Bab Lima Belas: Dong Xiaoyu, Bersiap untuk Berangkat~
"Entah apakah Guru sudah tidur atau belum..." Begitu tiba di rumah duka, Qiu Sheng langsung menatap sekeliling dengan ragu sambil bergumam.
"Bagaimana? Akhirnya kau mau pulang juga?" Sebuah suara dingin terdengar, membuat Qiu Sheng buru-buru bersembunyi di belakang Zhou Yu.
"Guru, Guru, dengarkan dulu penjelasan saya..."
"Dasar bocah, kau sudah mabuk kepayang, masih saja mau cari alasan?" Wajah Guru Sembilan terlihat muram, kedua tangannya bersedekap di belakang punggung saat perlahan mendekat.
"Guru, Anda tidak tahu, Xiao Yu itu sangat malang..." Qiu Sheng menambahkan bumbu pada ceritanya, menceritakan pengalaman Dong Xiaoyu dan menggambarkan Hakim Wajah Hitam sebagai iblis yang sangat kejam.
Setelah selesai, ia pun menarik Zhou Yu untuk membenarkan, "Kalau tidak percaya, tanya saja pada adik seperguruanku ini."
Meski ceritanya agak dilebih-lebihkan, namun inti utamanya tidak terlalu melenceng. Zhou Yu pun malas menjelaskan lebih jauh, hanya mengangguk membenarkan.
"Benarkah ada kejadian seperti itu?" Guru Sembilan mengerutkan kening.
"Iya, Guru. Anda kan selalu berhati mulia, membenci kejahatan, tegas membedakan benar dan salah, dan suka menolong orang..."
"Hentikan rayuanmu!" Guru Sembilan melirik tajam ke arah Qiu Sheng, kemudian berkata, "Pergilah, panggil gadis arwah itu kemari, aku ingin menanyainya langsung."
"Ah?" Qiu Sheng terkejut.
"Mengapa? Kau masih ingin terus bermesraan dengannya?"
"Tidak, tidak..."
"Kalau begitu cepat pergi. Jika apa yang ia katakan benar, aku akan membantunya kali ini."
"Terima kasih, Guru, terima kasih banyak." Qiu Sheng sangat gembira, lalu berlari keluar dengan cepat.
"Aduh, anak malang..." Guru Sembilan menghela napas panjang.
Kali ini, hampir satu jam berlalu sebelum Qiu Sheng kembali. Melihat penampilannya, Zhou Yu hanya bisa menggelengkan kepala.
Guru Sembilan semakin marah, segera mendekat dan menampar kepala Qiu Sheng, "Dasar kurang ajar! Kambuh lagi tabiat lamamu, sudah tahu situasi begini masih saja sempat menyelipkan waktu..."
"Guru Agung, ini bukan salah Qiu Sheng, kalau ingin menghukum, hukum saja aku," tiba-tiba Dong Xiaoyu muncul dan berlutut di hadapan Guru Sembilan.
"Kau..."
"Guru, jangan salahkan Xiao Yu, ini salahku yang tidak bisa menahan diri..."
"Guru, ada apa ini?" Wen Cai tiba-tiba muncul dengan wajah bingung.
"Bukan urusanmu."
"Oh..." Wen Cai pun mundur.
Guru Sembilan menghela napas panjang, lalu berkata pada Dong Xiaoyu, "Sudahlah, ceritakan dengan jujur pengalamanmu, jangan ada sepatah kata pun yang bohong."
"Baik..." Dong Xiaoyu mengangguk dan sekali lagi menceritakan alasan dirinya menjadi arwah gentayangan.
Setelah mendengarkan, wajah Guru Sembilan tetap muram. "Kalian tunggu di luar, aku akan membuka altar dan melakukan ritual."
"Guru, perlu bantuan dari murid?" Qiu Sheng memberanikan diri bertanya.
Namun, Guru Sembilan tak menghiraukannya dan langsung masuk ke ruang altar tempat ia biasa membakar dupa.
Hanya sekejap, segala persiapan rampung.
Guru Sembilan mulai memanggil utusan arwah: "Langit bulat bumi datar, sembilan lembar hukum, kini pena kuturunkan, semua arwah tunduk dan tersembunyi. Utusan arwah di sini, Hakim Wajah Hitam, dengarkan perintahku, tak boleh menunda... segera lakukan sesuai hukum!"
Begitu mantra diucapkan, tiba-tiba angin dingin berhembus di dalam ruangan, diikuti pusaran kabut hitam.
"Haha, Guru Sembilan, sudah lama tak bertemu, ada keperluan apa hingga kau memanggilku?" Dari pusaran itu, muncul seorang pria berbadan kekar dengan jubah hakim dunia bawah, berwajah hitam dan berjenggot lebat.
Inilah Hakim Wajah Hitam yang disebut Dong Xiaoyu.
"Hakim Hitam, kita sudah lama saling mengenal. Aku akan langsung bertanya. Apakah kau diam-diam menahan arwah bernama Dong Xiaoyu sehingga ia tak bisa bereinkarnasi?"
Mendengar itu, Hakim Wajah Hitam terkejut, "Dia berani-beraninya datang mencarimu?"
"Jadi, yang dia katakan benar?"
Hakim Wajah Hitam tampak tak senang, "Guru Sembilan, mengapa kau percaya pada omongan arwah kecil?"
