubah sedikit pun. Ia meletakkan termos makanan di sisi ranjang Jiang Yue, lalu berkata dengan ramah, "Nona Jiang, Tuan Tang meminta saya mengantarkan sup ini untuk memulihkan kesehatan Anda."
Jiang Yue tidak percaya Tang Huaizhe punya niat peduli padanya, ia berkata dingin, "Bawa saja kembali, aku tidak butuh."
Wei Yi menimpali lagi, "Jangan cepat menolak, Nona Jiang. Tuan Tang mengatakan, sup ini harus Anda minum. Jika tidak, beliau akan datang mengawasi Anda langsung."
Wajah Jiang Yue seketika pucat. Mengawasi? Bisa-bisa ia hanya datang untuk menyiksanya lagi.
"Letakkan saja, aku akan meminumnya."
"Baik, nanti saya akan kembali untuk mengambil termosnya," ujar Wei Yi.
Kening Jiang Yue berkerut samar, "Kau mengancamku?"
Wei Yi cepat-cepat menggeleng, "Tidak berani, sama sekali tidak berani. Semua ini perintah Tuan Tang, saya harus melaksanakannya."