Bab 2: Kuil Dewa Kematian atau Kuil Dewa Bulan
Melihat Li Bin sama sekali tidak mengindahkan peringatannya, sang Ksatria Mengerikan itu tampak sangat marah. Ia menancapkan panji perangnya ke tanah dan berteriak lantang, “Tak seorang pun boleh mengabaikan peringatan Ta Erge! Demi kewibawaan Dewi Bulan Kematian, saudara-saudara, serang!”
Begitu komando itu diberikan, para Ksatria Kuda Terbang Kematian di belakang Ta Erge segera mengacungkan pedang dan melesat menuju Li Bin dengan kecepatan yang bahkan tak mampu disaingi oleh Elang Beracun milik Li Bin yang terkenal paling cepat. Untungnya, Li Bin sendiri berasal dari ras yang menguasai sihir dan bela diri sekaligus. Walaupun tanpa senjata di tangannya, Li Bin bukanlah orang yang mudah dikalahkan sekejap mata.
Setelah menerima tiga tebasan bertubi-tubi, Li Bin yang berdebu dan kusut berhasil melarikan diri dari kuil. Syukurlah, para Ksatria Kuda Terbang Kematian itu demi mengejar kecepatan maksimal rela mengorbankan kekuatan serang mereka. Jika tidak, meskipun Li Bin berhasil keluar, nasibnya tetap tak akan jauh lebih baik.
Namun, Li Bin bukanlah orang yang mudah menyerah setelah mengalami kerugian sebesar itu. Setelah menenggak beberapa botol ramuan, ia dengan cepat mengatur pasukannya untuk menyerbu kuil.
Ta Erge pun sudah mengantisipasi bahwa Li Bin akan kembali, sehingga ia beserta pasukannya menunggu di depan gerbang kuil. Begitu melihat pasukan di belakang Li Bin, Ta Erge kembali berteriak lantang, “Wahai orang luar, meskipun kau membawa pasukan sebanyak apa pun, itu sia-sia belaka! Tak ada satu pun yang bisa melindungi orang yang menjadi target Ta Erge!”
Sebelum Li Bin sempat menjawab, Lide yang berada di sampingnya tak bisa menahan diri lagi. Ia mengangkat pedang panjangnya dan menerjang ke depan, melancarkan serangan tiga kali berturut-turut ke arah Ta Erge.
Ta Erge tak mau kalah, tombak berat sepanjang tiga meter di tangannya berputar lincah, ujungnya yang berkilau menangkis semua serangan Lide seperti air mengalir.
Li Bin memang tak tahu alasan Lide bertarung mati-matian seperti itu, namun ia pun tak punya alasan untuk hanya berdiri dan menonton Lide bertarung sendirian. Dengan cepat, ia mengumpulkan beberapa murid penyihir dan mempersiapkan sebuah sihir kutukan berskala besar. Jika sihir ini berhasil, kekuatan serang para Ksatria Kuda Terbang Kematian Ta Erge yang memang sudah tak terlalu kuat akan turun separuh lagi.
Mungkin sistem memang tak ingin Li Bin berhasil melancarkan sihir pertempuran besar pertamanya. Ta Erge yang sedang bertarung dengan Lide menyadari gerak-gerik Li Bin.
Ia dengan paksa menahan pedang panjang Lide, lalu mengangkat tinggi tombak beratnya. Seketika itu, seberkas cahaya bulan turun dari langit, memancar tepat di atas Ta Erge dan para Ksatria Kuda Terbang Kematian di belakangnya. Dalam sinar itu, para Ksatria Kuda Terbang Kematian berlari keluar dari kuil, berteriak memohon perlindungan Dewi Bulan, dan menyerbu Li Bin.
Walaupun para prajurit Li Bin maju menahan serangan Ksatria Kuda Terbang Kematian, sihir kutukan yang telah dipersiapkan Li Bin tetap gagal.
Setelah bertarung sengit dengan prajurit-prajurit Li Bin, para Ksatria Kuda Terbang Kematian meninggalkan dua jasad, lalu sebelum cahaya bulan menghilang, mereka segera kembali ke dalam kuil.
Barulah saat itu Li Bin yang sedang kacau sadar, padahal saat ini adalah siang hari. Cahaya bulan tadi jelas berasal dari kekuatan ilahi penghuni kuil itu.
Li Bin yang penuh amarah bersiap menghidupkan kembali dua jasad Ksatria Kuda Terbang Kematian di tanah untuk melawan Ta Erge, namun Ta Erge bertindak lebih cepat.
Diiringi teriakan para Ksatria Kuda Terbang Kematian yang memohon perlindungan Dewa Kematian, kedua jasad itu bangkit dengan cepat dan kembali berlari ke dalam kuil.
