Jilid Satu Bab 1: Cinta Masa Kecil vs Cinta Datang Tiba-tiba
Udara musim gugur di ibu kota pada bulan Oktober sudah mulai terasa dingin. Ketika Yulan tiba di stasiun setelah delapan jam menumpang kereta ekonomi, yang datang menjemputnya bukanlah Xi Mingzhou, melainkan angin dingin yang menusuk. Ia memeluk lengannya sendiri dan bergegas menuju halte bus, lalu mengeluarkan ponsel dan menelepon, “Aku sudah di pintu keluar selatan stasiun, kamu di mana?”
“Sayang, apa kamu tidak salah lihat? Di sisi kereta cepat tidak ada pintu keluar selatan.”
Yulan terdiam sejenak. “Sudah sejak beberapa hari lalu aku bilang, tiket kereta cepat habis saat libur nasional, jadi aku naik kereta biasa.”
Xi Mingzhou di seberang sana tertawa canggung. “Beberapa hari ini aku agak sibuk sampai lupa, jangan marah ya, sayang. Tunggu saja di situ, setengah jam lagi aku pasti sampai.”
Benar saja, setengah jam kemudian Xi Mingzhou tiba tepat waktu.
Yang menjemput Yulan adalah sebuah mobil sport mungil berwarna merah dengan atap terbuka, dua pintu, mencolok dan penuh gaya di bawah sinar matahari, sangat cocok dengan kepribadian Xi Mingzhou yang berani dan hangat.
Yulan dengan hati-hati menutup pintu mobil. Begitu ia duduk, atap mobil langsung tertutup.
Sebuah kecupan mendarat di keningnya.
Mata Xi Mingzhou berbinar-binar. “Bunga kecilku, aku sangat merindukanmu.”
Yulan mendorongnya pergi. “Jangan gombal, tiga hari lalu kita masih bertemu.”
Sudah satu setengah tahun mereka bersama, beberapa aksen bicara Yulan pun secara halus terpengaruh oleh Xi Mingzhou.
“Bungaku begitu memesona, sehari saja tak bertemu aku sudah rindu setengah mati, apalagi tiga hari. Aku rindu hingga hati ini perih.”
Mendengar rayuan itu, hati Yulan jadi manis. Xi Mingzhou memang tampan, dan bila ia melontarkan kata-kata cinta, mata sipitnya yang mirip bunga persik itu seolah berpendar penuh bintang.
Yulan mencubit pipinya dan langsung memutuskan memaafkannya.
Namun, kalimat Xi Mingzhou berikutnya kembali membuat hati Yulan bergejolak.
“Aku ingin kau bertemu pamanku dulu,” ujarnya sambil meneliti penampilan Yulan dari atas ke bawah.
“Bukannya mau bertemu orang tuamu?”
Ia mengalihkan pandangan, menggaruk hidung, “Mereka sedang di luar negeri, belum bisa pulang.”
Perasaan diperiksa dan dibohongi itu membuat Yulan mengernyit.
“Kamu tidak cocok pakai baju itu untuk bertemu pamanku. Sini, cium dulu kakakmu ini, nanti aku belikan baju baru.” Ia sambil menunjuk pipi kirinya.
Yulan menunduk menatap setelan krem yang dikenakannya. Setelah semalam naik kereta, bagian bawah rok itu memang sedikit kusut. Padahal harga baju itu hampir sejuta, sudah paling layak di antara koleksi baju daring miliknya.
Ia bukan tipe yang suka menyembunyikan perasaan, rona wajahnya langsung berubah. “Kupikir bertemu ayahmu harus mandi dan ganti baju, tak kusangka bertemu pamanmu juga harus begitu.”
Xi Mingzhou langsung memahami sindiran itu. Ia buru-buru tersenyum, “Jangan marah, sayang. Aku hanya khawatir kamu kedinginan, suhu sekarang beda pagi dan malam.”
Ia sengaja menirukan logat khas ibu kota, menanggapi ledekan “ayah raja” Yulan.
Xi Mingzhou sudah memberikan jalan damai, Yulan pun tidak memperpanjang urusan dan bertanya hal yang ia ingin tahu, “Pamanmu orangnya mudah diajak bicara? Bagaimana kalau dia menyodorkan cek lima ratus juta supaya aku meninggalkanmu?”
Mata Xi Mingzhou melengkung lucu. “Kamu kebanyakan nonton drama luar negeri, isi kepalamu apa sih?” Ia berhenti sejenak, lalu dengan serius berkata, “Paling dia tanya kamu punya rekening perusahaan atau tidak, habis itu transfer dan minta kamu buatkan faktur.”
Yulan akhirnya tak tahan dan tertawa.
“Tuh, senyummu cantik sekali, benar-benar secantik bunga Yulan.”
Mobil berhenti dengan mulus di parkiran basement pusat perbelanjaan SKP. Xi Mingzhou mencondongkan badan hendak mencium Yulan, memang ada sedikit nuansa rindu pasangan baru setelah lama tak bertemu.
