Bab 12: Mari Kita Urus Surat Nikah
Setelah tiga jam perjalanan, Lu Manman akhirnya tiba kembali di Shuzhou.
Begitu turun dari pesawat, ia langsung bersiap naik taksi pulang ke rumah, seluruh pikirannya benar-benar kacau. Jika bukan karena Qi Xiuyuan yang mendampinginya, mungkin ia sudah kebingungan dan berjalan memutar.
Di dalam taksi, Lu Manman terus-menerus mendesak sopir agar mempercepat laju kendaraan. Ketika masih melayang di udara, ia bisa menahan diri, bibirnya terkatup rapat, terlihat sangat tenang. Namun begitu menginjak tanah, ia kehilangan semua ketenangannya.
"Jangan panik, Man'er. Semakin panik, semakin mudah salah langkah," suara Qi Xiuyuan lembut menenangkan, sambil menggenggam erat tangan Lu Manman dan mengingatkan sopir untuk mengemudi dengan hati-hati.
Suara panggilan yang begitu akrab membuat Lu Manman sedikit melamun. Ia menahan air mata dan menatap pria di sisinya dengan suara gemetar, "Menurutmu, kenapa ayahku bisa pingsan? Bukankah dia hanya terluka di kaki? Bagaimana bisa tiba-tiba pingsan?"
Qi Xiuyuan bukanlah dokter, ia tak mampu menjawab pertanyaan Lu Manman, apalagi ia juga tidak tahu kondisi kesehatan ayah Lu. Merasakan tangan Lu Manman yang bergetar, Qi Xiuyuan menggenggamnya lebih erat dan berkata, "Jangan takut, ayahmu pasti akan baik-baik saja. Bukankah dia paling mengkhawatirkanmu? Dia belum bertemu denganmu, mana mungkin terjadi apa-apa padanya?"
Dalam situasi ini, selain memberikan harapan tersebut, Qi Xiuyuan tak bisa menjanjikan apa-apa lagi.
"Ya, kau benar! Ayahku belum bertemu denganku, mana mungkin ada apa-apa dengannya?" Lu Manman memaksakan senyum dengan suara yang serak.
Bulu matanya yang lentik terlihat berkilauan oleh air mata, Qi Xiuyuan yang melihatnya merasa hatinya terhimpit pilu.
Akhirnya mereka tiba di Rumah Sakit Pertama Shuzhou. Begitu turun dari taksi, mereka langsung bergegas ke ruang perawatan.
Di depan ruang perawatan intensif, Xia Lian dan Yang Ning sudah menunggu di sana.
Lu Manman mendekat dan akhirnya melihat ayahnya.
Kini, sang ayah tak lagi tampak tegas. Ia terbaring diam di ranjang rumah sakit dengan tabung oksigen, masih tak sadarkan diri.
Melihat pemandangan itu, Lu Manman menggigit bibirnya kuat-kuat. Bahunya bergetar hebat, namun ia bersikeras menahan tangis, seperti yang selalu ia lakukan sejak kecil.
Dulu, Lu Manman sering berkelahi dengan anak-anak di komplek. Anak-anak itu sering mengejeknya sebagai anak yatim yang tidak diinginkan, dan setiap kali mendengar hinaan itu, Lu Manman akan menerjang seperti harimau kecil yang marah, bertarung sampai mereka menarik kembali kata-kata mereka.
Menang atau kalah, ia akan memaksa lawan untuk meminta maaf. Ayahnya selalu berkata, ia bukanlah anak yang tidak diinginkan. Justru, ibunya mencintainya lebih dari siapa pun di dunia. Ibunya meninggal karena pendarahan saat melahirkannya, ia membawa cinta yang diperjuangkan ibunya dengan nyawa, siapa pun tak berhak mengatakan ia anak tanpa ibu!
Meski pakaiannya sering kotor, sebelum masuk rumah, ia akan membersihkannya dengan hati-hati. Ia selalu bersikap dewasa dan patuh, selalu menampilkan senyum di wajah, karena tak ingin ayahnya khawatir.
Hanya dalam beberapa hari terakhir, dan hanya di depan Qi Xiuyuan, ia membiarkan dirinya menangis tanpa kendali.
"Manman," panggil Yang Ning lembut, menepuk punggungnya menenangkan.
