Bab 124: Dengan Gagah Berani Menyatakan Tanggung Jawab
Sambil mengunyah secara mekanis, pikirannya melayang ke mana-mana. Ia bahkan menertawakan dirinya sendiri. Dari sekian banyak orang, mengapa ia justru menyukai seseorang yang selamanya tak mungkin ia gapai? Ia telah membuat dirinya begitu kecil dan rendah, terjerembap hingga ke dalam debu.
Saat berjalan keluar bersamanya, ia melangkah di belakang. Hanya pada saat-saat seperti inilah ia berani sedikit mengangkat pandangan untuk mengamati punggung itu.
Ketika berjalan, bahu dan punggungnya tegak lurus, menjulang kokoh seperti cemara hijau yang diselimuti salju. Wibawanya begitu kuat. Di balik kemeja biru tua itu, samar-samar tampak garis otot yang kokoh di sekitar kedua tulang belikatnya. Setiap lekuknya mengalir seimbang dan sempurna, memancarkan ketegangan yang mantap mengikuti gerak tubuhnya. Bahunya lebar, pinggangnya ramping, kedua kakinya jenjang, langkahnya mantap. Seluruh dirinya memancarkan pesona dewasa yang memikat, dari dalam hingga ke luar.
Andai suatu hari ia bisa memeluk tubuh itu dari belakang dan menyandarkan wajahnya pada punggungnya, hidup ini tak akan lagi menyisakan penyesalan baginya…
Ketika tiba di rumah sakit, dokter sudah menunggu.
An Yiqian masuk untuk menjalani pemeriksaan, sementara Song Jinnan berdiri diam di luar.
Xiao Yiyuan datang setelah mendengar kabar itu. Dengan wajah masih dipenuhi kebingungan, ia bertanya, “Dia benar-benar sudah menyetujuinya? Kau sudah menjelaskan semuanya dengan jelas kepadanya? Tingkat keberhasilan operasi bahkan kurang dari lima puluh persen. Bisa-bisa satu ginjal terbuang sia-sia…”
Song Jinnan mengerutkan kening, wajahnya muram. “Sudah kukatakan, dia sendiri yang bersikeras ingin mendonorkannya.”
Setelah mengucapkan itu, ia melihat sahabatnya terus menatapnya. Dengan kesal ia membalikkan badan, lalu terdiam sejenak sebelum akhirnya menceritakan seluruh percakapan mereka tadi malam.
Setelah mendengarnya, wajah Xiao Yiyuan semakin terkejut. “Dia benar-benar mengatakan itu?”
“Kalau kau tidak percaya, aku juga tidak bisa berbuat apa-apa.”
“Bukan begitu…” Wajah Xiao Yiyuan mengernyit penuh kebimbangan. Satu tangannya mengusap dagu, sementara ia menimbang-nimbang kata-katanya. “Tidakkah menurutmu ucapannya terdengar seperti orang yang sudah menyerah pada dirinya sendiri? Seolah-olah dia sama sekali tidak peduli pada kesehatan tubuhnya, bahkan tidak peduli pada nyawanya?”
Wajah Song Jinnan tampak serius. Alisnya sedikit berkerut, tetapi ia tetap bungkam.
“Selain itu, dia begitu mencintaimu. Dia menikah denganmu sambil menanggung tekanan besar dan caci maki keluarganya, membayar harga yang begitu mahal. Namun, dia justru berinisiatif mengusulkan perceraian setahun kemudian. Tidakkah menurutmu itu sangat tidak wajar? Jangan-jangan dia sudah tidak sanggup menghadapi semuanya…”
“Kalau memang dia sudah tidak sanggup, mengapa harus menunggu sampai setahun kemudian?” tanya Song Jinnan balik dengan tenang.
Xiao Yiyuan merenung sejenak. Benar juga, itu memang tidak masuk akal…
“Kalau begitu, sudah pasti setelah setahun dia berniat pergi. Dia pasti ingin meninggalkan tempat yang penuh luka ini untuk selamanya dan tak akan pernah kembali.”
Pria itu terdiam, tidak mengatakan apa-apa.
“Jinnan, aku semakin lama semakin kasihan pada gadis itu. Pasti kecurigaan kalian semua telah membuatnya nekat. Bahkan jika harus mempertaruhkan nyawanya, dia tetap ingin membuktikan bahwa dirinya tidak bersalah! Dia pasti sudah benar-benar hancur dan putus asa, sehingga tidak ingin lagi memaksakan pernikahan ini.”
Tadi malam Song Jinnan hampir tidak tidur sama sekali. Ia terus membolak-balikkan tubuh sambil memikirkan semua ini. Bagaimana mungkin ia tidak memahami maksud di balik tindakan itu?
Namun, sekarang keadaan sudah seperti ini. Apa yang bisa ia lakukan?
“Jinnan, aku tetap merasa kau harus berbicara lagi dengannya. Pertama-tama, kau harus membenahi sikapmu dan menjelaskan bahwa kau tidak mencurigainya. Kau harus meminta maaf. Setelah itu, mintalah dia melepaskan emosinya dan mempertimbangkan semuanya kembali dengan tenang. Jangan biarkan dia bertindak hanya karena dorongan sesaat.”
Xiao Yiyuan membujuknya dengan sungguh-sungguh, tetapi Song Jinnan tetap bergeming.
Setelah beberapa lama, barulah ia berkata dengan acuh tak acuh, “Tadi malam aku sudah menjelaskan dan meminta maaf. Dia tetap bersikeras.”
“Kau…” Xiao Yiyuan hampir menjadi gila karena kesal. “Apa kau kira aku tidak mengenalmu? Permintaan maafmu tadi malam pasti sama sekali tidak tulus, atau malah disampaikan dengan sikap merasa lebih tinggi!”
Sahabatnya telah tepat mengenai sasaran. Song Jinnan pun merasa malu sekaligus marah, lalu menyahut, “Kalau dia menjalani operasi ini, berhasil ataupun tidak, aku akan menanggung hidupnya seumur hidup. Akan kupastikan dia hidup berkecukupan dan tak seorang pun berani menindasnya. Puas?! Mana mungkin pernikahan ini bisa dilangsungkan sesuka hatinya, lalu diakhiri sesuka hatinya pula? Apakah hidupku, Song Jinnan, boleh dipermainkan olehnya?!”