Bab 29: Burung Kecil yang Tak Tahu Duduk Perkara
Halaman (1/3)
Bahkan Wu Lanyuan, yang selama bertahun-tahun selalu mampu mempertahankan ketenangannya, tak urung hatinya bergejolak saat ini.
“Apakah rasa suka para manusia ikan memang sesembarangan itu?” Bai Mingchen mengangkat cangkir dan menyesap air. Air dingin itu mengalir ke tenggorokan lalu merangsang lambungnya, barulah kegelisahan langka dalam hatinya sedikit tertekan.
Bi Jingyan tercengang sampai-sampai mulutnya seolah dapat dijejali sebutir telur. Dengan nada tak percaya, ia berkata, “Betina kelas S saja tak kaulirik sedikit pun. Baru beberapa hari mengenal betina kelas D, kau sudah tergila-gila?”
“Sedikit koreksi, sekarang dia kelas B.”
Li Su menyipitkan mata. Di bawah cahaya lampu, sepasang mata birunya memantulkan kilau biru tua yang suram. Ia sama sekali tak memedulikan penghinaan mereka.
Pupil Qing Zhi yang berwarna hijau tinta tampak gelap dan dalam. “Apa yang terjadi saat kalian keluar tadi pagi?”
Li Su bersandar pada kursinya dan dengan tenang menatap balik sorot mata semua orang yang membara. Senyum mulai menghiasi wajahnya.
“Selain itu, tak ada yang bisa kuberitahukan. Aku hanya ingin mengingatkan kalian agar menjaga jarak dari pasangan betinaku. Aku tidak punya kebiasaan berbagi pasangan betina dengan suami binatang lain.”
Bintang Ujung membekali setiap betina dengan begitu banyak manusia binatang, pertama-tama untuk meningkatkan angka kelahiran, dan kedua karena para betina relatif lemah sehingga membutuhkan perlindungan dari para suami binatang.
Menurutnya, kekuatannya sendiri sudah lebih dari cukup untuk melindungi Sang Tian. Keberadaan orang lain sama sekali tidak diperlukan.
Li Su tersenyum tipis. Senyumnya tampak memikat sekaligus licik, sementara sepasang mata yang tadi masih menyimpan tawa seketika berubah serius.
“Bagaimanapun, kalian juga berniat bercerai dari pasangan betina, bukan?”
Saat mengajukan pertanyaan itu, pandangan Li Su menyapu keempat orang di hadapannya. Tiba-tiba hawa dingin menyergap dapur. Ini lebih pantas disebut sebagai interogasi daripada pertanyaan biasa.
Melihat reaksi Li Su, keempat orang lainnya tahu bahwa ia benar-benar bersungguh-sungguh.
Bai Mingchen menjadi orang pertama yang menjawab. Wajahnya menunjukkan kejengkelan. “Kebetulan sekali, aku juga tidak punya kebiasaan berbagi pasangan betina. Tenang saja, aku selalu menginginkan yang terbaik. Seorang pasangan betina kelas B belum cukup untuk menarik perhatianku.”
Dalam beberapa hari terakhir, keinginan Bi Jingyan untuk meninggalkan Sang Tian perlahan memudar.
Pengkhianatan saudaranya saja belum sempat ia cerna, kini saudaranya itu malah menyuruhnya menjaga jarak dari pasangan betina. Hal tersebut membuatnya tidak senang. Setelah ini, siapa yang akan memuji masakannya?
Melihat dua orang lainnya masih diam, Wu Lanyuan memecah suasana tegang dengan suara dingin.
“Dibandingkan pasangan betina, aku lebih menyukai binatang buas yang menantang. Bagiku, pasangan betina adalah sebuah belenggu.”
Sikap kedua orang itu sudah sangat jelas. Sebaliknya, Qing Zhi dan Bi Jingyan masih belum juga menyatakan pendirian, sehingga wajar jika orang-orang mulai berpikir macam-macam.