“Sebenarnya ini kuil siapa?” Li Bin berteriak putus asa.
Menghadapi situasi seperti ini, Li Bin benar-benar tak bisa melanjutkan pertarungan. Para Ksatria Kuda Terbang Kematian itu mendapat perlindungan di dalam kuil, kekuatan mereka bertambah, keluar kuil cukup memohon perlindungan Dewi Bulan dan mereka mendapat perlindungan cahaya bulan. Bahkan jika mati di medan perang, mereka bisa segera dihidupkan kembali oleh Dewa Kematian mereka.
Dengan kondisi seperti ini, mustahil bagi Li Bin untuk menang melawan mereka. Namun, pada saat itu sebuah kejadian mengejutkan terjadi. Di tengah pertarungan melawan Ta Erge, lingkaran cahaya tiba-tiba muncul di bawah kaki Lide dan seketika Lide dipindahkan ke tempat lain.
Li Bin tertegun lama, akhirnya ia mulai memahami sesuatu. Ia menahan pasukannya yang ingin maju, lalu perlahan melangkah memasuki kuil.
Di dalam kuil, ia sekali lagi mendengar peringatan sistem dan Ta Erge, namun kali ini ia tidak lari, malah langsung mengirimkan dua kutukan ke arah Ta Erge.
Tombak berat di tangan Ta Erge bergetar, menusuk lurus ke arah Li Bin yang tak jauh di depannya, sementara para Ksatria Kuda Terbang Kematian tetap diam tak bergerak.
Menyadari dugaannya benar, kepercayaan diri Li Bin pun bertambah. Ia menebarkan dua awan kematian dan melompat masuk ke dalamnya.
Li Bin tahu awan kematian tidak bisa melukai Ta Erge terlalu parah, paling hanya mengaburkan pandangannya agar Ta Erge tak tahu posisi Li Bin.
Untuk memperpanjang waktu, Li Bin terus-menerus menggunakan awan kematian dan bergerak dengan cepat di dalamnya. Tak lama kemudian, seluruh kuil telah diselimuti kabut kematian.
Namun, Ta Erge segera mengetahui posisi Li Bin, lalu mengangkat tinggi tombaknya dan menusuk bertubi-tubi ke arahnya. Li Bin pun tak mau kalah, sambil terus mundur ia menambah kutukan pada Ta Erge, berharap bisa menghentikan serangannya.
Tak tahu sudah berapa lama, Li Bin mulai merasa sihirnya hampir habis. Saat itu, sebuah lingkaran cahaya muncul di bawah kakinya dan tubuh Li Bin terasa ringan. Ia pun dipindahkan ke sebuah ruang bawah tanah yang sangat besar.
Di ruangan itu, Lide yang lebih dulu tiba sedang mengamati mural di dinding dengan seksama. Melihat Li Bin, ia segera berkata, “Kau juga masuk, ya?”
“Benar, meskipun aku tak tahu apa sebenarnya yang ada di sini, cara mengundang orang seperti ini memang cukup istimewa,” jawab Li Bin sembari ikut mengamati mural.
Takah lama, Li Bin pun memahami segalanya dari mural itu. Rupanya kota kaum peri ini adalah kediaman salah satu Dewi Bulan dari ras peri. Berkat perlindungan sang Dewi Bulan, kota itu berkembang pesat menjadi kota tingkat sepuluh.
Biasanya, jika kota peri sudah mencapai tingkat ini, mereka boleh mengundang bangsa naga untuk tinggal di sana. Namun, ketika mereka hendak menentukan naga mana yang akan diundang—antara naga hijau yang sangat akrab dengan peri atau naga emas yang adil—pecah perdebatan di antara penduduk kota. Saat perdebatan itu berlangsung, ritual pemanggilan naga yang telah mereka aktifkan mengalami kegagalan. Tiga naga yang seharusnya tak muncul malah datang dan menetap di kota peri.
Tiga naga itu adalah kesayangan alam baka—naga tulang yang sangat kuat.
Kehadiran naga tulang yang tiba-tiba dan menetap di kota membuat Dewi Bulan sangat tidak senang. Namun, ia tak bisa melanggar hukum bahwa naga yang dipanggil melalui ritual resmi adalah penduduk kota. Ia pun membiarkan naga tulang itu tinggal sambil diam-diam mencari cara lain.
Yang tak disangka sang Dewi, belum beberapa hari naga tulang itu menetap, salah satu Dewa Kematian dari kalangan makhluk gaib datang untuk memburu tiga naga tulang pembelot itu.
Namun, saat itu ketiga naga tulang telah menjadi penduduk tetap kota peri. Dua dewa itu berunding lama, namun akhirnya mereka pun bertempur. Pertempuran itu berlangsung selama setengah tahun.