Bab 026 Hubungan Mertua dan Menantu Masih Cukup Baik

Setelah Bercerai dengan Bos Besar Ren Yingying 1217kata 2026-02-09 02:20:02

"Anak... Sebenarnya, Ibu tidak setuju dengan keputusan ini... Dengan kondisi Ibu seperti sekarang, hidup beberapa tahun lebih lama atau lebih singkat pun tidak ada bedanya. Tapi kamu masih sangat muda, hanya memiliki satu ginjal pasti akan memengaruhi kehidupanmu di masa depan—"

Anisa benar-benar terkejut, ia tak menyangka Lin Zhihua akan menasihatinya seperti ini.

"Tadi malam Ibu juga sudah bicara pada Jinnian, tidak perlu buru-buru operasi, kita tunggu saja dulu—kalau nanti ada ginjal yang cocok, dan waktunya masih cukup, Ibu akan operasi. Tapi kalau memang tidak ada, ya sudahlah—meminta seorang gadis muda dan sehat seperti kamu untuk memberikan ginjalnya pada pasien yang sudah bertahun-tahun terbaring lemah seperti Ibu, rasanya tidak sebanding." Nada bicara Lin Zhihua tetap lambat dan tenang, membawa kehangatan yang lembut.

Hati Anisa terasa tersentuh.

Selama ini, belum pernah ada orang tua yang bicara padanya dengan nada setulus itu, atau benar-benar memikirkan kepentingannya.

Ia membayangkan, jika ia punya seorang ibu, pasti akan seperti ini.

Ucapan Lin Zhihua membuat hatinya luluh, sekaligus semakin menguatkan tekadnya untuk mendonorkan ginjal.

Sungguh jarang ada orang yang baik padanya. Dalam hatinya, ia tidak ingin orang ini pergi secepat ini, apalagi ini adalah ibu dari Song Jinnian.

"Ibu, dokter bilang, sebenarnya hidup dengan satu ginjal tidak akan terlalu berpengaruh pada kehidupan. Sekarang kita sudah jadi keluarga, tidak perlu memikirkan hal-hal seperti itu. Melihat Ibu bisa sehat dan tetap hidup, itu adalah harapan terbesar Jinnian, juga harapan terbesar saya."

Lin Zhihua menggeleng pelan. "Anak bodoh... dokter memang bilang begitu, tapi hidup ini panjang, siapa tahu suatu saat ada kejadian yang tidak diinginkan? Lalu bagaimana denganmu?"

Secara prinsip, memang hidup dengan satu ginjal tak akan berdampak besar. Namun, siapa tahu suatu hari nanti ada penyakit lain yang datang, waktu itu sudah tidak ada jalan keluar lagi.

Anisa tentu paham apa yang dimaksud. Tapi setelah beberapa saat terdiam, ia tetap tersenyum, "Ibu, rencana operasi sudah pasti, sekarang Ibu cukup istirahat dan jaga kesehatan. Setelah operasi berhasil, Ibu akan pulih kembali."

"Aduh, anak ini—"

Di luar kamar, tangan besar Song Jinnian lama menggenggam gagang pintu, namun tak kunjung mendorong masuk. Beberapa saat kemudian, ia menarik kembali tangannya dengan wajah datar.

Zuo Mu bingung, menoleh padanya. "Tuan Song?"

"Ayo pergi," jawab pria itu dingin, lalu berbalik dan melangkah pergi.

Zuo Mu masih kebingungan, tapi tetap mengikuti dari belakang.

Awalnya, Song Jinnian khawatir gadis itu belakangan berubah sikap, suka membantah siapa saja, sehingga ia ingin memastikan keadaannya. Tapi setelah melihat langsung, ternyata Anisa masih waras, belum seperti anjing gila yang menggigit siapa saja. Maka ia pun tak ingin masuk dan bertemu dengannya.

*

Malam harinya, Song Jinnian pulang.

Namun Anisa merasa, dibanding saat ia sendirian di rumah yang begitu bebas, kehadiran pria itu justru membuatnya canggung dan gelisah.

Di meja makan, suasana sangat hening. Selain suara sumpit yang sesekali membentur mangkuk porselen, mereka bahkan mengunyah pun hampir tanpa suara.

Pria itu makan dengan cepat namun tetap elegan. Anisa diam-diam melirik beberapa kali, lalu mengalihkan pandangan.

Setelah selesai, pria itu meninggalkan ruang makan lebih dulu. Tanpa sadar, Anisa menghela napas lega, menelan makanan pun terasa lebih mudah.

Seusai makan, Song Jinnian masuk ke ruang kerja untuk melanjutkan pekerjaan, sementara Anisa menghabiskan waktu dengan membaca buku hingga larut malam.

Ketika jarum jam menunjukkan pukul sebelas, pria itu masuk ke kamar. Saat itu, Anisa baru saja selesai mandi dan keluar dari kamar mandi. Tanpa diduga, mereka bertemu secara langsung, membuat jantung Anisa berdegup kencang. Gerakannya mengeringkan rambut mendadak terhenti.

Song Jinnian mengira Anisa sudah tertidur. Tak disangka, gadis itu baru saja mandi. Tatapan mereka bertemu; mata gadis itu membulat penuh kebingungan dan kepanikan, benar-benar seperti anak kecil yang tertangkap basah melakukan kesalahan.