Bab 3 Memohon Bantuan untuk Keluar dari Kesulitan
"Senior!" bisik Xu Zhiyi lembut, menatapnya dengan sorot mata memohon.
Tatapan pria itu seketika membeku, matanya dalam seperti telaga yang tak terlihat dasarnya, hawa dingin yang terpancar pun semakin pekat.
Tangannya sempat bergerak, namun pada akhirnya tak jadi menepis genggaman Xu Zhiyi.
Xu Zhiyi baru bisa diam-diam menghela napas lega, meski hingga mereka berbelok di koridor, suara tawa ejekan dari belakang masih terdengar.
"Sial, sok polos banget."
"Sok gimana? Gue justru suka tipe kayak gitu!"
"Sayangnya Lin tak berhasil juga, hahaha..."
Akhirnya terdengar suara Lin Xiaokai yang penuh percaya diri, "Ngakak aja, hari ini gue lepasin dia dulu, nanti juga gue punya cara sendiri buat ngaturnya."
Xu Zhiyi secara otomatis menutup telinga dari kata-kata kotor itu, namun hatinya tetap terasa tak nyaman. Genggamannya pada lengan pria di sisinya pun tanpa sadar mengerat.
Detik berikutnya, pandangannya berputar, tubuhnya sudah terdorong ke dinding.
Menunduk, Xu Zhiyi melihat lengan pria itu menahan di depan dadanya, sementara tangannya sendiri masih dalam posisi menggandeng.
Saat ia mendongak, pandangannya langsung bertemu sorot mata pria itu yang menyelidik, "Bermain tarik ulur?"
Xu Zhiyi sempat terpana, lalu buru-buru menjelaskan, "Itu hanya pasien yang sedikit kurang ajar." Membencinya saja rasanya tak cukup.
Pria itu jelas tak percaya, sorot matanya berubah menilai, "Jika Dokter Xu bahkan tak bisa menjaga hubungan baik dengan pasien..."
"Dengar satu nasihat, sebaiknya cepat-cepat ganti profesi."
Setelah berkata demikian, pria itu langsung berbalik pergi tanpa menoleh.
Xu Zhiyi memandang punggungnya yang menjauh, sudut bibirnya tersungging getir.
Sesampainya di rumah, ia mengabari Zhou Yao bahwa dirinya selamat, namun entah sejak kapan ponselnya sudah kehabisan baterai.
Begitu dinyalakan, pesan masuk berdentang bertubi-tubi.
Semuanya dari Lin Lixiang.
[Kau di mana? Azhan tak butuh dirawat? Sekarang juga, segera ke rumah sakit! Aku bisa anggap kau tak pernah bilang soal pembatalan pertunangan.]
[Xu Zhiyi, jangan besar kepala! Azhan masih mau menerimamu, itu sudah keberuntunganmu!]
[Jika setengah jam lagi kau tak sampai rumah sakit, jangan salahkan aku jika tak memberi ampun!]
Xu Zhiyi hanya melirik sekilas, ternyata semua pesan itu dikirim sekitar sejam yang lalu.
Ia membalas singkat, [Keberuntungan itu buat dirimu sendiri saja. Rawat baik-baik putramu, jangan sampai garis keturunan keluargamu terputus.]
Malam itu, Xu Zhiyi tidur tak nyenyak. Pagi-pagi ia sudah berangkat kerja, baru saja duduk, telepon dari bagian hubungan pasien sudah masuk.
Keluhan dari Lin Xiaokai, pihak rumah sakit harus memberi keputusan hari ini, ia diminta segera datang.
Mengingat kejadian semalam, hati Xu Zhiyi sempat bergetar, ia pun segera bergegas.
Tepat saat itu, ia melihat Lin Lixiang keluar dengan dituntun pembantu, mereka berpapasan di depan pintu.
Xu Zhiyi mengernyit, dan melihat Lin Lixiang meliriknya tajam, bibirnya melengkung bangga.
"Aku ini orangnya berhati lembut. Kalau sekarang kau mau berlutut dan memohon padaku, serta berjanji akan tulus pada Azhan ke depannya, mungkin aku bisa mempertimbangkan untuk membantumu bicara baik-baik."
"Kalau tidak, bersiaplah untuk angkat kaki dari rumah sakit ini!"
"Nanti kalau kau datang merendah dan memohon, jangan harap aku akan semurah hati sekarang."