Baru saja bibir mereka hampir bersentuhan, kaca mobil diketuk keras, membuat Yulan terkejut dengan matanya membulat, makin tampak manis. Xi Mingzhou menggoda sambil menutup mata Yulan dengan telapak tangan, berbisik di telinganya, “Habis sudah, ada wartawan gosip yang memotret kita dan mau memeras.”
Jantung Yulan berdegup kencang. Ia tahu betul Xi Mingzhou anak orang kaya, namun ini ibu kota, di sini mobil mewah berjejer di mana-mana, wartawan mana yang berani macam-macam?
Kaca jendela perlahan turun, suara serak menyeruak sebelum orangnya terlihat, “Xi Mingzhou, kamu mau mampus ya? Aku sudah nunggu kamu setengah jam.”
Yulan buru-buru menyingkirkan tangan Xi Mingzhou, lalu mendapati seorang perempuan dengan wajah tegas dan menawan, riasan yang sempurna, hingga gelombang rambutnya pun tampak tertata rapi.
Perempuan cantik itu sama sekali tidak melirik Yulan, melipat tangan di dada. “Ayo cepat, selesai belanja langsung pergi, waktu itu uang.”
Begitu Yulan turun, barulah perempuan itu menatapnya sekilas, “Ke Miu Miu saja, dia cocok dengan gaya itu.” Setelah itu ia berjalan mendahului, suara hak tinggi beralas merahnya berdentum-dentum di parkiran bawah tanah, seperti irama uang mengalir.
Xi Mingzhou menggenggam tangan Yulan. “Jangan pedulikan dia, memang begitu orangnya, matanya selalu di atas kepala.”
Baru setelah itu ia seolah ingat belum memperkenalkan mereka, lalu menarik Yulan mendekat, “Ini Li Xiwei, teman masa kecilku, kami tumbuh di lingkungan yang sama. Karena dia belajar desain dan punya selera bagus, aku sengaja memintanya menemani kamu memilih beberapa setelan.”
Lalu ia menatap Yulan, “Yulan, pacarku.”
Alis Li Xiwei terangkat, “Nama marganya siapa?”
Yulan mengisyaratkan Xi Mingzhou diam, lalu mengulurkan tangan memperkenalkan diri, “Halo, Kak Xiwei, namaku Yu Lan.”
Tatapan Li Xiwei jatuh pada tangan Yulan, lalu ia berbalik, “Namamu bagus, masih muda dan cantik pula.”
Yulan kurang menyukai sifat Li Xiwei. Ia sendiri orang yang berdagang, terbiasa ramah dan fleksibel. Sementara Li Xiwei tipe yang suka memandang rendah orang lain, jelas mereka bukan orang yang sejalan.
Meski kurang suka, harus diakui selera Li Xiwei memang hebat. Ia memilihkan dua setelan yang langsung membuat Yulan paham betapa benar pepatah “baju menunjang penampilan”.
Yulan memang cantik, bahkan menyebutnya ‘lumayan’ terasa merendah. Ia bisa membuat Xi Mingzhou, yang sudah banyak melihat gadis cantik, jatuh hati pada pandangan pertama, itu bukti wajahnya memang memesona. Bahkan setelah mereka resmi bersama, toko minuman susu yang ia kelola masih sering didatangi banyak mahasiswa pria.
Sementara itu, Xi Mingzhou berbicara dengan Li Xiwei di luar mobil.
Di dalam mobil, Yulan menatap saldo dompet digital setelah mengirimkan tiga puluh juta untuk Xi Mingzhou, hatinya terasa nyeri.
Entah apa yang mereka bicarakan, ketika Xi Mingzhou kembali, wajahnya agak muram. Yulan bertanya, “Kupikir hari ini bakal ada drama teman masa kecil yang menyulitkan pacar, ternyata tidak.”
Xi Mingzhou mengerutkan hidung, “Jangan sembarangan ngomong. Li Xiwei itu suka pamanku, dia ingin jadi tanteku.”
Kini giliran Yulan mengernyit, “Cantik begitu, kok suka pria tua?”
“Siapa bilang pamanku tua? Umurnya baru dua puluh delapan.”
Yulan mendecak, “Baru tahu dari kamu sekarang.”
Xi Mingzhou mencibir, “Aku tidak berani cerita, pamanku itu berdiri diam saja sudah bisa bikin semua mantan pacarku tergila-gila.”
Yulan langsung menangkap sesuatu, “Jadi kamu pernah bawa pacar lain ketemu keluarga?”
“Tentu saja, setiap pacarku memang niat untuk serius. Dulu Ketua Mao juga bilang, ‘Pacaran tanpa niat menikah itu hanya main-main.’ Aku ini orang serius.”
Yulan jadi tak bisa tersenyum lagi, hatinya pilu. Ia membuang pandang ke luar jendela, “Ayo, kita temui pamanmu yang dua puluh delapan tahun itu.”
“Tidak bisa sekarang, aku antar kamu ke hotel dulu. Dia ada urusan malam ini, bunga kecilku yang sedang mekar harus menunggu sampai besok.”