Bab Dua Puluh Tiga: Anak yang Malang
Yueyue berlutut di depan gundukan tanah makam sambil terisak pelan.
Dia hanya tidak bisa berbicara, bukan berarti dia tidak mengerti apa-apa. Dia tahu ibunya meninggal demi dirinya. Kesempatan ini diperjuangkan ibunya dengan nyawa, jadi dia harus hidup dengan baik.
He Yanxin di sampingnya membelah papan kayu dari sebuah meja, lalu sambil menggigit tutup pulpen, ia duduk bersila di samping Yueyue. "Siapa nama orang tuamu? Aku akan buatkan nisan."
Untunglah mereka meninggal lebih awal sehingga masih ada gundukan tanah dan nisan. Jika lebih lambat lagi, mungkin jasad mereka hanya akan tergeletak di tanah sampai membusuk dan menjadi tulang belulang.
Yueyue memberi isyarat beberapa kali, mengambil papan kayu dan spidol dari tangan He Yanxin, lalu dengan sungguh-sungguh menuliskan nama orang tuanya satu per satu.
Makam Liao Nianyan (Ayah) dan Yuan Yi (Ibu).
Setelah selesai, Yueyue mengatupkan bibirnya sejenak, lalu mengembalikan pulpen itu kepada He Yanxin. Dia menggali lubang di depan makam dengan tangannya sendiri dan dengan hati-hati menegakkan nisan tersebut.
—
He Yanxin membawa Yueyue kembali ke kompleks apartemen.
Saat pintu dibuka, Yueyue mencengkeram ujung baju He Yanxin, mengikuti masuk dengan perasaan takut.
Lin Wumei sedang duduk di sofa menonton televisi. Mendengar suara, dia segera menoleh ke arah pintu. "Yan, kau sudah pulang... eh?"
He Yanxin melirik drama yang tayang di layar, lalu membawa Yueyue ke hadapannya. "Namanya Yueyue. Aku bertemu dengannya di luar, mulai sekarang dia akan tinggal bersama kita."
"Gadis kecil ini baru belasan tahun, kan?" Lin Wumei mengamati. "Di mana orang tuanya?"
He Yanxin melirik Yueyue yang hampir membenamkan kepalanya ke dada, lalu mengalihkan pembicaraan. "Jangan bahas itu dulu. Kak Lin, apakah kau punya baju tidur untuknya? Anak ini sudah berjalan cukup lama bersamaku, biarkan dia istirahat sebentar."
"Baik."
Lin Wumei melangkah dengan sandal untuk mencari pakaian di kamar, sementara He Yanxin membawa Yueyue ke wastafel dan mencuci wajahnya dengan air yang telah disimpan sebelumnya.
"Ugh." Saat handuk basah menyentuh wajah Yueyue, dia tanpa sadar menarik diri.
"Airnya agak dingin, tahan sebentar." He Yanxin menopang tengkuknya agar dia tidak bisa menghindar.
Setelah wajahnya bersih dan tubuhnya diseka sekadarnya, Yueyue mengenakan baju tidur milik Lin Wumei dan berdiri dengan kaku di ruang tamu.
"Ayo, aku antar kau istirahat."
Lin Wumei membawa Yueyue ke kamar, membaringkannya di tempat tidur, menyelimutinya, lalu keluar dan menutup pintu.
"Yan," Lin Wumei duduk di samping He Yanxin. "Sebenarnya apa yang terjadi dengan gadis itu?"
He Yanxin mengambil remote dan mengeraskan volume suara. "Ada penjahat yang masuk ke rumahnya. Saat aku sampai, ayahnya sudah meninggal. Ibunya melindungiku dari serangan pisau, jadi dari keluarga beranggotakan tiga orang itu, hanya dia yang tersisa."
"Sebelum meninggal, ibunya memohon padaku untuk membawanya, dan aku menyetujuinya."
Lin Wumei menghela napas panjang, merasa iba dengan nasib anak itu. "Ngomong-ngomong, apakah anak itu bisu? Aku tidak pernah mendengarnya berbicara."
—
"Benar," He Yanxin mengangguk, pandangannya tertuju pada layar. "Jika kita bepergian bersama, dia kemungkinan besar akan menjadi beban."
"Ini... lalu apa rencanamu?"
"Biarkan saja dulu. Sampai suatu hari aku tidak mampu melindunginya, biarkan dia berjuang sendiri."
Nada bicara He Yanxin datar, seolah-olah dia hanya sedang berkata "cuaca hari ini cukup bagus".
"Itu tidak baik, bukan? Bukankah ibunya menitipkan dia padamu sebelum meninggal?"
"Hmm," He Yanxin menatap Lin Wumei. "Tapi aku bukan orang yang bisa diandalkan. Jika suatu hari nanti menemui bahaya, aku tidak akan ragu untuk menyelamatkan diriku sendiri."
"Paham maksudku, Kak Lin?"
Hati Lin Wumei tiba-tiba mencelos.
