Bab 092: Tanpa Ragu Mendengar Diam-diam dan Mengetahui Kebenaran
Air muka An Zhiwei penuh dengan rasa sakit dan penyesalan. “Ya, aku memang bersalah pada ibumu... Dia menanggung banyak penderitaan, semuanya karena aku...”
Di luar ruang perawatan, Song Jinnian berdiri di depan pintu dengan aura dingin, mendengarkan kisah yang terjadi lebih dari dua puluh tahun lalu di dalam, perasaannya rumit dan berat.
Tragedi yang menimpa An Zhiwei waktu itu, kini seolah terulang kembali pada dirinya.
Bedanya, keluarga An terpuruk karena kegagalan usaha, sedangkan dirinya karena ibunya sakit parah.
Perbedaan lain, An Zhiwei dipaksa oleh keluarganya, sementara ia seperti “disandera” oleh seorang wanita.
Xiao Yiyuan melangkah mendekat, melihat Song Jinnian terpaku di depan pintu, hendak bicara namun segera terhenti oleh lirikan tajam sahabatnya. Keduanya pun melangkah menjauh.
“Ada apa? Ada orang di dalam?” tanya Xiao Yiyuan heran setelah berjalan beberapa langkah.
“Ya,” sahut Song Jinnian datar. “An Zhiwei datang.”
“An Zhiwei?” ulang Xiao Yiyuan, lalu menimpali, “Berarti, makanan di rumah keluarga An kemarin tidak bermasalah, setidaknya kau dan dia baik-baik saja.”
Song Jinnian tak ingin mempermasalahkan itu lagi. Kini fokusnya hanya pada kelancaran operasi.
“Waktu operasi terpaksa harus ditunda. Di sisi lain, platform donor organ masih mencari ginjal yang cocok. Jika kondisi Tante sanggup bertahan, walau berita dari sana belum pasti, gadis itu masih jadi cadangan,” ujar Xiao Yiyuan, lalu menatapnya ragu, “Tapi yang kutakutkan, tubuh Tante tak sanggup menunggu...”
Song Jinnian tak menjawab, namun wajahnya tetap suram dan dingin, dengan kerutan gelap di antara alis yang tak kunjung pudar.
Xiao Yiyuan tahu sahabatnya gelisah. Sesuatu yang tadinya sudah di depan mata, bahkan telah ia bayar mahal hingga mengorbankan kebahagiaan hidupnya sendiri, kini mendadak berubah, siapa pun pasti sulit menerimanya.
“Tante akan dipindahkan ke rumah sakit hari ini. Nanti aku akan jelaskan, bilang saja persiapan operasi ada kendala, jadi harus ditunda beberapa hari.”
“Tak perlu.” Song Jinnian berkedip, alisnya sedikit melonggar, suaranya dalam, “Biar aku saja yang bicara. Kalau kau yang menjelaskan, dia malah makin curiga.”
Xiao Yiyuan melirik, “Lalu kau akan bilang apa?”
Pria itu menyelipkan tangan ke saku celana, wajah tampannya tetap dingin dan angkuh, suaranya tenang, “Nanti lihat saja situasinya...”
“Baik, kalau ada perkembangan, aku kabari. Aku masih banyak urusan, aku pergi dulu.”
“Ya.”
Sejak pagi, Song Jinnian sengaja datang, khawatir gadis itu belum sarapan, ingin menanyakan mau makan apa. Meski tak ada cinta di hatinya untuk gadis itu, bahkan penuh kebencian, tapi kini ia adalah satu-satunya harapan hidup ibunya. Ia harus menjaganya baik-baik.
Siapa sangka, sebelum sempat mengetuk pintu, ia sudah mendengar ucapan An Zhiwei.
Keinginan untuk masuk pun sirna, ia menenangkan diri, lalu berbalik pergi.
Di dalam ruang perawatan, setelah mengingat kembali kenyataan masa lalu, emosi An Zhiwei tak juga reda.
An Yiqian pun tenggelam dalam duka. Walau tak pernah mengalami semuanya sendiri, tapi dari ucapan ayahnya, benaknya tak mampu menahan munculnya berbagai bayangan—ibu yang begitu canggung dan tertekan di hadapan nenek, ibu yang mengandung sendirian dan menghadapi cibiran serta gunjingan orang di sekeliling, ibu yang berjuang melahirkan dirinya dengan susah payah namun akhirnya harus menyerahkan putrinya pada keluarga An dengan hati hancur...
Saat itu, sang ibu pasti sangat menderita. Namun demi meredam amarah keluarga An, demi ayahnya tidak menanggung aib, ia rela menahan perih, mengorbankan anak sendiri, dan pergi seorang diri, meninggalkan tempat ini.