Bab 13: Membantu Tanpa Batas
Xu Zhiyi tahu pria itu tidak sedang bercanda, tubuhnya pun menegang secara refleks. Sebelumnya di rumah sakit, ia pernah menangani kasus serupa, namun situasinya berbeda; tak ada obat yang bisa menekan, jadi hanya bisa diarahkan dengan cara yang sangat mendasar. Tapi ia tetap tak mampu melewati batas itu di dalam hatinya.
Saat ia masih ragu-ragu, terdengar suara dingin dari pria itu, “Aku tidak akan memaksamu, tapi jangan ganggu aku, pergi sana.” Xu Zhiyi tak menjawab. Bukan karena tak ingin pergi, tapi naluri dokternya berkata ia tak seharusnya meninggalkan pria itu begitu saja.
“Kakak senior... uh...” Belum sempat ia bicara, mulutnya kembali dibekap.
Tiba-tiba terdengar langkah kaki dari luar pintu, disusul suara seseorang berteriak, “Tadi jelas-jelas ke arah sini, kok tidak ada? Cari yang teliti! Kalau ketahuan tidak menemukan, siap-siap saja mendapat masalah!”
Xu Zhiyi refleks menoleh ke arah pria itu, dan mendengar Huo Yansheng berbisik pelan, “Sekarang meski kau ingin pergi, aku juga tak mungkin membiarkanmu keluar.”
Saat berbicara, tubuhnya menempel erat pada Xu Zhiyi, seolah mencari penyangga, seluruh berat badannya bersandar padanya.
Namun, dari suara yang keluar, kesadarannya masih cukup jernih, sehingga Xu Zhiyi pun berusaha tenang.
“Kakak senior, aku bisa membantumu mengatasi ini, tapi kau harus menurut padaku.”
Pria itu tampak tertegun, lalu berkata dengan nada aneh, “Aku sampai lupa, ini memang keahlian Dokter Xu, ya.”
Nada suaranya sinis, membuat Xu Zhiyi kesal. Ia menarik tangan pria itu sambil balas berkata, “Jangan bilang padaku kau belum pernah mengalami ini sendiri.”
Ia pun mendorong pria itu, “Kalau di rumah sakit, sudah kutusuk dengan obat penenang!”
Pria itu terhuyung beberapa langkah, jatuh duduk di lantai, lalu tertawa pelan dengan nada tak terbaca.
Xu Zhiyi berdiri membelakanginya. Walau sudah berusaha menutup telinga, tetap saja suara-suara itu dan desahan napas berat pria itu perlahan-lahan terdengar jelas di telinganya...
Entah sudah berapa lama waktu berlalu, sesekali langkah kaki dari luar masih terdengar samar.
Jika terus begini...
Tangan Xu Zhiyi mengepal erat, tak tahan lagi, “Kakak senior... kau baik-baik saja?”
Tak ada jawaban dari belakang, hanya suara napas berat penuh penderitaan.
Dalam benaknya ia berusaha mengingat segala kemungkinan, tetap saja tak menemukan sesuatu yang bisa membantunya.
Kekhawatiran menyelinap di hatinya, cemas akan kondisi tubuh pria itu.
Dalam gelap ia tak dapat melihat keadaan Huo Yansheng, tapi cukup dari suara napasnya ia tahu betapa ia kesakitan.
Namun ia tetap menahan diri untuk tidak melangkah lebih jauh.
Bukan tak tergerak, bahkan ada sebersit rasa iba.
Ia merasa dirinya pasti sudah gila, sadar seharusnya tidak membantu seperti ini, tapi tetap saja ia mengeluarkan sepasang sarung tangan medis cadangan dari tas.
Saat ia mendekat, pria itu masih menunjukkan sedikit kewaspadaan, “Kembalilah ke tempatmu.”
Belum sempat ia berkata lebih, Xu Zhiyi buru-buru menutup bibir pria itu, dengan sikap teguh, “Tak perlu bicara apa pun, biar aku membantumu...”
Pria itu benar-benar tak menyangka, tubuhnya sempat menegang, tapi akhirnya membiarkan Xu Zhiyi mengambil alih.
Xu Zhiyi menjalankan tugas darurat itu, diam-diam bersyukur lampu belum dinyalakan, karena tetap saja ia merasa malu. Dalam hatinya terus mengingatkan, ia seorang dokter, tak boleh membiarkan seseorang dalam bahaya, tak ada bedanya dengan operasi.
Napas pria itu semakin memburu, tubuhnya tiba-tiba menindihnya. Belum sempat ia bereaksi, bibir panas pria itu sudah menyambar bibirnya...
Entah berapa lama, tiba-tiba alarm kebakaran berbunyi keras di sepanjang koridor, langkah-langkah kacau terdengar, dan ada yang meneriakkan nama Huo Yansheng.
Pintu ruangan didobrak dari luar, lampu menyala, dan pada detik itu juga jas pria itu dilemparkan ke kepala Xu Zhiyi menutupi wajahnya.
“Bawa dia keluar sendiri.”
Pria itu memberi perintah, Xu Zhiyi belum paham apa yang terjadi, sudah ada yang memegangi lengannya.
Ia mengikuti nalurinya meraih tangan Huo Yansheng, “Kalau begitu kau bagaimana?”
Selesai bertanya, ia sadar itu pertanyaan sia-sia, lalu menarik kembali tangannya dan ikut keluar.
Begitu masuk ke mobil, jas yang menutupi kepalanya dibuka.
Ternyata wajah yang tak asing, si tuan muda yang dulu pernah bermain biliar bersama Huo Yansheng.
Ia tersenyum lebar pada Xu Zhiyi, “Kita bertemu lagi, adik junior.”
Tangannya masih memegang ujung jas, enggan melepaskan, membuat suasana jadi lucu.
Xu Zhiyi sedikit canggung, lalu menunduk memberi hormat, “Halo, namaku Xu Zhiyi, terima kasih sudah repot-repot.”
“Tidak merepotkan, melayani wanita cantik adalah kehormatan bagiku!” Ia tertawa, “Aku bermarga Song, Song Qingyan, kau juga boleh memanggilku Kakak Song.”
Xu Zhiyi menunduk diam, Song Qingyan pun berhenti menggoda.
Di tengah perjalanan, ia menerima telepon.
Xu Zhiyi tak tahu apa yang dibicarakan, tapi wajah Song Qingyan tampak serius.
Begitu telepon ditutup, ia kembali ceria seperti semula.
“Huo Yansheng menitipkan pesan untukmu.”
“Apa?” Xu Zhiyi menoleh padanya.
Ia tersenyum samar, “Malam ini kau sudah sangat berjasa, pulanglah dan istirahat yang baik!”