He Yanxin memalingkan wajah dan tidak bicara lagi, di ruang tamu hanya terdengar suara dari televisi. Televisi itu dinyalakan oleh Lin Wumei dan menampilkan saluran favoritnya, namun saat ini dia sama sekali tidak tertarik melihat layar tersebut.
...Apa maksud Yan?
Pertanyaan itu memenuhi benak Lin Wumei.
—
Pukul tujuh malam, Yueyue terbangun dan keluar dari kamar sambil mengucek matanya.
"Ada mi di meja, masih hangat, makanlah," ujar He Yanxin.
Lin Wumei keluar dari dapur sambil menambahkan telur mata sapi ke dalam mangkuk. "Kami sudah makan, tinggal kau saja."
Mencium aroma masakan, Yueyue tak kuasa menelan ludah. Setelah menatap He Yanxin dengan hati-hati, dia duduk di meja makan dan mulai menyuap mi dengan sumpit.
Di sofa, He Yanxin mengenakan sarung tinjunya dan mengumumkan dengan santai, "Yueyue, setengah jam setelah makan, naik ke treadmill untuk lari. Kak Lin, pakai sarung tinjumu dan kemari untuk berlatih denganku."
Lin Wumei yang sedang mengenakan celemek tersentak, tanpa sadar melirik sepasang sarung tinju lainnya di meja makan.
"Ini... bagaimana kalau besok saja? Lagipula hari sudah gelap," dia mencoba menghindar.
"Tidak bisa, besok aku harus keluar untuk mencari perbekalan," He Yanxin menolak tanpa ampun. "Tenang saja, aku akan mengendalikan kekuatanku. Kak Lin, kau juga sudah berlatih dumbbell selama beberapa hari, biarkan aku melihat hasil latihanmu."
Lin Wumei saat ini hanya ingin mencari tempat untuk bersembunyi. Dia selalu bermalas-malasan saat berolahraga, tidak menyangka He Yanxin akan memeriksa hasil latihannya dengan sparring.
Yueyue mengunyah mi sambil membuka matanya lebar-lebar, menatap mereka dengan rasa ingin tahu.
He Yanxin memindahkan meja kecil dan sofa ke dalam ruang penyimpanan, membersihkan area luas, lalu memberi isyarat kepada Lin Wumei.
Lin Wumei memakai sarung tinjunya, lalu melangkah dengan ragu-ragu. "Bagaimana kalau, bagaimana kalau lupakan saja..."
"Wus—"
Pukulan melintas di dekat telinganya, aliran udara yang dihasilkan membuat anak rambutnya terbang.
Lin Wumei terpaku di tempat, baru menyadari rasa takut yang muncul belakangan. Jika pukulan tadi mendarat di wajahnya...
"Kak Lin, jangan melamun." He Yanxin menarik kembali pukulannya dan mengingatkan dengan suara dingin. "Jika ini pertarungan sungguhan, serangan tadi sudah membunuhmu."
"Ba-baik."
He Yanxin dengan sikap seperti ini membuat Lin Wumei merasa asing. Dia tahu tidak bisa menghindar lagi, jadi dia hanya bisa meniru posisi siap yang diingatnya dari pertandingan tinju.
"Wus—"
Hembusan angin pukulan kembali menyerang, kali ini tepat mengarah ke wajahnya. Lin Wumei tanpa sadar memejamkan mata dan mengangkat tangan untuk menahan.
"Uhuk!"
Lin Wumei merasa organ dalamnya dihantam keras. Hanya dalam setengah detik, dia sudah berlutut di lantai sambil memegangi perutnya dan gemetar.
He Yanxin berdiri memandangnya rendah, menyebutkan kekurangan-kekurangannya satu per satu. "Reaksimu terlalu lambat, tidak fleksibel. Saat berkelahi kau berani memejamkan mata? Apakah kau sengaja membiarkan celah karena takut musuh tidak bisa membunuhmu?"
Lin Wumei memegangi perutnya, tidak bisa membantah.
"Berdiri, sudah satu menit berlalu. Jika rasa sakit sekecil ini saja tidak tahan, bagaimana kau bisa bertahan hidup? Musuh tidak akan menunggumu seperti aku." He Yanxin mengerutkan kening.
Lin Wumei menopang lantai dengan tangannya dan bangkit dengan susah payah. "Aku... aku sudah berusia tiga puluh tahun lebih..."
"Jadi boleh mati begitu saja, maksudmu?" He Yanxin berkata dengan wajah dingin. "Kuberi waktu tiga detik, berdiri dan serang aku."
"Tiga, dua..."
Lin Wumei berteriak, belum berdiri tegak dia sudah mengayunkan tinjunya ke arah He Yanxin.
He Yanxin menghindar dengan ringan, lalu menyikut punggung Lin Wumei.
"Uhuk!"
Lin Wumei merasa ingin muntah karena pukulan itu.
"Belum berdiri tegak sudah terburu-buru menyerang, apa kau menunggu aku untuk memapahmu?"