“Kau menyukainya, tapi belum tentu dia menyukaimu. Jangan terlalu cepat menyimpulkan. Aku sudah kenyang, kalian lanjutkan saja.” Qing Zhi bangkit. Kaki kursinya bergesekan dengan lantai licin dan mengeluarkan suara berdecit yang menusuk telinga.
Pupil Bi Jingyan sedikit menyusut. Wajahnya menampakkan ekspresi ingin menonton keributan. “Ck, ck. Sepertinya seseorang akan mulai memicu pertikaian internal.”
Halaman (1/3)
Halaman (2/3)
Ia mengabaikan wajah Li Su yang menggelap.
“Aku juga sudah kenyang. Kalian lanjutkan saja.”
Li Su tidak mengamuk seperti yang dibayangkan. Ia hanya meninggalkan satu kalimat sebelum beranjak dari meja makan.
Kini di meja makan hanya tersisa tiga orang. Dengan penuh minat, Bi Jingyan bertanya, “Kali ini ada yang mau bertaruh? Menurut kalian, apakah si ular hijau kecil yang akan merebut hati pasangan betina, atau si manusia ikan kecil?”
Bai Mingchen teringat jawaban Qing Zhi tadi. Senyum tipis mengembang di sudut bibirnya. “Maaf, Burung Kecil. Taruhan ini tidak menarik. Aku tidak ikut.”
“Bagaimana bisa tidak menarik? Ini jauh lebih seru daripada aksi pamer pasangan betina tempo hari, bukan? Peramal Ulung Qing Zhi dan Li Su berebut pasangan betina. Kau yakin tidak mau mempertimbangkannya lagi?”
Bi Jingyan mulai membujuk Bai Mingchen untuk memasang taruhan. Sorot matanya seolah berkata, “Ayolah, ayolah.”
Ia juga tidak lupa menarik Wu Lanyuan ke dalam taruhan tersebut.
“Kau juga merasa ini tidak menarik?”
Wu Lanyuan, yang biasanya tampak tak berminat pada apa pun, tiba-tiba menunjukkan ketertarikan. Setelah berpikir sejenak, ia berkata, “Aku bertaruh. Aku memilih Li Su.”
“Lihat, bahkan harimau hitam kaku ini saja tertarik. Kau masih belum tergoda? Kalau tergoda, harus segera bertindak!” Bi Jingyan masih mengincar gudang senjata milik Bai Mingchen.
“Aku tidak bertaruh. Pecandu judi selalu berakhir tanpa memiliki apa-apa.” Bai Mingchen tetap teguh pada pendiriannya.
Setelah itu, Bai Mingchen meninggalkan meja makan.
Bi Jingyan benar-benar tidak habis pikir. “Rubah tua Bai Mingchen ternyata juga pernah ragu?”
“Sekarang masih bisa mengubah taruhan?” Wu Lanyuan menyadari ada sesuatu yang janggal dan bertanya kepada Bi Jingyan yang masih belum memahami keadaan.
“Kenapa kau tiba-tiba berubah pikiran? Mau menggantinya menjadi Qing Zhi?”
“Aku ingin menggantinya menjadi Bai Mingchen.”
Raut penuh selera humor di wajah Bi Jingyan lenyap tanpa jejak saat mendengar nama Bai Mingchen. Ia menoleh dan menatap pintu kamar Bai Mingchen dengan heran.
“Kau bertaruh pada naga licik itu?!”
Setelah Wu Lanyuan pergi, di meja makan hanya tersisa Bi Jingyan yang masih kebingungan. Jelas-jelas Bai Mingchen tidak termasuk dalam pilihan taruhan. Apakah harimau bodoh ini memang tidak mengerti ucapan manusia?
Di tempat lain, Sang Tian masih belum tahu apa yang terjadi di lantai bawah.
Ia sedang sibuk menghidupkan percakapan di dalam grup dan melayani para pelanggan besarnya.
Halaman (2/3)
Halaman (3/3)
Di dalam sebuah grup bernama “Perdagangan Daring Valerian”, setiap detik selalu muncul beberapa pesan baru. Pesan-pesan itu bergerak sangat cepat. Sebagian besar anggota menanyakan kapan barang akan tersedia.
