Bab Delapan Belas: Gangguan Rekan Pria
Setelah merapikan penampilan di kamar kecil, Jiang Yue terlebih dahulu menuju kantor kepala divisi untuk melaporkan pekerjaannya.
Sang kepala divisi melihat dirinya tampak agak lelah dan dengan penuh perhatian menyarankan agar ia pulang dulu untuk beristirahat. Jika masih ada pekerjaan yang belum selesai, membawanya pulang pun tak masalah.
Mengingat Tang Huaizhe yang entah sedang merencanakan apa akan menjemputnya sepulang kerja, Jiang Yue menolak saran itu dengan terpaksa. Setelah selesai melapor, ia kembali ke ruang kerjanya dan melanjutkan pekerjaan.
Sebenarnya, pekerjaan yang tersisa di tangannya sudah tidak banyak, mungkin baru besok akan ada tugas baru. Ia menyelesaikan tugas dan mengirimkannya ke surel kepala divisi, sementara waktu pulang masih cukup lama.
Ia mengambil sebuah buku berbahasa Jerman dari laci, melanjutkan membaca dari bagian yang belum selesai sebelumnya.
Menjelang jam pulang, biasanya sebagian besar tugas hari itu sudah selesai, suasana kantor jadi agak gaduh, tak seserius dan setenang saat jam sibuk.
Tampak Jiang Yue membaca dengan tenang dan anggun, memancarkan aura wanita berwawasan dan elegan.
Rekan wanita di sebelahnya menggeser kursi putar mendekat, melihat Jiang Yue yang fokus membaca, kulitnya begitu cerah seolah bersinar. Mata rekan itu menyorotkan sedikit rasa iri, lalu dengan sengaja bertanya, “Kak Jiang, kudengar kamu sudah bercerai, ya?”
Jiang Yue mengernyitkan dahi menatapnya.
Seolah mendapat jawaban, rekan itu menimpali sendiri, “Masa sih? Kak Jiang, jangan terlalu bersedih, ya!”
Jiang Yue tahu niat lawan bicaranya tak baik, wajahnya mendingin, menjawab dengan nada kesal, “Kalau cuma dengar-dengar saja, jangan langsung tanya ke orangnya. Aku juga tidak berminat mengumbar urusan pribadiku di depan umum.”
Rekan wanitanya yang mendapat sikap dingin itu sebenarnya tak berniat memusuhi Jiang Yue, jadi ia pun meminta maaf dengan manja, lalu kembali ke mejanya.
Percakapan singkat itu makin menguatkan dugaan para rekan pria di kantor—melihat sikap Jiang Yue, jelas ia memang sudah bercerai.
Rekan pria di seberang meja, Wang Qiang, selama ini selalu mendapat penolakan halus darinya. Demi menjaga harga diri, ia tak terlalu terang-terangan. Namun kini, status Jiang Yue yang sudah bercerai membuatnya merasa posisi wanita itu jadi lebih rendah, peluangnya pun terbuka. Ia mengepalkan tangan, melirik Jiang Yue yang kembali menekuni buku, dan memutuskan inilah saatnya untuk bergerak. Hari ini, apapun penolakan halus Jiang Yue, ia harus bisa mengajak wanita itu makan malam!
Begitu jam kerja berakhir, Jiang Yue sengaja menunggu hingga para kolega yang tak sabar pulang lebih dulu, barulah ia bersiap.
Tang Huaizhe akan menjemputnya, ia tak ingin rekan-rekan kantor melihat dan menimbulkan kesalahpahaman.
Namun, ternyata bukan hanya dirinya yang tertinggal, Wang Qiang pun masih ada.
Jiang Yue sempat berharap Wang Qiang segera pergi, namun saat itu Tang Huaizhe sudah tak sabar dan menelepon. Ia langsung memutuskan panggilan, tahu tak bisa menunda lagi, dan mereka pun masuk lift bersama.
Lift yang kosong hanya berisi mereka berdua.
Wang Qiang mencari topik obrolan, tapi Jiang Yue hanya menanggapi sekenanya, pikirannya sibuk mencari cara menghindari Wang Qiang dan Tang Huaizhe nanti.
Namun Wang Qiang justru mengira sikap Jiang Yue itu adalah tanda perubahan, ia makin senang sekaligus menaruh sedikit rasa meremehkan—benar adanya, wanita yang sudah bercerai tak lagi menjaga gengsi, tahu diri untuk mencari pendamping baru.
Lift berhenti di lantai dasar, keduanya pun keluar.
Wang Qiang merasa inilah saat yang tepat, ia pun mengajak Jiang Yue makan malam.
Jiang Yue bingung, untuk apa tiba-tiba mengajaknya makan?
Sebelumnya ia pernah mengajak, dan Jiang Yue selalu menolak dengan halus, Wang Qiang pun tak meneruskan. Namun kali ini, meski Jiang Yue kembali menolak dengan sopan, Wang Qiang justru memaksa.
“Kita ini sudah lama jadi rekan kerja. Selama ini kamu banyak membantu aku, setidaknya izinkan aku membalasnya dengan mengajak makan malam. Dulu kamu selalu bilang tak ada waktu, sekarang pasti ada, kan?” Wang Qiang sengaja memasang wajah kecewa. “Sudah bertahun-tahun jadi teman sekerja, masa kamu masih curiga aku akan berbuat macam-macam? Di matamu aku seperti itu?”
Ia tak menyangka, di saat seperti ini Jiang Yue masih juga menolaknya, berpura-pura menolak tapi sebenarnya ingin.
Ucapannya memang terdengar masuk akal. Jiang Yue yang sudah cemas, sudah melihat mobil Rolls-Royce di pinggir jalan, takut sebentar lagi Tang Huaizhe turun dari mobil.
“Wang Qiang, hari ini aku benar-benar tak sempat. Begini saja, lain kali kalau aku ada waktu, aku yang traktir kamu makan, bagaimana?”
“Kamu selalu bilang lain kali, selalu mengulur-ulur, apa tidak keterlaluan? Makan malam sebentar saja, waktunya tidak lama. Ayo, aku sudah reservasi restoran, kita ke parkiran, aku bawa mobil.”
“Oh?” Suara dingin terdengar di samping mereka, seketika membuat keduanya terdiam. “Aku ingin tahu, siapa yang berani mengajak wanita milikku makan malam?”