Lu Manman berbalik, bersandar di bahu Yang Ning, bertanya penuh penyesalan, "Kenapa? Pagi tadi saat kupergi, ayahku masih baik-baik saja. Kenapa bisa jadi begini?"
"Manman, ayahmu..." Xia Lian ragu-ragu membuka suara.
Baru beberapa kata terucap, ia kembali terdiam.
"Tante Xia, apakah ayahku sebenarnya punya masalah kesehatan? Dia bilang dia tidak sakit, hanya berbohong supaya aku pulang dan menikah. Tapi kalau dia baik-baik saja, kenapa bisa pingsan karena marah?" Lu Manman langsung memegang tangan Xia Lian.
Sebagai dokter, ia tak percaya orang bisa pingsan begitu saja tanpa alasan.
Xia Lian sempat ingin menutupi, namun pada akhirnya ia memilih untuk jujur.
"Kau benar, ayahmu memang mengalami masalah kesehatan. Awal tahun ini, ia didiagnosis mengidap tumor tulang, dan sekarang sudah terjadi komplikasi. Namun karena takut kau khawatir, ia memintaku untuk merahasiakannya. Alasan dia memanggilmu pulang bukan hanya supaya kau menikah, tapi karena dia takut tiba-tiba pergi, tak ada yang mengurusmu..."
Air mata menetes di pipi Xia Lian saat mengatakan itu, kabut duka juga menggelayuti mata Lu Manman.
Pantas saja... Pantas saja malam itu ayah berkata seperti itu...
Ayah selalu memikirkan dirinya, namun demi Zhao Siting, ia tega meninggalkan ayahnya selama delapan tahun!
Ayah adalah satu-satunya keluarga yang ia miliki di dunia ini!
Lu Manman melangkah ke sisi ranjang, lalu bersimpuh di lantai.
"Ayah, bangunlah dan marahi aku, seperti malam saat aku baru pulang, kau masih sangat bersemangat memarahiku! Aku janji tidak akan membantah! Asal kau bangun, aku akan menuruti semua keinginanmu, mau menikah atau apapun, semuanya terserah ayah, boleh?"
Lu Manman menggenggam tangan ayahnya, berusaha tersenyum sambil memohon.
Namun orang di atas ranjang tetap diam. Suasana di ruang rawat begitu sunyi dan menakutkan...
Hanya suara mesin pernapasan dan alat monitor detak jantung yang terdengar, napas saja nyaris tak terdengar.
Lu Manman tetap berlutut di depan ranjang, kedua tangannya mengepal erat.
Dada terasa sesak seperti tertindih batu besar, sampai ia hampir tak bisa bernapas.
Tiba-tiba, ia mendongak dan membenturkan kepalanya ke ranjang!
Terdengar suara keras, dan di pelipisnya muncul goresan darah.
Semua terjadi begitu cepat hingga Yang Ning dan Xia Lian terpana.
Qi Xiuyuan yang baru masuk ke ruangan melihat kejadian itu, ia langsung melompat dan menarik Lu Manman berdiri, memarahi, "Lu Manman, kau sudah gila?!"
Baru sebentar saja ia pergi, wanita ini sudah nekat melukai diri sendiri!
"Lepaskan aku! Ini semua salahku, aku yang membuat ayah terbaring di sini," Lu Manman menangis dan memohon.
Qi Xiuyuan mencengkeram bahu Lu Manman erat-erat, menatap tajam dan membentak, "Tenangkan dirimu! Kau lupa apa yang sudah kukatakan sebelumnya? Kalau kau sampai kenapa-kenapa, siapa yang akan mengoperasi ayahmu? Kau mau menyesal seumur hidup?"
Lu Manman menatapnya dengan mata kosong, dan melihat mata pria itu memerah karena marah.
"Benar, Manman, dokter-dokter di rumah sakit ini belum tentu sebaik dirimu. Kau bisa sendiri mengoperasi Paman Lu!" Yang Ning turut membujuk.
Yang Ning sangat mengenal kemampuan Lu Manman. Sejak kecil ia bercita-cita menjadi dokter, bahkan saat baru bisa membaca sudah mulai belajar ilmu kedokteran. Belum masuk universitas, semua pelajaran sudah dipelajarinya secara otodidak. Saat orang lain baru belajar di universitas, ia hanya butuh setengah tahun menyelesaikan semua mata kuliah dan langsung magang di rumah sakit.