Xu Zhiyi menanggapi dengan tawa dingin, "Tenang saja, meski harus dipecat, aku takkan pernah memohon padamu."
"Lagi pula, tolong jaga anakmu baik-baik, biar hubungan ini berakhir dengan baik. Jangan ganggu lagi di masa depan."
Ia beringsut melewati Lin Lixiang, namun berhenti sejenak, "Dan satu lagi, sebaiknya suruh anakmu periksa kesehatan dengan teliti, jangan-jangan terkena penyakit yang tak diinginkan. Kalau sampai begitu, garis keturunan keluargamu..."
Ucapan Xu Zhiyi sengaja digantung, melihat Lin Lixiang menunjuknya dengan marah, "Kau..."
Xu Zhiyi memotong, "Tak perlu berterima kasih, anggap saja itu nasihat perpisahan."
Setelah berkata begitu, ia tak menoleh lagi. Sampai ia masuk ke kantor, suara Lin Lixiang yang penuh amarah masih terdengar membahana.
Setengah jam kemudian, Xu Zhiyi keluar dari ruangan itu dengan selembar surat pemberhentian sementara di tangan.
Saat melihat Lin Lixiang tadi, ia sudah menduga kemungkinan terburuk, tapi tetap saja perasaan kecewa itu hadir.
Keluhan dari Lin Xiaokai sebenarnya hanya sepihak, pihak rumah sakit tadinya hanya berniat menanganinya secara dingin.
Namun Lin Lixiang, dengan status sebagai ibu mantan tunangannya, melaporkan secara resmi tentang kehidupan pribadinya yang dianggap tak pantas, seolah membenarkan tuduhan Lin Xiaokai.
Xu Zhiyi memejamkan mata, ingatan akan pertanyaan tajam dari kepala bagian masih membekas di benaknya.
"Apakah kau berdandan? Memakai apa hari itu?"
Hari itu sebenarnya ia sedang libur dan hendak menjenguk ibunya, maka ia mengenakan qipao kesukaan sang ibu dan merias diri dengan make up tipis.
Namun di tengah jalan, ia mendapat telepon dari kepala bagian untuk membantu berkeliling ruangan.
Ia menjawab sejujurnya, dan tatapan kepala bagian padanya pun langsung berubah.
"Seorang dokter seharusnya berpenampilan seperti dokter. Merias diri dan memakai qipao, kau kira ini rumah sakit atau tempat hiburan?"
Xu Zhiyi tak pernah membayangkan, ternyata memberi label pada perempuan karier semudah itu: hanya dengan qipao dan riasan tipis.
Fitnah dari orang tak bertanggung jawab, ditambah kabar bohong yang sengaja disebarkan, sudah cukup membuat manajemen yang berpendidikan tinggi ikut-ikutan menghakimi...
Mengajukan banding tentu harus dilakukan, tapi tempat yang sudah membuatnya muak, tak ingin lagi ia tinggali.
Saat ia sedang membereskan barang dan hendak pergi, seorang perawat anak-anak menariknya.
Xu Zhiyi belum sempat menjelaskan bahwa ia tengah diskors, tubuhnya sudah ditarik ke ruang anak.
Di perjalanan, perawat itu menjelaskan, "Anak kecil, sekitar dua-tiga tahun, mengalami pendarahan, sekarang sedang menunggu di ruang periksa."
"Bus kecelakaan dari TK terdekat, semua dokter anak dikerahkan ke IGD."
"Ini masih masuk keahlianmu, jadi kami minta bantuanmu sebentar."
Sudah sejauh ini, Xu Zhiyi tak tega menolak, ia pun membawa tas dan mengikuti perawat itu.
Sesampainya di ruang periksa, ia melihat seorang pria tua memangku anak kecil di kursi pasien.
Di depan mereka, seorang pria muda berjas rapi sedang berjongkok, menyodorkan permen lolipop pada si anak, "Makanlah."
Nada bicaranya agak tegas, dan entah karena takut atau bagaimana, si anak yang tadinya sesenggukan langsung berhenti menangis.
Mata Xu Zhiyi pun tertuju pada pria itu. Kebetulan, pria itu juga menoleh.
Barulah Xu Zhiyi menyadari siapa pria itu—Huo Yansheng.
Xu Zhiyi tertegun, anak itu... anaknya?