"Hakim Hitam, kita lupakan urusan masa lalu. Tapi kali ini, Dong Xiaoyu ada kaitannya dengan muridku, aku harus menyelesaikan urusan ini sendiri. Anggap saja aku mohon padamu, tolong biarkan dia segera bereinkarnasi."
Tak disangka, Hakim Wajah Hitam malah tersenyum sinis, "Ternyata dia sudah dapat pelindung, pantesan berani melaporiku."
"Bukan dia yang melaporimu, aku yang memintanya datang ke sini."
"Kalau aku tak setuju bagaimana?"
Wajah Hakim Hitam semakin kelam.
Sikap keras kepala ini membuat Guru Sembilan kesal. Ia memang tidak suka dengan Hakim Wajah Hitam, dan tahu bahwa orang itu memang bukan orang baik. Namun, karena mau tak mau harus berurusan, ia masih berusaha bicara baik-baik. Tapi kalau begini, ia hanya bisa bersikap tegas.
"Hakim Hitam, aku bicara sopan padamu karena menghargaimu. Kalau kau tidak mau dihargai, jangan salahkan aku kalau aku juga tak peduli lagi. Kalau kau menolak, aku sendiri akan mengantar Dong Xiaoyu ke dunia arwah, sekaligus mengirim surat tuntutan padamu..."
Mendengar itu, Hakim Wajah Hitam langsung ketakutan. Ia tahu betul, dengan kekuatan Guru Sembilan, ia bisa saja mengantarkan Dong Xiaoyu langsung ke dunia arwah tanpa melewati dirinya. Kalau Dong Xiaoyu membawa surat tuntutan dari Guru Sembilan, akibatnya akan sangat buruk.
Seketika sikapnya berubah, dengan senyum terpaksa ia mendekat, "Guru Sembilan, jangan marah, maafkan aku kali ini."
"Tidak usah," jawab Guru Sembilan dengan ketus.
"Jangan begitu, Guru Sembilan. Anda orang besar, berhati lapang. Begini saja, urusan ini akan segera aku selesaikan, tidak akan aku tunda lagi."
Karena Hakim Wajah Hitam sudah mengalah, Guru Sembilan pun melunak sedikit, "Baiklah, sebaiknya kau jangan main-main lagi."
"Tidak, tentu tidak..."
"Dan lagi, lain kali kurangi perbuatan buruk, hati-hati nanti malah turun ke neraka."
Ucapan itu benar-benar menusuk, membuat otot di wajah Hakim Wajah Hitam berkedut, tapi ia tak berani marah. Meski ia bukan bawahan langsung Guru Sembilan, namun Guru Sembilan punya kedudukan khusus, bertugas menghubungkan dunia manusia dan dunia arwah di wilayah itu. Dengan status ini saja, ia sudah bisa menekan Hakim Wajah Hitam. Lagi pula, Hakim Wajah Hitam bukan hakim utama di Istana Yama, hanya pejabat kecil di kawasan tertentu.
Sekitar setengah jam kemudian.
Di halaman, Dong Xiaoyu tiba-tiba menunjukkan ekspresi gembira, "Syukurlah, akhirnya aku bisa bereinkarnasi."
"Selamat," Zhou Yu maju dan memberi ucapan.
Qiu Sheng tampak enggan berpisah, "Xiaoyu, semoga di kehidupan berikutnya kau lahir di keluarga yang baik."
"Qiu Sheng..." Mata Xiaoyu memerah, jelas ada rasa berat untuk berpisah.
"Sudah, biar aku antar kau sekali lagi," Guru Sembilan mengenakan jubah Tao, membawa pedang kayu persik mendekat.
"Guru, izinkan aku berterima kasih sekali lagi," Dong Xiaoyu menunduk penuh hormat kepada Guru Sembilan, lalu berpamitan pada Zhou Yu dan Qiu Sheng.
"Xiaoyu..." Setelah berbagai kenangan indah, Qiu Sheng tak tahan, ia memeluk Xiaoyu erat-erat.
"Kak Qiu, jika di kehidupan selanjutnya kita berjodoh, aku pasti akan menjadi istrimu dengan terhormat..."
"Jangan banyak berharap, saat kau dewasa nanti, anak ini mungkin sudah jadi kakek tua..." Guru Sembilan berkomentar.
Qiu Sheng kesal, "Guru, tak bisakah Anda bicara yang menyenangkan sedikit?"
"Aku hanya berkata jujur."
Qiu Sheng: "..."
"Sudah cukup, Dong Xiaoyu, bersiaplah berangkat."
Guru Sembilan mengayunkan pedang kayu dan mulai melantunkan mantra:
"Dengan perintah tertinggi, bebaskan arwah malang ini,
Segala hantu dan makhluk, semua mendapat berkah,
Yang berkepala, beranjak; yang tak berkepala, lahir kembali,
Yang mati karena senjata, air, atau gantung diri,
Yang tewas terang-terangan atau diam-diam, yang meninggal karena dendam,
Para penagih utang, musuh, anak-anak yang merenggut nyawa,
Berlututlah di hadapan altar, delapan penjuru bersinar terang,
Pergilah dengan damai, menuju kelahiran baru di tempat lain,
Menjadi laki-laki atau perempuan, tanggung sendiri nasibmu,
Kaya atau miskin, itu panggilanmu,
Dengan semua perintah ini, segera lahir kembali..."
...