Ahli medis terkenal di Yudu, Wei Guojia, mendengar tentang anak ajaib ini dan langsung menerimanya sebagai murid. Bukan hanya membimbing langsung di ruang operasi, ia juga mengirim Lu Manman ke luar negeri untuk belajar dan memberikan berbagai kesempatan.
Lu Manman tak hanya piawai di bidang ginekologi, tapi juga ahli bedah, dokter anak, dan pengobatan tradisional. Di usia baru dua puluh enam tahun, kemampuannya bahkan sudah melampaui gurunya.
Namun, Lu Manman memang tidak suka menonjolkan diri, ia sering bekerja atas nama sang guru, sehingga tak banyak orang mengenalnya.
"Benar juga, kenapa aku lupa? Aku bisa menyelamatkan ayah!" Lu Manman akhirnya sadar, air matanya menetes lagi, tapi kini ia tertawa dan memeluk Yang Ning.
Ketika menoleh ke arah ‘Yan Xiaoqi’, ia mendapati wajah pria itu masih gelap. Ia mengangkat tangan hendak berterima kasih, tapi akhirnya menahan diri, menyeka air mata, dan berkata manis, "Eh... itu... terima kasih!"
Wajah Qi Xiuyuan tetap tidak membaik meski sudah diucapkan terima kasih.
Ia menarik Lu Manman ke dalam pelukannya, sambil hati-hati membersihkan luka di pelipisnya, lalu membisikkan ancaman lembut di telinganya, "Kalau kau nekat lagi, lihat saja, nanti pantatmu kubuat bengkak!"
"Tidak akan! Sungguh tidak akan!"
Mengingat kejadian di depan asrama, Lu Manman melambaikan tangan dengan canggung dan tersenyum kikuk.
Begitu ia bergerak, tangan Qi Xiuyuan menyentuh lukanya, membuatnya meringis kesakitan.
"Sakit?" Qi Xiuyuan langsung mengerutkan dahi, meniup luka itu dengan lembut, lalu berkata, "Lukamu harus segera diobati, kalau tidak nanti ada bekas luka!"
"Tidak bisa, aku harus segera menyiapkan operasi!" Lu Manman menolak.
Tapi setelah berkata demikian, ia langsung tersadar, "Bagaimana ini? Aku bukan dokter di rumah sakit ini, mereka pasti tidak mengizinkan aku menjadi operator utama!"
Rumah sakit punya aturan, ia bukan dokter di sana, jadi tak punya hak untuk menangani operasi.
"Tenang saja, semua sudah kuatur, para dokter sedang menunggu, operasi bisa segera dilaksanakan. Tapi kau harus obati dulu lukamu, kalau tidak kau tak boleh masuk ruang operasi!" Qi Xiuyuan berkata tegas.
Tadi ia memang keluar untuk mengurus hal itu. Siapa sangka, baru sebentar ditinggal, Lu Manman sudah berbuat nekat.
Lu Manman menatap pria di depannya dengan takjub. Ia tidak tahu bagaimana bisa pria itu mengurus semuanya dalam waktu singkat, tapi ia percaya kemampuan Qi Xiuyuan.
Hatinya dipenuhi rasa syukur, tanpa sadar matanya berair lagi.
"Yan..."
Baru hendak memanggil nama itu, Qi Xiuyuan langsung menempelkan jari panjangnya di bibir Lu Manman.
"Kau pasti mau berterima kasih lagi, kan?"
"Ya!"
"Aku tidak pernah menerima ucapan terima kasih secara lisan, kau lupa?"
Qi Xiuyuan tersenyum nakal, membuat pikiran Lu Manman langsung kembali ke malam itu.
"Kau... gila!" Lu Manman langsung memerah, "Aku tak mau bicara lagi, aku mau bersiap operasi!"
"Pergilah! Semangat."
Qi Xiuyuan menepuk lembut kepalanya, memberi semangat sambil tersenyum.
Menatap mata pria itu yang penuh kelembutan, Lu Manman baru sadar bahwa ia hanya berusaha mengalihkan kegugupannya.
Hangat menyelimuti hati Lu Manman, ia menatap Qi Xiuyuan dan tiba-tiba berkata serius, "Setelah operasi selesai, kita menikah, ya!"
Qi Xiuyuan tertegun, tak menduga ia akan berkata begitu di saat ini.
"Baik!"
Beberapa detik berlalu, ia menatap Lu Manman dan mengangguk penuh kesungguhan.