Sang Tian sedang membuat formulir pendaftaran. Setiap formulir hanya dapat dikunci oleh satu pengguna. Jika pengguna A telah memilih suatu barang, pengguna B tidak dapat mengambilnya lagi.
Formulir itu juga dapat diawasi melalui sistem pengelola. Jika sudah lebih dari sehari pengguna belum membayar uang muka, ia dapat menghapus nama pengguna tersebut.
【Kesederhanaan adalah Jalan Agung (Pemilik Grup)】: [Antrean Valerian.xlsx]
Begitu formulir dikirimkan, grup itu seketika hening. Sang Tian membuka halaman pengelolaan dan mendapati enam ratus betina sedang mengisi formulir secara daring. Dari yang semula kosong hingga memenuhi satu halaman, antusiasme mereka sungguh mengejutkan.
【Kesederhanaan adalah Jalan Agung (Pemilik Grup)】: Barang akan tersedia seminggu lagi. Setelah itu, semua transaksi dilakukan secara daring melalui sistem awan. Harap ikuti urutan dengan ketat.
Pesan-pesan kembali bergulir. Sebagian besar mendukung aturan berdasarkan urutan, sementara beberapa orang mengeluhkan kecepatan tangan mereka yang lambat sehingga mendapat nomor antrean di atas seratus.
Ada pula yang terus mendesak Sang Tian untuk memberitahukan kira-kira berapa banyak barang yang tersedia.
Sang Tian tidak menjawab. Kini ia sudah menguasai teknik menanam valerian. Sebaiknya ia tetap menyisakan sedikit misteri. Terlalu banyak bicara hanya akan membuatnya semakin mudah salah ucap.
Sampai saat ini, grup tersebut telah memiliki enam ratus tujuh puluh anggota. Dua pertiganya adalah betina yang sudah menikah, sedangkan sisanya adalah suami binatang mereka. Dengan alasan takut terlambat membalas pesan, setiap betina menarik seorang suami binatang untuk mengawasi grup.
Setelah formulir selesai diisi, Sang Tian beralih ke toko awan dan membeli sepuluh kantong benih valerian. Ia bersiap menanam valerian dalam skala besar.
Hanya saja, tanah hitam yang tersedia terlalu sedikit. Akan jauh lebih baik jika luasnya dapat diperbesar. Dengan begitu, ia bisa langsung memonopoli pasar di seluruh benua.
Sang Tian memasuki ruang itu sambil membawa pertanyaan tersebut.
Tanah hitam itu berbentuk persegi, kira-kira seluas dua puluh meter persegi. Dari valerian yang ditanam sebelumnya, hanya tersisa sekitar sepuluh batang. Tanaman-tanaman itu hanya menempati sudut kecil tanah, tetapi tempat tersebut tampaknya masih nyaris cukup untuk menampung semuanya.
Sang Tian mulai menaburkan benih. Seluruh benih valerian yang baru dibelinya ia sebarkan ke tanah.
Untuk menyiramnya, ia menggunakan air mata air spiritual. Sambil memandangi tanah hitam yang warna gelap-terangnya tidak seragam, Sang Tian tak kuasa menghela napas.
Ternyata ia memang tidak ditakdirkan menjadi kapitalis kejam. Jika menghitung biaya air mata air spiritual dan tanah hitam subur yang langka ini, menjualnya seharga lima ribu kristal spiritual pun masih akan sangat menguntungkan.
Setelah lelah bekerja, ia duduk di tepi sungai dan merendam kakinya. Kedua kakinya masuk ke dalam aliran air yang jernih. Rasa sejuk yang nyaman mengalir ke seluruh tubuhnya, membuatnya merasa rileks.
Sang Tian berbaring di padang rumput sambil menghirup aroma bunga dan rerumputan. Dengan kedua tangan menyangga kepala, ia mulai menghitung dalam hati keuntungan yang dapat diperoleh dari valerian.
Halaman (3/3)